News

Abdi Karya tentang Whani Darmawan dan BoZ

Penjelajahan seorang seniman bisa berarti pertanyaan terus-menerus tentang kehadiran. Bukan hanya di panggung, tapi juga di kesehariannya. Panggung menjadi penting sebab disitulah ada moment “sekali untuk selamanya” atau mungkin “the eternal five minutes”. keseharian menjadi esensial karena disitulah ia menjadi manusia apa adanya.

Perihal “kehadiran” ini, dalam dunia seni pertunjukan hingga saat ini masih menjadi pertanyaan yang relevan untuk dibahas. bagaimana cara, metode, tekhnik, jalan yang ditempuh seorang penampil untuk menguatkan kehadirannya di atas panggung? Maraknya obrolan mengenai beragam jenis training for performer atau acting method di Indonesia dalam satu-dua dekade terakhir ini, sempat memunculkan pertanyaan, manakah yang cocok bagi seorang aktor atau penari atau mungkin pemusik?

baca juga : Proses Kreatif BoZ (4)

Pertanyaan ini sesungguhnya tidak hadir untuk mencari jawaban pasti. Layaknya labirin, jalan satu menyajikan jalan persimpangan jalan lainnya. Kadang mentok. Kadang menyesatkan. Kadang solutif. Kadang juga menawarkan pesona pemandangan indah, tapi seperti biasa, hanya sesaat, dan hakikatnya seperti itu. Sebab, jika berlama-lama dalam keindahan berkepanjangan, sang seniman akan terjebak dalam keasyikan memuji diri sendiri, seperti Narcissus memandang wajahnya ke telaga hingga lupa kalau hari sudah sore. Dan sifat ‘too much’ bukan hakekat zen.

Pertanyaan ini jugalah, sependek pengetahuanku dan pengamatan singkatku, membawa Whani Darmawan pada penyajian yang tidak biasa dalam karirnya sebagai aktor. Hafalan teks yang berlembar-lembar nyaris bukan masalah, gerak-gerak tarian pun cukup menubuh di dalam dirinya, sebagaimana ia pernah menjalani dunia kepenarian saat masih berstatus pelajar. Belum lagi dunia silat yang ia tekuni, bukan untuk kompetisi melainkan sebagai pengetahuan. Sejarah ketubuhan yang kompleks ini; tari-silat-teater, bukannya membuat Whani merasa cukup, tapi terkadang merasa semakin pusing dengan kompleksitas yang ditawarkan oleh masing-masing “jalan tubuh” ini. Namun, dibalik hal tersebut, kurasa, Whani menemukan kata kunci menarik yang menghubungkan satu dengan yang lain; nafas dan energi.

Saya tak mampu menjabarkan lebih jauh mengenai kedua hal yang barusan kusebutkan. Yang saya pahami, nafas dan energi adalah wujud kehadiran sesuatu. Energi selalu hadir, ada, namun menggerakkan sesuatu, energi dan nafas hadir hampir selalu bersamaan. Dalam tulisan singkat ini, saya hanya ingin menyampaikan pembacaanku mengenai proses karya Whani yang terbaru ini, yang sudah anda saksikan di ajang ARTJOG2019 di Jogja National Museum, pada malam 2 Agustus 2019 lalu.

Kata “magnetisme dalam tubuh” dalam lima tahun terakhir ini menjadi hal yang menggelisahkan Whani sebagai aktor. Catatan-catatannya telah berserakan dan menunggu untuk direspon. Catatan yang hadir di antara aktifitasnya sebagai penulis. Menurutku, Whani yang diberkahi keterampilan menulis, membuatnya bisa tetap tersadar pada jalur “penjelajahan terus-menerus”, bukan pada “penjelajahan yang menyiksa dan menyesatkan”. Silang sengkarut pikirannya bisa langsung dilebur dalam training sendiri atau latihan bersama dengan rekan-rekan seperguruannya di PGB Bangau Putih. Ia seperti survivor yang tahu membekali diri dengan tool atau gear saat menjelajah.

Nah, kembali ke karya terbaru Whani. Gagasan awal karya ini adalah Body of Zen, yang juga sempat dijadikan judul. Tubuh Whani yang memiliki sejarah tari-teater-silat, bermuara pada kegelisahannya untuk menghadirkan karya yang berbeda dari biasanya. Bukan maksud mengikuti kecenderungan seni cross-discipline yang belakangan ini menjadi trend, namun lebih bertumpu pada pertanyaan mendasar dia yang sempat disinggung di awal tulisan ini.

Zen yang ia pahami bukanlah sebagai bentuk melainkan sebagai cara pandang. Adalah upaya melihat sesuatu dibawah permukaan. Memahami yang terjadi dibalik tabir. Untuk mengujinya, dalam latihan, ia mencoba mengikuti kebiasaan dalam karya-karya sebelumnya; menawarkan gagasan, merancang struktur, bahkan mulai membahas sedikit hal yang sifatnya teknikal.

Ia berangkat dari aktifitas sehari-hari sebagai manifestasi zen. Bangun tidur, memasak, mandi hingga berangkat kerja. Siklus dalam ruang domestik ini yang ingin diolah. Seberapa besar energi dan nafas terolah dalam ruang sebesar tempat tidur. Sebanyak apa tubuh bergerak dalam dapur. Konflik eksternal dan internal apa yang bisa diolah dan dibagi ke penonton dan seterusnya.

Maka, dimulailah eksperimentasi-eksperimentasi. Pada awalnya, latihan penuh dengan keriuhan benda-benda, pemilihan warna, uji coba kostum juga obrolan beberapa narasumber dan repetisi adegan. Sempat dihadirkan dipan tempat tidur sebagai penanda siklus awal dan akhir, bath tub yang terbuat dari drum, sampur hingga tumpukan kerikil. Semua benda ini tadinya diharapkan memberi sensasi riuh dan siklus aktifitas sehari-hari, namun kami tersadar, ada jebakan bentuk dan cukup abai pada esensi gagasan zen itu sendiri; ketika bisa diwujudkan dalam bentuk, maka itu bukan zen. Hingga pada satu titik, atas provokasi seorang teman baik yang juga ‘promotor’ yang akan membawa karya ini ke perhelatan Asia Tri Festival di Jepang, Bambang Paningron, maka, Whani mencoba menyingkirkan benda-benda yang telah dilatihkan tadi. Hasilnya sangat mengejutkan, Whani seperti anak kecil yang menemukan mainan kesukaannya. Ia nyaris tampil polos, permainannya terasa sangat organik, ada ruang bertumbuh dan memberi peluang untuk mengambil resiko. Maka, dibungkuslah karya ini kedalam tajuk Wonderful Disorder sebagai refleksi atas fenomena kompleksitas manusia modern. Bukan untuk berada pada jalan suci, jalan pengasingan, tapi menawarkan perasaan serta energi yang berbeda untuk “hadir”.

Demikianlah, keterlibatan saya sebagai teman menonton latihan mas Whani yang berlangsung tiga bulan terakhir. Karya (sebut saja) performance ini masih berupa work-in-progress atau karya tumbuh. Sehingga kemungkinan berkembangnya masih terbuka lebar. Karya ini, sebagaimana zen yang tidak terduga, bentuk pertunjukannya nanti barangkali akan sangat berbeda. Memangnya sejak kapan sih, manusia nggak berubah?

Salam dari Indonesia timur, Lombok.
Abdi Karya, yg dilebeli dramaturg oleh aktor ‘gaek’ yang belum lekang oleh waktu. *

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.