Eduteater

Aktor Menurut Uta Hagen Part-2

Aktor Menurut Uta Hagen Part-2

Oleh: Eko Santosa

2. Imajinasi

Ketidaksepakatan Hagen akan ketergantungan pada bakat terkait erat dengan keharusan dan kemampuan aktor untuk berimajinasi. Bakat yang cenderung intuitif tidak memiliki persyaratan untuk menciptakan imajinasi senyata realitas. Oleh karena itulah, Hagen menghimbau aktor untuk terus-menerus belajar dan berlatih. Dari pengalamannya sebagai aktris panggung yang sudah berpengalaman, Hagen menemukan satu trik dalam setiap penampilannya. Ia bisa menduga dengan pasti reaksi penonton terhadap laku aksi yang ia bawakan. Dalam sebuah ending lakon di mana ia bermain, ia bisa menentukan apakah nantinya penonton akan terharu atau bangkit dan tepuk tangan. Trik ini memang memudahkan namun dengan begitu maka ia tidak lagi menghargai akting, karena akting menjadi tetap, telah mati. Hasil akhir dari kondisi ini adalah aktor lama kelamaan akan merasa jenuh. Berperan dengan demikian menjadi rutinitas sehingga tiada lagi aras seni di dalamnya.

Baru pada saat dirinya disutradarai oleh Harold Clurman[4] yang menerapkan pendekatan Stanislavskian, gairah senimannya kembali muncul. Clurman dalam menyutradarai tidaklah menentukan baris-baris kalimat dialog, posisi, dan gerak pemain. Hal yang sangat berlainan dari proses sebelumnya di mana sutrdara sudah menentukan semuanya dan pemain tinggal mengikuti. Pemain dengan demikian seolah sedang mengkonstruksi topeng yang akan dikenakannya. Penyutradaraan model Clurman tidak menghendaki aktor mengenakan topeng. Aktor harus benar-benar menjadi karakter yang diperankan, bukan sekedar mengenakan topeng karakter. Aktor tidak diperkenankan mempersiapkan bentuk. Clurman memberikan keyakinan pada aktor bahwasanya bentuk merupakan hasil akhir dari rangkaian kerja (proses) yang dilakukan.

Baca juga : Aktor Menurut Uta Hagen Part-1

Karena kesadaran barunya ini Uta Hagen kemudian terus berlatih, mengasah kemampuannya. Trik yang telah lama ia gunakan tidak ada gunanya lagi. Aktor harus selalu mempelajari sesuatu yang baru. Ketika wujud merupakan hasil dari proses, maka kata kuncinya adalah pada proses. Pengalaman artistik yang didapatkan ini menghadapkan Hagen pada dua patron dasar akting pada saat itu yaitu Sarah Bernhardt dan Eleonora Duse . Keduanya merupakan aktris besar dan dikagumi namun mereka memiliki pendekatan akting berbeda. Bernhardt adalah aktris yang flamboyan, eksternal, dan formalistik. Di sisi lain, Duse adalah seorang manusia (karakter) di atas panggung. Dalam memainkan peran yang sama pada produksi berbeda, tampilan dari dua orang aktris ini menghasilkan respon yang berbeda. Keduanya indah serta mengagumkan. Ekspresi Bernhardt menghasilkan tepuk tangan sambil berdiri oleh penonton atau pengagumnya. Sementara penonton akan hanyut dalam emosi yang diperankan oleh Duse. Kedua jenis ekspresi dalam berperan ini merupakan hal yang biasa dalam seni teater mengingat bahwa karya pemeranan sangatlah bervariasi tergantung konsep pemanggungannya. Namun bagi Hagen, ia lebih memilih Duse.

Duse selalu akan tampil beda dalam setiap perannya. Meski seringkali dituduh hampir selalu memiliki kesamaan dalam penampilan setiap peran, namun Duse selalu berperan dengan sepenuh jiwa. Totalitas Duse dalam berperan inilah yang membuat Hagen memilihnya sebagai sumber inspirasi dalam perannya baik sebagai seniman maupun pelatih teater. Kesungguhan jiwa atau totalitas inilah yang menegaskan pendapat Hagen bahwasanya bakat saja tidaklah cukup dalam berteater. Bakat bisa didapatkan sejak lahir sebagai pemberian Tuhan, sehingga semua orang memilikinya. Namun dalam berperan, bakat yang sejati adalah campuran antara sensitivitas, mudah tersentuh, kepekaan panca indera, kekuatan mencipta imajinasi senyata realitas, kehendak mengomunikasikan pengalaman dan sensasi pribadi, dan memampukan diri untuk dapat dilihat dan didengar (menarik perhatian). Kemampuan menciptakan imajinasi baik berbasis pengalaman atau stimulasi dari faktor eksternal memerlukan banyak kemampuan. Imajinasi senyata realitas tidak hanya menyangkut faktor ingatan namun juga pengetahuan guna membangun detail dari setiap peristiwa, subjek, objek, situasi, dan emosi di dalamnya. Dengan imajinasi semacam ini ditambah kemauan untuk membuka diri dan jiwa, ekspresi yang ditampilkan seorang aktor seolah nyata.

—————————————————
4. Sutradara dan kritikus drama. Dikenal sebagai salah satu pendiri Group Theater New York. Mempelajari ssitem Stanislavski melalui Boleslavski.
5. Aktris dari Perancis yang sangat terkenal pada akahir abad 19 dan awal abad 20, merupakan figur akting formalistik dan mendapat julukan sebagai ratu pose dan gestur.
6. Aktris dari Italia yang dianggap sebagai aktris terbaik sepanjang masa karena ketotalannya dalam berperan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.