Eduteater

Aktor Menurut Uta Hagen Part-3

Aktor Menurut Uta Hagen Part-3

Oleh: Eko Santosa

  1. Sudut Pandang

Sarana intelektual aktor merupakan hal pokok yang perlu diperhatikan. Dengan intelektualitasnya, seorang aktor dapat dapat mencerdaskan dirinya untuk berakting secara impulsif. Meski mentalitas aktor tersebut sedikit lemah misalnya, selama mental itu tak tumpul dan tak sensitif sama sekali, tetap saja akan menghasilkan sesuatu yang cemerlang jika ia mudah memahami perilaku manusia. Intelektualitas aktor adalah modal dasar untuk menentukan sudut pandang akan dunia yang melingkupi kehidupannya, lingkungan sosial di mana ia tinggal. Sudut pandang merupakan seni menentukan keputusan. Telisik karakter tekstual tidak akan pernah melahirkan gambaran nyata, sementara telisik kontekstual membutuhkan sudut pandang. Di mana posisi penelisik berdiri serta di sisi mana ia berpihak. Dalam proses terlisik semacam ini, aktor benar-benar tertantang untuk menentukan karakter sesuai sudut pandang yang ia miliki. Untuk menghidupkan tokoh, ia tidak semestinya hanya menerima arahan-arahan. Namun ia perlu menegaskan diri bahwa karakter yang ia perankan harus sesuai dengan sudut pandang yang ia miliki.

Seni peran sering terjebak pada pandangan yang tetap mengenai karakter. Seperti yang sering terlihat dalam pertunjukan teater amatir di mana karakter nenek atau kakek pasti memiliki suara serak dan jalan membungkuk membawa tongkat serta sering batuk-batuk. Setiap kali karakter nenek-kakek ini muncul selalu saja begitu, tidak peduli apa ceritanya. Seolah karakter telah tertetapkan dan diyakini secara umum. Penetapan karakter semacam ini seringkali terjadi, bahkan sering pula dijadikan ukuran keberhasilan mimetik pemeran. Sementara kalau dicermati dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang tua yang disebut nenek-kakek itu demikian. Ada orang yang baru berusia 65 tahun namun nampak renta dan tak berdaya karena faktor kesehatan tubuhnya. Namun ada orang yang berusia 75 namun masih nampak muda, segar-bugar dan dapat berjalan tegap serta bersuara lantang. Seorang aktor semestinya mendobrak status quo semacam ini, dan hal itu merupakan tindakan alami seniman. Sudut pandang dapat dihasilkan dari kehendak untuk mengubah pandangan sosial, suasana keluarga, kehidupan politik, keadaan lingkungan, bahkan kondisi teater itu sendiri. Dengan sudut pandang itu aktor memiliki keputusan fisiologis, psikologis, dan sosial karakter yang ia perankan.

baca juga : Aktor Menurut Uta Hagen Part-2

Secara lebih khusus, dalam seni peran seringkali keindahan dinilai dari gaya pemeran. Nilai keindahan akting kemudian tidak terkait langsung dengan penjiwaan karakter namun pada gaya tampilan aktor di mana gerak-gerik dan irama dialognya dibuat-buat. Posisi, pose, gestur dan dialog menjadi satu kesatuan tampilan berformula. Persis seperti yang diutarakan Hagen sebelumnya bahwa ia sering menggunakan trik untuk menarik minat penonton. Ketika hal ini sudah dipahamkan kepada khalayak bahwa seperti itulah keindahan akting, maka seperti itu pulalah yang akan berlaku. Oleh karena itulah, aktor yang memiliki kecerdasan dan mau membangun sudut pandang perlu melakukan perubahan. Bukan dengan jalan frontal atau bersifat kekerasan namun dengan karya peran yang baik. Perubahan terjadi kadang-kadang justru melalui sentilan lembut penuh makna. Memotret karakter sebagaimana adanya, memberikan cermin kepada masyarakat dapat pula dijadikan pernyataan untuk perubahan. Yang perlu diperhatikan sekali lagi adalah bahwasanya aktor harus memiliki sudut pandang sehingga pernyataan yang hendak disampaikan mewujud dalam ketepatan ekspresi pemeran di atas pentas.

Ketika seorang aktor telah menentukan pernyataan atau sesuatu yang akan diekspresikan, maka ia harus menentukan jenis teater yang tepat untuk mengekspresikannya di mana ia menjadi bagian integral dari teater itu. Di saat hal ini terjadi, Di saat itu pula  persoalan yang sesungguhnya dimulai. Penentuan pernyataan ini akan membawa sang aktor pada pilihan apakah ia akan menjadi seniman ataukah pekarya komersil. Dua hal yang sama-sama berat. Masing-masing memiliki konsekuensi tersendiri. Memasuki dunia komersial artinya bersiap untuk menghadapi problem praktis baik di teater, televisi atau film yang tidak akan pernah selesai. Namun memasuki dunia kesenimanan total sebagai aktor problem-problem tersebut akan berlipat ganda, tanpa henti dan senantiasa menyeret emosi, nyali, dan keinginan.

Dewasa ini semua jenis teater bisa diterima dan berkembang sesuai dengan karkaternya masing-masing. Seorang teaterwan sejati sering mengkritisi gedung teater komersial sebagai tempat yang terlalu mudah disewa hanya untuk sekedar rehat sementara, daripada disewa untuk mempersembahkan karya teater yang berbicara. Bagi Jean Louis Barrault[7] gedung teater menjadi seolah-olah garasi. Sebagai seniman yang memiliki bersudut pandang romantik, liberal dan semi mistik, Barrault melahirkan karya-karya sesuai sudut pandangnya dan berani bertentangan dengan karya-karya teater yang bersifat sosialis dan politis. Ia menjadikan gedung teater sebagai manifestasi dari gagasan dan pandangannya atas dunia. Dalam posisi seniman teater semacam Barrault ini, sudut pandang sangat penting karena itulah yang menjadikan setiap teater khas. Meski keadaan mulai berubah  sejalan dengan komersialisasi panggung, namun sudut pandang pribadi pekerja teater menjadi penentu atas tumbuh kembangnya tradisi berteater.

 

[7] Aktor, sutrdara, dan pemain pantomim berkebangsaan Perancis.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.