Eduteater

Aktor Menurut Uta Hagen Part-4

Aktor Menurut Uta Hagen Part-4

Oleh: Eko Santosa

4. Memahami Realitas

Pemahaman akan realitas memiliki kaitan erat dengan sudut pandang. Hagen mengutarakan bahwa dalam sejarah perkembangannya pernah terlahir kelompok teater yang memiliki sudut pandang kuat. Pertunjukan mereka bagus dan menjadi tolok ukur kekaryaan. Namun seiring dengan berkembangnya industri, individu yang cemerlang di bidang ini berpindah satu per satu untuk mengejar karir dalam pertunjukan komersial. Potensi teater semacam ini kemudian tertelan oleh hiruk pikuknya komersialisme. Kelangkaan individu hebat yang telah berpindah jalur menjadikan gedung pertunjukan teater sepi. Selain itu, teater di Amerika – sebagai contoh kasus –  ditinggalkan penonton karena selalu ingin menampilkan drama (lakon) yang indah (seperti di masa kejayaannya). Mereka lupa bahwa drama yang indah terkadang tidak memiliki sudut pandang untuk merefleksikan realitas keseharian masyarakat beserta permasalahannya. Mereka semestinya menghentkan rasa takut perihal indah dan tidak indah dalam berkarya dengan membangun pernyataan berdasar kenyataan yang mereka pahami. Dengan demikian, mereka akan menemukan penontonnya.

Untuk memelihara situasi idealistik diperlukan realisasi nyata akan kondisi yang ada. Bisa jadi realisasi nyata akan melahirkan tindakan oportunis, namun bisa juga melahirkan perlawanan dengan memanfaatkan karakter diri dan pengetahuan. Banyak orang bermimpi menjadi aktor besar. Akan tetapi apa yang dimaksudkan dengan “aktor” itu? Dalam kenyataan, banyak individu yang tidak memiliki kecakapan penuh sebagai aktor namun mampu menjadi bintang dalam pertunjukan komersial. Sementara di sisi lain, terdapat orang yang memiliki kompetensi aktor namun tidak kunjung pula dikenal. Inilah tantangan pertama yang perlu dihadapi seseorang yang berkehendak menjadi aktor. Tidak bisa keinginan itu hanya berdasarkan figur atau patron tertentu. Aktor bukanlah profesi yang bisa dicapai hanya dengan berharap dan berkhayal. Aktor memerlukan proses pemahaman yang hampir tiada henti.

Baca juga : Aktor Menurut Uta Hagen Part-3

Menjadi aktor tidak cukup hanya dengan memahami kemampuan diri; fisik, kejiwaan, dan kepintaran. Namun bagaimana cara menggunakannya untuk memahami kehidupan. Memerankan tokoh tidak hanya berbicara tentang tokoh yang hendak diperankan saja. Karakter dibangun oleh lingkungan dan budaya di mana ia tinggal. Keterangan-keterangan yang diberikan penulis dalam lakon ditambah dialog yang ada, belumlah cukup digunakan untuk memahami tokoh secara utuh. Berdasar pada problematika yang diutarakan Hagen, juga tentang sampelnya atas Duse dan Barrault, aktor diwajibkan memahami realitas secara menyeluruh. Realitas yang melingkupi dirinya secara menyeluruh terlebih dahulu. Pertama realitas kehidupan yang membentuk dirinya. Berikutnya adalah kenyataan dan alasan mengapa ia ingin menjadi aktor dihadapkan dengan kenyataan kehidupan aktor yang ada. Pemahaman akan kenyataan ini pada akhirnya akan membuatnya meneguhkan pilihan menjadi akor dalam jenis teater yang seperti apa sesuai dengan sudut pandangnya. Barulah setelah pilihan ditentukan, proses menjadi aktor ia jalani penuh dengan kemantapan.  Dengan memahami detil-detil proses yang dilalui untuk menjadi aktor, ia akan memiliki kedirian, karakter dan berada pada posisi sesuai.

Analogi pemahaman akan diri secara nyata beserta seluruh sensasi yang menyertainya dapat digunakan aktor dalam memahami kenyataan atau realitas peran. Detil proses pembentukan karakter yang tidak serta merta ini akan melahirkan dinamika perjalanan laku tokoh yang diperankan secara alami. Jika dalam studi lakon, aktor hanya berkutat pada teks, ia akan memiliki gambar (menghadirkan) tokoh sebagaimana diungkapkan dalam teks. Ketika pada akhirnya ia mematuhi hal tersebut, maka peran tekstuallah yang ia kerjakan. Artinya, peran bisa hidup secara tekstual namun belum tentu eksis secara kontekstual. Realitas selalu merupakan keterhubungan antara individu satu dengan yang lain, subjek satu dengan yang lain, serta persoalan satu dengan yang lain. Ia tidak pernah berdiri sendiri dan tetap. Keterhubungan membuatnya hidup, berkembang, dan berubah. Dengan memahami realitas, aktor mampu memahami peran secara menyeluruh sehingga benar-benar hidup.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.