Eduteater

Aktor Menurut Uta Hagen Part-5

Aktor Menurut Uta Hagen Part-5

Oleh: Eko Santosa

4. Kedisplinan

Hagen mencatat bahwa banyak sekali orang didera penyakit ingin cepat sukses dengan mengandaikan keterkenalan dan keberuntungan dalam bidang pemeranan. Menjadi aktor sukses adalah tujuan kompetitif yang selalu muncul sebagai pernyataan. Namun tentu saja harus ada harga yang dibayar. Figur aktor yang dapat disebut sukses sulit didefinisikan. Jika dianalogikan sebagai makanan; udang, daging kambing, daging sapi, ikan laut semuanya bisa jadi enak, namun manakah yang paling enak? Mungkin salah satu menu menjadi favorit bagi kelompok orang tertentu sementara kelompok lain memiliki menu favorit berbeda. Kita pun juga tidak akan bisa mengatakan siapakan yang aling hebat di antara Haydn, Mozart, ataupun Beethoven. Kita bisa saja menjadi pecinta salah satu dari 3 komponis besar dunia itu, namun bukan berarti yang lain bukanlah yang terbaik. Masing-masing menghasilkan karya terbaik mereka, bukan sekedar ingin menjadi terbaik. Dengan demikian, ukuran sukses tidak didasarkan atau mengacu pada siapa melainkan pada kerja terbaik yang dilakukan.

Seorang aktor sering merasa kebingunan ketika memerankan tokoh. Apakah figur tokoh  atau tindakan (pekerjaan) tokoh tersebut? Ia tidak sadar bahwa masing-masing sisi membutuhkan satu usaha untuk mencapainya. Hagen memberikan gambaran bahwa ia pernah tersentak degan ulasan kritikus yang menganggap permainanya jelek sementara aktor lain dianggap bagus. Padahal menurut Hagen, aktor yang dinilai bagus itu justru penampilannya sangat buruk menurutnya. Hal ini membuatnya kembali mengevaluasi pemikiran atau konsep akan pemeranan. Jika seorang aktor hanya berpegang pada kritik baik yang diberikan kepada orang lain, maka itu akan mempengaruhinya dalam menilai dirinya sendiri. Lalu, haruskah ia berkarya hanya agar mendapatkan nilai baik dari orang lain? Atas pertanyaan-pertanyaan ini Hagen memutuskan untuk mulai bekerja demi mencapai standar yang terencana dan bukan untuk menjadi figur tokoh ataupun melakukan tindakan tokoh yang akan diperankan. Aktor memulai kerja dengan dirinya sendiri. Tujuan harus ditetapkan sesuai dengan target capaian yang disepakati secara mandiri dan menjadikan kedua hal tersebut sebagai pendamping sejati selama berproses.

Berikutnya yang perlu dipahami adalah bahwasanya secara natural, aktor nampaknya berkembang secara lamban dan kurang disiplin. Padahal umum diketahui bahwasanya seorang penari profesional itu tidak akan menari jika tidak didahului dengan serangkaian latihan harian. Demikian pula dengan seorang musisi yang senantiasa melatih diri jauh sebelum konser digelar. Sementara itu, pekerjaan aktor sebelum mendapat panggilan umumnya adalah menunggu. Mereka semestinya menjaga dan melatih diri mereka selama menunggu dan tidak membuang-buang waktu yang dimiliki untuk berpesta atau bermain-main. Setiap orang memerlukan kedisiplinan diri secara total jika memang berkehendak menjadi aktor, tidak ada kata lain. Hal ini tidak didapatkan oleh aktor semenjak ia lahir. Aktor harus membangkitkannya. Tidak ada alasan bakat atau tidak bakat, disiplin diri terhadap kerja dengan senantiasa berlatih, fokus pada pekerjaan dan segala hal yang berhubungan dengan profesi aktor, dan dedikasi harus diciptakan.

Baca juga : Aktor Menurut Uta Hagen Part-4

Disiplin memang bukan perkara mudah, namun bagaimanapun juga harus dibangun oleh aktor itu sendiri. Kedisiplinan selayaknya menjadi budaya. Tanpa kedisiplinan diri yang tinggi mustahil aktor akan menghargai akting sebagai seni yang menghidupi jiwanya. Orang sering merasa bahwa jiwa seni peran itu ditentukan dari seberapa ia sering tampil di atas pentas atau menerima panggilan untuk berperan. Inilah kemudian yang digambarkan sebagai seniman yang sukses. Sementara jagad seni peran tidak membicarakan kuantitas produksi yang dikerjakan melainkan kualitas karya yang dihasilkan. Berapa sering kita saksikan figur aktor yang di banyak kesempatan tampil namun pada akhirnya terjebak permainan yang tipikal atau lebih parah lagi tak mampu mengembangkan dirinya ke tingkat lebih lanjut. Hanya itu-itu saja. Kondisi ini melemparkan kembali akting ke posisi awal, dimana bisa dikerjakan karena biasa atau bakat semata. Sebagai seni yang tumbuh berkembang sejalan kehidupan manusia, akting akan selalu melahirkan hal-hal baru. Hal-hal yang tidak bisa dihayati dengan hanya menunggu panggilan atau ditampilkan sebagaimana biasanya. Hal-hal yang senantiasa membutuhkan pendekatan, pembelajaran, dan perlakuan baru pula. Oleh karena itu, mendisiplinkan diri untuk selalu terhubung dengan segala hal mengenai seni peran adalah keniscayaan bagi aktor.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.