Eduteater

Aktor Menurut Uta Hagen Part-7

Aktor Menurut Uta Hagen Part-7

Oleh : Eko Santosa

7. Ilmu Pengetahuan dan Penyempurnaan Perangkat Eksternal

Hagen menyampaikan bahwa aktor tidak bisa berkembang tanpa melatih dan mencerdaskan dirinya sendiri. Dalam bahasan ini Uta Hagen mendahulukan kepentingan untuk memperkaya ilmu pengetahuan sebelum menyempurnakan perangkat eksternal aktor yaitu tubuh dan suaranya. Secara ideal menurut Hagen, aktor muda harus senantiasa berproses dan medalami ilmu pengetahuan seperti sejarah, sastera, bahasa, dan cabang-cabang seni yang lain. Pengetahuan menjadi sangat penting artinya bagi aktor dalam memahami realitas lakon dan karakter yang akan diperankan. Keharusan menyatakan imajinasi atau menampilkan peran secara nyata tentu saja membutuhkan latar pengetahuan atas apa yang harus dilakukan, ucapkan atau ekspresikan. Seorang aktor tidak cukup hanya mempelajari segala sesuatu dari lakon. Karena apa yang dituliskan dalam lakon tidaklah mencakup keseluruhan dari apa yang dipersoalkan. Oleh karena itulah diperlukan pengetahuan pendukung. Pengetahuan dapat dipelajari baik melalui kelas belajar (sekolah atau kursus), buku atau media yang lain. Proses mempelajari ilmu pengetahuan ini harus dibiasakan sehingga tidaklah berhenti atau menjadi beban ketika harus melaluinya. Seorang aktor sepanjang karirnya bisa memerankan tokoh dari beragam latar belakang pemikiran, pekerjaan, konsep hidup, dan lain sebagainya. Semua hal tersebut tidak serta merta dimiliki sejak lahir. Semuanya perlu dipelajari dan pengetahuan dapat membangun penalaran, sesuatu yang sangat berguna bagi aktor dalam berperan.

Setelah memahami pentingnya pengetahuan hal esensial lain yang wajib dikerjakan aktor adalah latihan dan berusaha menyempurnakan instrumen eksternal yang dimiliki. Instrumen ini bagaikan alat musik yang digunakan atau dimainkan di atas pentas. Jadi, aktor harus menjaga dan memeliharanya dengan baik. Tanpa instrumen ini ia tidak akan mampu berekspresi sempurna. Banyak aktor yang menjaga kebugaran tubuhnya dengan berlatih gimnastik, menari, anggar, dan jenis olah tubuh lainnya. Demikian halnya dengan kualitas suara, aktor harus benar-benar membinanya. Berlatih secara serius melalui para ahli mengenai produksi suara dan wicara yang tepat serta terstandar. Kecakapan instrumen eksternal ini diperlukan untuk memberikan kelenturan respon terhadap tuntutan fisik dan psikologi peran yang dimainkan. Banyak aktor muda yang terlalu malas untuk melatih tubuh dan suaranya sehinga memaksakan peran menyesuaikan kemampuan dirinya. Padahal seperti umum diketahui bahwa aktor yang baik akan mampu membawakan peran secara alami. Misalnya secara alamiah, peran tersebut berlatar belakang Betawi, maka aktor harus melatih kecakapan tubuh dan suaranya untuk mencapai ekspresi alamiah orang Betawi. Karena kemalasan atau kekurangmauan berusaha sering peran tersebut diadaptasi agar sesuai dengan kemampuan sang aktor. Ini yang semestinya dihindari oleh aktor.

Baca juga : Aktor Menurut Uta Hagen Part-6

Di sisi lain, kecantikan fisik dan keindahan suara seseorang bukanlah sesuatu yang diperlukan secara wajib untuk menjadi aktor. Meski dalam khasanah teater konvensional hal ini merupakan salah satu prasyarat untuk menjadi tokoh tertentu, namun hal itu bukanlah jaminan kualitas. Kecantikan atau ketampanan fisik seorang aktor justru sering membuatnya lemah dan mudah ditaklukkan karena ia gampang pasif dengan berharap orang lain memperhatikannya, bukan ia yang mencoba meraih perhatian orang lain. Dengan kelebihan fisik itu, ia menjadi merasa bahwa selalu diperhatikan. Kecantikan dan ketampanan sesungguhnya tercipta melalui penampilan peran yang menarik minat penonton. Ketertarikan itu diusahakan bukan tiba-tiba dan tanpa berlaku apapun. Hagen memberikan gambaran yang tepat untuk keharusan berusaha ini dengan analogi seorang bayi belajar melakukan sesuatu hal untuk menarik perhatian yang lain. Bahkan kita pun sering berbuat hal-hal lucu hanya untuk menarik perhatian seorang anak. Intinya, tidak ada sesuatu yang diraih jika kita tidak melakukan apapun. Bagaimana bayi belajar menarik perhatian memberikan contoh pada aktor bahwa untuk mengucapkan satu kalimat dialog pun ia harus belajar.

Hagen menjabarkan gambaran umum mengenai aktor melalui realitas hidup yang harus dijalani oleh seseorang sejak ia menentukan dirinya menjadi aktor. Bukan saja sisi baik dan kenyamanan yang didapatkan seorang aktor yang telah sukses, namun juga bagaimana seseorang mesti berjuang untuk menjadi aktor. Sebagai sebuah profesi aktor tidak bisa dipandang remeh, namun aktor pun harus menghargai pekerjaanya yaitu akting. Sebab jika ia meremehkan pekerjaan tersebut, maka orang lain (penonton) pun akan demikian. Jika hal ini terjadi, maka teater di mana aktor itu berakting akan sepi penonton. Penghargaan terhadap akting ini merupakan keharusan. Tidak bisa tidak. Untuk menghargai akting seorang aktor harus bersedia bekerja keras serta senantiasa berlatih dan belajar. (**)

 

Bacaan utama:

Uta Hagen, Haskel Frankel. Respect for Acting. 1973. John Wiley and Sons, Inc. New Jersey.

Rujukan:

https://en.wikipedia.org/wiki/A_Challenge_for_the_Actor
https://en.wikipedia.org/wiki/Eleonora_Duse
https://en.wikipedia.org/wiki/Harold_Clurman
https://en.wikipedia.org/wiki/Jean-Louis_Barrault
https://en.wikipedia.org/wiki/Respect_for_Acting
https://en.wikipedia.org/wiki/Sarah_Bernhardt
https://en.wikipedia.org/wiki/Uta_Hagen

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.