Monolog

Aladin – Monolog Whani Darmawan

DI SEBUAH RUMAH BUTUT, ALADIN TERMANGU DI  DEPAN SEBUAH ALMARI BUTUT YANG PINTUNYA TERBUKA DAN MEMPERLIHATKAN ISINYA YANG KOSONG. SEBUAH BENDERA ATAU PANJI-PANJI DENGAN TIANG KEROPOS BERDIRI DOYONG DI RUANGAN ITU.

Apa salah saya? mereka semua tahu saya menemukan lampu wasiat dan di dalamnya ada Jin. Itu membuat saya kaya. Lalu apa salah saya? sudah pasti ini ulah penyihir goblok itu. Jika ia memang penyihir, kenapa ia hanya mampu membuka pintu gua dan mendorong saya masuk untuk mendapatkan lampu wasiat itu? Kenapa jika ia memang penyihir masih membutuhkan saya sebagai alat?

Apa salah saya? saya kaya karena saya memelihara Jin? Tentu saja, tak tanggung-tanggung, Jin! Bukan lagi tuyul, jin! Lalu puteri Yasmin jatuh cinta kepada saya dan saya pun jatuh cinta kepadanya! Lalu apa salah saya? lebih-lebih Raja Ali Alamsyah menyetujuinya. Lalu apa salah saya? saya kaya dan kemudian teman saya pun rombongan orang kaya. Saya masuk ke kelas sosial atas. Maka saya memegang kunci-kunci pundi-pundi dan sukses yang diinginkan oleh setiap orang. Saya menjadi menanti Raja Ali Alamsyah, sehingga siapapun yang akan berhadapan dengan mertua saya harus berhadapan dengan saya? lalu apa masalahnya?

“bukan. Ini bukan soal kamu kaya. Ini soal ideologi.” Kata Abu sahabat saya.

Ideologi? Ideologi apa? Jangan menggelikan saya.

“Apa hakmu menjadi palang pintu kesuksesan orang lain?”

“Karena saya memang pemegang kunci masuk kepada Raja Ali Alamsyah.”

“Ya, tapi apa hakmu?”

Karena saya menan…….

“Menantunya? Kamu salah!”

Saya sungguh tak mengerti yang dimaksudkan oleh Abu. Coba saya ulangi ; saya menemukan keberuntungan dalam lampu wasiat yang ada jinnya. Jin itu yang membuat saya kaya. Kekayaan itu yang mengantarkan saya pada semua relasi yang superkaya pula. Mereka punya sejumlah program-program politik, kebudayaan, sosial dan lain sebagainya? Bagaimana mungkin orang-orang ini menyerahkan palang pintu kepada si Abu? Si Abu orang yang tidak dikenal! Tidak terkenal! Bagaimana mungkin!

“Itu masalahnya.” Kata Abu. “Di zaman mendiang Raja Ali Hamzah, yaitu ayah dari Raja Ali Alamsyah. Bangsa ini dididik secara ideologis. Bangsa ini diajari berdikari ; berdiri di atas kaki sendiri. Meski miskin tetapi tetap terhormat. Tak ada bangsa-bangsa lain di dunia ini yang berani meremehkan bangsa dan negara kita, Baghdad. Tetapi ketika Raja Ali Hamzah mengalami stroke dan kecerdasan serta kekuatannya tak ada lagi, Raja Ali Alamsyah menodongkan senjatanya dengan permintaan dua hal ; satu meminta paksa tahta, dua ; agar ayahnya menandatangani perjanjian masuknya modal asing. Sejak saat itulah, negeri kita diserbu oleh kapitalisme habis. Kapitalisme inilah raja yang sesungguhnya. Bukan Ali Alamsyah. Kapitalisme inilah yang menciptakan konsumerisme. Konsumerisme dan uang yang menimbulkan wabah populairisme yang menghancurkan ideologi kita sebagai manusia. Sebagai bangsa. Dan kamu tahu, salah seorang produk kapitalis konsumeristik itu? Lihatlah ke cermin di rumahmu. Itulah kamu
!”

Wooo, woo, wooo……..(TERTAWA GETIR) sederhana sajalah. Saya hanya orang yang hidup dan berusaha dan saya menemukan kesuksesan dalam usaha saya melalui jin dan lampu wasiat itu. Habis perkara!

“Percayalah! Kamu sungguh-sungguh orang yang musyrik! Kalau kamu punya kepercayaan diri yang tinggi, kepercayaanmu itu tidak ideologis! Tidak sebagaimana manusia dalam ajaran Raja Ali Hamzah. Suatu hari kamu akan ambruk oleh berhala yang kau percayai sendiri.”

Apa maksudmu? Tak usah mengancam, saya tidak takut! Tidak! Saya akan bertahan terhadap serangan apapun! Saya tidak salah!

“Kamu tidak salah, karena kamu tidak tahu. Ideologi kekinian itulah yang telah menjadi raja bagimu sehingga bahkan kamu sendiri membelanya. Padahal ia menjajah dirimu! Kamu tak menyadari bahwa sikapmu kemudian sebagai palang pintu — orang yang merasa paling berhak untuk menyeleksi kesuksesan orang lain dalam satu pintu menuju Raja Ali Alamsyah — itu akan menimbulkan keirian dan permusuhan. Padahal orang yang memusuhimu itu, juga hanya korban dari kapitalisme dan konsumerisme yang mengangkang bagi jin raksasamu itu! Kalian, bangsa ini, sungguh menjadi bangsa yang kasihan. Mereka tak lagi punya otak bahwa kekuatan kemuliaan manusia itu lebih berarti dibanding harta. Bahkan mereka tak tahu menahu soal itu! Tak mengerti apa yang terjadi pada tubuh mereka sendiri.”

JEDA. LINGLUNG. KEMBALI MEMANDANGI ALMARI BUTUT YANG KOSONG MELOMPONG. TIBA-TIBA MENANGIS.

Sungguh ini tidak adil. Mengapa orang kaya di negeri miskin ini menjadi salah. Mengapa orang sukses oleh karena usahanya di negeri susah ini menjadi salah. Saya sekuat tenaga melindungi keberuntungan saya. karena saya termasuk orang yang percaya bahwa keberuntungan tidak lahir dua kali. Maka saya kerahkan seluruh prajurit yang ada dengan kekuaatan segala senjata untuk menjaga almari saya. (JEDA. TERISAK) Tapi kini Anda tahu, kini semua habis tanpa sisa! Orang-orang susah itu telah bersatu dengan semboyan ‘orang susah bersatu tak bisa dikalahkan’ telah menyewa maling lihai. Dan Anda lihat…..(MERINTIH)…….maling lihai itu telah berhasil membobol brangkas saya. Bangsat keparat seribu jin seribu setan belang seribu tuyul mbakyul! Kekuasaan saya sebagai palang pintu kerajaan ini lenyap bersama lenyapnya lampu wasiat beserta jin di dalamnya! (JEDA) sekarang tak ada lagi permadani yang bisa terbang, tak ada sihir dari jin yang bisa mendatangkan segala sesuatu dalam sekejap. Yang ada hanya tikar. Saya terlalu lelah untuk memulai usaha dalam kemiskinan lagi. (JEDA. MENDADAK SEPERTI MENEMUKAN IDE) Tidak. Saya akan berusaha lagi. Tetapi saya tidak percaya dengan ketelatenan, ketekunan dan kesetiaan! Itu jargon orang susah! Saya akan memulai dengan cara saya ; menjadi perampok! Perampok lebih bergaya daripada orang susah! Hanya budak yang terus mempekerjakan dirinya sepanjang hayat. Orang yang bekerja sesaat dan menikmati kekayaannya dengan melenggang adalah orang merdeka! Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa menjadi orang merdeka! Merdeka !!!

ALADIN MENGAMBIL PEDANG – SATU-SATUNYA HARTA TERSISA – YANG TERGANTUNG DI BILIK ITU

Pengemis meski melakukan pekerjaannya dalam kesantunan yang dalam ia tidak akan dihormati dan tidak akan pernah kaya! Perampok bisa mengambil kehormatan itu dalam sekejap dari siapapun dari manapun! (MELOLOS PEDANG) Begitu keluar dari bilik ini, siapapun yang melewati pintu bilik saya ia akan menjadi korban pertama pedang saya. Semoga bukan orang susah!

DENGAN LANGKAH TEGAP ALADIN KELUAR RUMAH. OUT STAGE. TIANG BENDERA ATAU PANJI-PANJI BUTUT ITU TIBA-TIBA MEROSOT JATUH HINGGA HAMPIR MENYENTUH LANTAI. LAMPU PADAM

Omahkebon, dini hari 8 Juni 2016.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.