News

Art Project di Leipzig (2)

Art Project di Leipzig (2)

Baca juga : Art Project di Leipzig (1)

Selasa, 20 Juni 2017
Saya berada di Leipzig Jerman dalam rangka diundang untuk berpatisipasi dalam Art Project bersama 9 seniman lainnya. Dalam rangka Sidang Raya Gereja Reformasi Sedunia atau World Communion Reformed of Churches mengamil tajuk Living God Reform and Transform Us. Acara art project ini bagian dari rangkaian yang nantinya akan dipresentasikan pada tanggal 1 Juli 2017 di Pusat Kota Leipzig tepatnya di halaman Gereja St Nikolai (nikolaikirch). Diharapkan presentasi dari 10 seniman kolaborasi ini menjadi semacam refleksi artistik dari bagian persoalan yang sedang diperbincangkan di acara siidang tersebut.

Agenda pertama saya mulai hari Selasa Pagi jam 10 waktu Leipzig Jerman. Kegiatan saya mulai dengan sher berbagai dan bertukar informasi maupun pengalaman berkesenian. Dilanjutkan dengan brain storming mengenai ide-ide atau yang mendasari kesenian apa yang akan dibuat bersama 10 seniman. Dalam diskusi tersebut menarik karena setiap seniman membawa gagasannya masing-masing dengan medium seni maupun pengetahuannya. Kadang pula sampai mengelaborasi dengan tensi yang cukup tegang, namun itulah dinamika kelompok yang mesti terjadi.

Setiap gagasan yang terlontar dari setiap seniman selalu kami catat dalam kertas, berupa premis, lontaran kata, tema, maupun lintasan kata yang datang hari itu juga. Kemudian Jorg Reckhenrich mengelaborasi dari setiap tanggapan, kritik, maupun komentar yang terjadi di setiap laju diksusi. Ya, saya kemudian menjadi belajar bagaimana masuk dalam medan kesenian modern. Mereka rata-rata seniman kontemporer yang menggunakan medium performance, instalasi, new media, video art, bahkan koreografer dan director.

Agenda selanjutnya ketika sesi brain storming selesai, saya diajak oleh Katarina (salah satu LO Organiser Art Project) untuk berkunjung ke Pemukiman Komunitas Migran Timur Tengah. Mereka tidak tahu datang dari belahan Negara seperti Afganistan, Suria, Turki, Iran dan lainya. Penampungan ini dikelola oleh pemertintah Jerman. Beberapa karyawannya adalah anak muda Jerman yang dipekerjakan disana. Biasanya Katarina selalu ditemani oleh 3 volunteer lain, lalu mereka mengajak kegiatan kreatif setelah anak-anak pulang sekolah.

Kami berangkat rombongan dengan menggunakan trem (kereta api listrik Leipzig). Sekitar 15 anak dan remaja dibawa ke tempat bermain yaitu lahan kosong di tengah kota yang tidak terpakai. Namun lahan tersebut memang sengaja disetting sebagai tempat untuk kegiatan edukasi anak-anak migran. Mereka dikelola secara bersama oleh anak-anak muda yang bekerja secara sukarelawan.

Sore hari, saya diajak oleh Jorg menyaksikan salah satu performance art salah saty artis yang terlibat dalam Art Project ini. Ia bernama Angelina (seorang performance artis, penyanyi dan penyair). Performance diadakan diseputan kota dimana pusat pertokoan dan gedung-gedung bersejarah bisa berjajar rapi. Ya , Leipzig dikenal dengan banyaknya gedung cagar budaya yang menyatu dengan arsitektur modern bahkan kontemporer.
Performance Angelina lebih pada menampilkan ingatan dimana dahulu arsitektur dimana ia tinggal semasama kecil saat ini sudah berubah. Dia seperti bercerita kepada penonton secara verbal. Mirip seperti sebuah prsesntasi yang dilakukan diluar ruangan dan penonton diajak langsung melihat lokasi-lokasi perubahan yang terjadi. Saya menonton sepanjang performance itu berlangsung selama 45 menit. Angelina mempaparkan narasi tentang memori personalnya tentang bangunan, arsitektur, Yahudi, kekuasaan Hitler, peninggalan, dan sebagainya. Intinya saya malah seperti nonton guide yang sedang mendongeng tentang sejarah kotanya.
Selepas performance, saya diajak oleh Jorg keliling pusat kota dan perbelanjaan Leipzig. Tujuan kami memang akan melihat venue (tempat presentasi karya pertunjukan kolaborasi besok 1 Juli 2017). Kami keliling halaman yang begitu luas di seputaran Gedung Gereja St Nikolas (Nikolaikirchof). Kami potret beberapa sudut yang memang menurut Jorg selaku curator , sudut tersebut mampu diolah menjadi ruang yang memiliki kemungkinan artistic tertentu. Ya, gereja ini bersanding dengan pusat mall dan kuliner modern di Leipzig.

Tak teras waktu menunjukan pukul 19.00 waktu Leipzig. Dan langit masih cerah seperti jam 15.00 di Yogyakarta. Saya kemudian diajak berkeliling di pusat kota Leipzig, diakhiri dengan makan dan pulang ke rumah sudah larut malam sekitar jam 22.00.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.