Teatrika

Belajar Melakukan Dialog

Jurnal Seni Peran Whani Darmawan

Peristiwa kehidupan manusia bisa dikatakan sebagai bagian dari unsur formula dramaturgi. Tak akan ada cerita jika tak ada peristiwa dan manusia sebagai tokoh untuk merepresentasikan cerita. Lalu muncul pula pertanyaan sub unsur apa yang ada dalam peristiwa dan manusia? Di dalam peristiwa ada cerita, ada tema, materi dasar cerita, motif persoalan, pengembangan persoalan (kasus), dll. Bagaimana dengan unsur yang menjadi representasi tokoh (manusia?) Tentu saja di dalam manusia terkandung banyak unsur untu mendukung hadirnya tokoh tersebut. Gambaran verbalnya ada dua ; fisik dan psikis. Keduanya bertautan saling mengisi. Nah, di antara keduanya hadir representasi suara yang kelak kemudian disepakati dalam budaya komunikasi sebagai suara yang menghasilkan bahasa. Sederhanya percakapan.

Ya. Salah satu kelahiran teater karena ada percakapan antar manusia. Dari percakapan itu bisa lahir bermacam persoalan, konflik, alur dan anasir dramatik tentionnya. Dalam keseharian manusia (boleh dibaca ; pelakon) semua telah melakukan peristiwa dramatik. Tetapi ketika upaya kesadaran menuju transformasi lakon (membuat cerita, membuat percakapan, merepresentasikan kejadian) terjadi kemacetan. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya kesadaran memberi jarak terhadap peristiwa keseharian untuk disadari menjadi suatu metode. Hal ini juga didukung oleh lahirnya anggapan dramatik yang keliru ; bahwa yang drama adalah yang luar biasa, yang wah, yang heboh, yang spectacle. Unsur drama dalam teater harus spectacle. Lalu kesadaran terblokir oleh pukauan itu sendiri dan diri menjadi takut untuk menyadari bahwa drama lahir dari kesederhanaan peristiwa keseharian. Termasuk di dalamnya percakapan. Bagaimanakah melatih kesadaran percakapan dalam latihan? Mari sedikit mengurainya.

Ini adalah latihan-latihan sederhana untuk menyadari dan mengembangkan percakapan.

Pertama adalah latihan bertanya dan menjawab. Dua orang dihadirkan di atas panggung (atau tempat latihan). Sebut saja orang pertama A dan orang kedua B. Permainannya adalah A bertanya B menjawab. Peserta latihan harus patuh terhadap aturan ketat ini. Dalam pelaksanaannya, terbukti tak semua peserta latihan mampu melakukan jobdes ini. Kenapa? Pertama karena rangsangan pikiran terhadap kreativitas wicara seringkali mengganggu. Kedua, disiplin terhadap jobdes dan aturannya lemah. Dua hal ini sangat membuktikan bahwa mentransformasi pengalaman dan bermain adalah dua hal yang berbeda. Ada aktor hebat tetapi tak mampu mengurai metodenya. Ada orang yang mampu mengajar dengan baik, belum tentu ia bisa bermain dengan cemerlang. Padahal pada point pembelajaran upaya untuk mengurai ini menjadi suatu kesadaran metodik sangat penting sebelum seorang pelakon bebas melakukan improvisasinya setelah mengantongi penuh metode formula dramaturgi (atau katakanlah metode wicara). Yang sering terjadi dalam latihan adalah terlanggarnya aturan tanpa mereka sadari. Setelah hal ini ditempuh secara repetitif barulah tahap selanjutnya masuk dalam permainan Bertanya-Menjawab-Bertanya.

Latihan Bertanya-Menjawab-Bertanya ini akan lebih mendekatkan pada proses kelahiran percakapan. Caranya, secara bentuk hampir sama dengan latihan Bertanya dan Menjawab. Aturannya pun sama ketatnya. Jelas bedanya adalah A bertanya kemudian B menjawab, setelah menjawab B bertanya kepada A. Apa yang ditanya-jawabkan? Pada tahap pertama bebas mengalir, tidak harus tematik. Dalam latihan inilah biasanya para peserta latihan akan menyadari lahirnya proses percakapan.

Karena aturan tahap awal tanpa tema dan bebas mengalir maka Kedua bentuk latihan itu sesungguhnya bisa dilakukan dengan sangat sederhana seperti kita sedang melakukan percakapan sehari-hari. Jika hal ini sudah dilakukan secara repetitif latihan ini bisa dikembangkan dengan tema. Ssetelah tema dimasukkan bisa ditingkatkan lagi dengan diberi kerangka dramatic tention (tensi dramatik) yang berisi kira-kira awalan, tengahan, puncak, akhiran (bisa menengok referensi Aristotelian atau yang lainnya).

Menyadari percakapan sehari-sehari sebagai metode sangatlah penting untuk merunut kehadiran dialog. Pada saatnya akan kita ketahui bahwa kehadiran percakapan (bahasa) memiliki pembagian tugas yang penting. Bukan hanya soal kaidah SPOK (subyek, predikat, obyek, keterangan), tetapi dalam rangkaian makna tidak seluruh bahasa yang diucapkan penting. Atau, pemahamannya di balik ; ada bahasa yang mengantarkan makna menuju point, ada bahasa dalam point itu sendiri. Karenanya, percakapan memang perlu dijajal untuk bisa mengerti hal itu. ***

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.