Eduteater

Belajar Menulis Cerita (Part -1)

Oleh: Eko Santosa

eko-ompongBanyak cara atau proses kreatif yang dilkukan oleh para penulis. Masing-masing memiliki pendekatan yang berbeda. Ada penulis cerita yang membuat format dulu sebelum menulis dan ada yang langsung menulis di hadapan mesin ketik atau komputer secara langsung dengan menuangkan dan merangkai gagasan yang pada saat itu juga melintas. Namun, bagi penulis pemula ide atau gagasan adalah persoalan mendasar yang harus dipecahkan.

Apa yang akan ditulis jika sekiranya tidak ada ide yang melintas di kepala? Itulah pertanyaan yang biasanya muncul. Padahal sesungguhnya, setiap orang pasti memiliki ide atau gagasan, hanya saja dasar permasalahannya ialah, berani atau tidak ia mengungkapkan ide tersebut. Orang macet menulis umumnya terjadi karena faktor diri sendiri yang menganggap bahwa ide tulisannya itu tidak bermutu, kurang masuk akal, tidak baik, dan lain sebagainya. Dengan berbekal keberanian melontarkan ide – apapun itu – maka kesulitan awal telah teratasi. Berikutnya adalah melanjutkan apa yang telah dimulai tersebut sampai akhir. Banyak sekali sebetulnya cara yang dapat digunakan dalam menstimulasi pikiran untuk melahirkan dan mengembangkan ide menjadi sebuah cerita. Di bawah ini akan diuraikan proses menggali ide sampai pada tahap penulisan cerita. Tentu saja apa yang diuraikan di sini bukan satu-satunya teknik atau cara dalam menulis cerita.

1. Menggali Ide
Seperti telah disebutkan di atas,banyak penulis pemula yang macet sejak pertama kali karena merasa tidak memiliki ide atau sesuatu untuk dituliskan. Sebetulnya semua itu bisa di atasi dengan menulis apa saja yang terlintas di kepala tanpa harus memikirkan struktur cerita, akhir cerita dan lain sebagainya. Baru kemudian menyusun tulisan-tulisan tersebut secara lebih terstruktur sehingga membentuk satu rangkaian cerita. Teknik menulis bebas ini hanyalah salah satu teknik untuk melahirkan ide atau gagasan tertulis secara simultan. Proses asosiasi alamiah pikiran manusia akan mengarahkan penulis untuk mencari kemiripan kata atau kalimat-kalimat yang dituliskan. Namun demikian tidak semua orang bisa menulis secara bebas dengan proses seperti itu. Dibutuhkan satu rangsangan baik itu berupa musik, gambar, cerita, benda atau pertanyaan untuk memancing sebuah gagasan. Setelahnya adalah melanjutkan gagasan tersebut menjadi satu cerita sederhana yang bisa dikembangkan.

1.1. Buku Cerita
Gagasan baru bisa muncul dari buku cerita (novel, cerpen) dengan cara membaca sekelumit cerita yang ada di dalamnya dan kemudian mencoba melanjutkan cerita tersebut sesuai keinginan kita. Pertama yang bisa dilakukan adalah mencoba membaca awal dari cerita yang ada tersebut kemudian kita lanjutkan sesuai dengan perkiraan, harapan atau keinginan kita. Cara ini sedikit lebih mudah karena alur akan berjalan linear dan progresif sesuai dengan arah pikiran kita secara alamiah. Kemudian, cobalah membaca akhir dari cerita yang ada dan buatlah awal ceritanya. Cara ini sedikit lebih sulit karena kita akan mencoba berpikir ke belakang di mana sebab itu timbul. Umumnya orang berpikir sebab dulu baru kemudian akibatnya. Nah, dengan cara kedua ini kita dituntut untuk kreatif memikirkan sebab setelah kita tahu akibatnya terlebih dahulu. Berikutnya ambillah salah satu bab atau alinea dalam buku cerita tersebut di bagian tengah dan kita coba cari awal dan kelanjutan ceritanya. Cara ketiga ini paling sulit karena selain mencari sebab dari kejadian yang kita pilih dari buku cerita yang ada, kita dituntut juga untuk melanjutkannya.
Ketiga cara di atas, dapat merangsang daya kreatif. Ide dirangsang dengan cerita yang telah ada. Gambaran awal, akhir atau awal dan akhir cerita kitalah yang menentukan. Sehingga, jika saja cerita itu kita tulis dengan baik maka akan menjadi semacam kerja kolaboratif antara si penulis buku dengan kita.

1.2. Foto atau Gambar
Foto atau gambar – apapun – pasti memiliki ceritanya sendiri. Umumnya ketika kita diminta untuk melihat sebuah foto apakah itu foto keluarga atau teman-teman sekolah, hal pertama yang dilakukan adalah memeriksa apakah diri kita ada dalam foto tersebut. Hal ini terjadi secara alami karena pada dasarnya kita selalu ingin menjadi bagian dari cerita hidup kita dan lingkungan kita. Dengan melihat foto kita sendiri dalam sebuah komunitas atau acara tertentu pasti ingatan akan terbayang pada cerita di seputar foto tersebut dibuat. Dimana foto itu dibuat, dalam acara apa, ada kejadian apa sebelum foto itu dibuat, ada kejadian apa setelah foto itu dibuat, siapa saja yang ada dalam foto itu dan apa hubungannya dengan kita, bagaimana perasaan masing-masing orang dan kita sendiri saat foto itu dibuat, dan masih banyak lagi hal yang kita ingat seputar foto itu. Jika saja semua yang kita ingat itu kita rangkai dan tulis pasti akan menjadi cerita yang menarik dan hidup karena kita sendiri mengalaminya.Dengan mengandaikan bahwa kita ada dalam gambar atau sebuah foto maka, memiliki sebuah cerita

Jadi, sesungguhnya sebuah gambar memiliki seribu cerita yang tidak terduga serta melebihi apa yang tampak oleh mata. Dari gambar-gambar yang biasa seperti kehidupan sehari-hari dapat kita kembangkan dengan gambar-gambar imajinatif. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi bangunan cerita yang kita buat. Gambar imajinatif akan memberikan gambaran yang lain dan khas di mana kita bisa saja memaknai gambar tersebut sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Membangun cerita dari impresi atau kesan yang kita peroleh waktu melihat gambar imajinatif dan menjadikannya sebagi ide dasar. Selanjtnya, ide tersebut kita kembangkan sehingga menjadi gambaran cerita yang utuh.

1.3. Musik
Dengarkanlah musik dan coba bayangkan suasana hati penyanyinya, suasana hati para musisinya, hubungan antarmereka, konflik antarmereka, cerita yang hendak mereka sampaikan pada kita, perasaan seperti apa yang hendak mereka bagikan kepada kita. Setiap karya musik memiliki latar belakang penciptaannya sendiri. Musik yang berirama sendu mungkin saja dicipta ketika si musisi sedang dalam suasana gundah, rindu atau duka. Musik berirama riang menggambarkan rasa penciptanya yang senang dan bahagia mungkin karena jatuh cinta atau harapannya terpenuhi. Lain jenis musik pun lain pula cara menghayatinya. Musik rock berbeda dengan keroncong, berbeda dengan dangdut. Dengan menggali atau mereka latar belakang penciptaan dan pemilihan jenis musik yang ditampilkan kita akan mendapatkan gagasan atau bahkan cerita secara utuh.

1.4. Benda
Ambillah benda. Amati dan ciptakanlah sejarahnya. Dari mana benda itu berasal, dari lingkungan yang seperti apa, jika punya nama benda itu akan kita beri nama apa, dan mengapa namanya demikian. Bagaimana perjalanan benda itu hingga sampai di hadapan kita, dengan siapa dan apa saja benda itu bertemu sebelumnya. Banyak hal yang bisa kita reka dari sebuah benda yang ada di hadapan kita. Dengan teknik personifikasi yang mengorangkan benda maka kita bisa membangun cerita sejarah benda tersebut, membangun harapan dan impiannya. Dari benda terwujudlah cerita.

1.5. Pertanyaan
Inti dari penggalian gagasan dan pengembangan cerita adalah membangun pertanyaan. Jawaban dari setiap pertanyaan yang diajukan dapat dirangkai menjadi sebuah cerita. Dalam teater dikenal satu metode yang disebut “if magic” yang dikemukakan oleh Stanislavsky. Metode ini dapat kita gunakan dalam menggali gagasan. “If magic” mengandaikan kita menjadi sesuatu. Jika dalam akting kita harus berlaku sesuai yang kita andaikan maka dalam menggali gagasan kita membangun pertanyaan dari tokoh atau sesuatu yang kita andaikan. Misalnya, kita mengandaikan diri kita adalah seorang jenderal maka kita harus membangun pertanyaan seputar si jenderal yang kita bayangkan ini. Bagaimana bisa menjadi jenderal, tahap-tahap apa yang harus dilalui, pernah memimpin perang dimana dan hasilnya bagaimana, bagaimana sikap terhadap anak buah, kesulitan apa saja yang dihadapi selama pertempura dan bagaimana solusinya, dan seterusnya. Semakin banyak pertanyaan, semakin banyak alternatif jawaban dan dengan demikian semakin banyak pilihan cerita yang akan kita tulis. Intinya, janganlah takut dan ragu untuk mengungkapkan sebuah gagasan. Jangan takut jelek karena yang baik itu ada sebab yang jelek ada.

to be continued….

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.