Eduteater

Belajar Menulis Cerita (Part – 2)

Baca juga : Belajar Menulis Cerita (Part – 1)

Oleh: Eko Santosa

2. Merangkai Cerita
Gagasan yang sudah tertulis dan mungkin juga sudah membentuk satu cerita atau gambaran kasar tersebut perlu kita bingkai atau rangkai dengan tema, konflik, penokohan, dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan agar cerita yang akan kita sampaikan memiliki satu kesatuan misi.

2.1. Menentukan Tema
Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. Tema, akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir. Misalnya tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”,maka dalam cerita hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan.

2.2 Menentukan Persoalan
Persoalan atau konflik adalah inti dari sebuah cerita teatrikal. Cerita tanpa konflik pastilah sangat tidak menarik untuk disampaikan. Oleh karena itu pangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”, pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri. Persoalan ini kemudian dikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan.

2.3 Menentukan Protagonis
Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil, maka tokoh lainnya mudah ditemukan. Misalnya, dalam persoalan tentang kelicikan, maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin, semangat dalam bekerja, senang membantu orang lain, berkecukupan, dermawan, serta jujur. Semakin detil sifat atau karakter protagonis, maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan, maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan.

2.4 Menentukan Penyelesaian
Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa, bahkan ada yang bingung mengakhirinya. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik, logis, dan tidak tergesa-gesa.

2.5 Membuat Sinopsis
Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. Sinopsis digunakan sebagai pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar. Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengada-ada.

2.6 Membuat Kerangka Cerita
Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan, konflik, klimaks sampai penyelesaian. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak bertele-tele. William Froug (1993) misalnya, membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian, yaitu pembukaan, bagian awal, tengah, dan akhir. Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. Pada bagian akhir, titik balik cerita dimulai dan konflik diselesaikan. Riantiarno (2003), sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma, menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian, yaitu pembukayang berisi pengantar cerita atau sebab awal, isiyang berisi pemaparan, konflik hingga klimaks, dan penutupyang merupakan simpulan cerita atau akibat.Secara sangat sederhana kerangka cerita terdiri dari tiga bagian yaitu pemaparan, konflik, dan penyelesaian.

2.7 Menulis
Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah, tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin.

3. Narasi dan Dialog
Cerita yang akan disampaikan dalam naskah drama berbeda dengan cerita dalam novel atau cerpen. Naskah memerlukan dialog atau wicara tokoh yang lebih banyak ketimbang narasi. Jika narasi hadir terlalu banyak maka naskah drama akan Nampak seperti pidato. Narasi biasanya digunakan untuk menerangkan latar atau situasi cerita. Hal ini sebetulnya bisa diubah ke dalam dialog atau wicara tokoh. Selain lebih menarik hal ini pun juga lebih menantang kepiawaian penulis dalam berkisah. Dengan perpindahan dialog tokoh satu ke tokoh lain maka kemampuan retorika penulisakan semakin terasah.

(*)

Bacaan:
Froug, William. 1993. Screen Writing Tikcs of The Trade. Silman James Press.
N Riantiarno. 2003. Menyentuh Teater. Mu3books. Jakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.