Teatrika

Belajar Menyanyi (2)

Belajar Menyanyi (2)

Nada, Irama dalam Dialog

Mengenal nada dalam hal ini bukanlah kemutlakan seseorang mengerti notasi. Ada orang bisa mengerti nada   dan bisa membaca notasi, tetapi ada juga orang yang mengerti nada tetapi tak bisa membaca notasi. Yang terakhir adalah ada orang tak mengerti nada dan tak bisa membaca notasi. Pernah saya temui hal yang begini secara gurauan disebut sebagai cacat nada, yakni orang yang secara asali memang tidak memiliki tangga nada dalam kemampuannya. Meski secara konseptual dikepala ia mengerti yang dimaksudkan dengan notasi tetapi dalam melakukannya berantakan sama sekali. Kalau melantunkan nada do, re, mi dansebagainya ia bisa saja melakukannya dengan separo nada, tiga perempat nada dan semacamnya. Meski dilatih orang semacam ini tidak akan bisa.

Tentu saja dalam teater hal ini akan berpengaruh pada pemberian peran. Jika peran itu membutuhkan menyanyi dalam percakapannya tentu saja ia tidak akan mendapat peran tersebut. Tetapi hanya begitukah kepentingan nada dalam urusan permainan keaktoran? Tentu saja tidak. Bentuk teater bisa saja tidak terpaku seperti opera (yang membutuhkan persyaratan khusus bisa menyanyi), dan pengertian nada dalam hal ini juga tak selalu berarti menyanyi. Dialog pun membutuhkan nada. Oleh karena itu betapapun seseorang dalam keadaan cacat nada, pengertian atau prinsip pelatihan nada memang penting.

Baca juga : Belajar Menyanyi (1)

Cara pendekatan latihan dasar nada  bentuknya bukan teknis ssebagaimana sekolah musik, tetapi lebih aplikatif dengan menyanyi. Misalnya lagu yang paling sederhana seperti Balonku Ada Lima, Ibu Kita Kartini, atau apapun yang tidak memiliki kerumitan nada. Setelah seorang peserta latihan diminta untuk menyanyikan sendirian kemudian nada itu dibagi. Misalnya sepuluh orang duduk melingkar kemudian membagi lagu tersebut dalam sepuluh mulut. Pilihan atas lagu yang sederhana dalam hal ini sangat penting sebelum akhirnya menmyanyikan lagu yang nadanya memiliki tingkat kesulitan tertentu, kemudian meningkat dalam pengertian timbre, irama, dsb.

Sebelum sampai pada timbre, irama, rasa pengucapan lirik, dsb, lebih dulu dijelaskan pengertian transformasi perasaan ke nada, bahwa nada dalam lagu merupakan transformasi dari suatu perasaan tertentu yang percayakan pada diksi syair kemudian diberi nada sebagaimana yang dimaui oleh perasaan syair tersebut. Pengertian ini penting untuk mendasari nada dan irama dalam dialog. Misalnya, mengapa orang yang sedang marah nadanya cenderung tinggi, mengapa nada dan irama dialog orang sabar cenderung lambat dan datar, dsb. Secara dasar nada untuk menandai emosi-emosi, tetapi cara pemberadaan emosi tidak bisa dibalik dari nada dulu baru kalimat. Hal tersebut musti dirunut dari emosi percakapan yang berlangsung. Maka setelah belajar mengenali nada tujuan dan pencapaian metode ini bukan keberhasilan menyanyikan sebuah lagu, melainkan memahami emosi dalam percakapan. Setelah hal ini dipahami, sebagaimana kebanyakan teknik dan metode yang dilatih ‘untuk dilupakan,’ maka yang didorong kemudian adalah pelatihan emosi dalam percakapan supaya nada dan irama yang dimaksudkan menjadi lebih natural.

Banyak peserta latihan, aktor, melupakan teknik dan metode sederhana ini karena merasa sudah bisa menakar emosi dalam pikiran mereka. Hal inilahyang kemudian ekspresi dalam dialog terasa teknis dan garing. ****

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.