News Pencak Malioboro Festival

BIOGRAFI PARA PEMBICARA (1)

BIOGRAFI PARA PEMBICARA (1)

Pengantar

Pada tanggal 15 Agustus 2017 Rangkaian agenda Pencak Malioboro Festival (PMF) 2017 akan dimulai. Diawali dengan acara Seminar Sehari Kajian Silat dengan tema ‘Silat Seni, Seni Silat’ bertempat di ruang seminar Koendjana lt 4, gedung pasca sarjana Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Shanata Dharma Yogyakarta, pk 09.00-15.00 wib. Mulai hari ini Whanidproject menurunkan biografi mereka satu persatu dalam beberapa hari berkala ke depan. Bagi Anda yg berminat mengikuti acara ini bisa reservasi ke nmr 0811-2676-237, cp a/n Desi.

DR. EKO SUPRIANTO
Setelah meyelesaikan program S1 di ISI Surakarta, Eko melanjutkan studi magisternya di UCLA, AS dalam bidang Koreografi dan Seni Pertunjukan dengan dukungan dari beasiswa Ford Foundation, Asian Cultural Council, dan UCLA. Program Doktoralnya diselesaikan di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada tahun 2015 dalam bidang Kajian Seni Pertunjukan. Pengalaman menari dimulai Eko saat kecil dengan mempelajari beladiri silat di bawah bimbingan BIMA (Budaya Indonesia Mataram) dan tari-tarian Jawa serta Magelangan di Magelang, Jawa Tengah.
Karya-karya Eko telah medapat apresiasi secara luas oleh masyarakat dunia, baik di Indonesia maupun di negara lain, seperti di Amerika Serikat, juga di berbagai panggung dan festival prestitius di Asia, Australia, Afrika dan Eropa. Eko pernah terlibat sebagai penari dalam tur konser “Drowned World” penyanyi Madonna pada tahun 2001, dan bekerja sebagai konsultan Tari dalam karya Los Angeles and National Tour of Julie Taymor saat memproduksi teater Broadway “Lion King”.

Dalam dunia layar lebar di tanah air, Eko telah terlibat menjadi aktor, penari, dan koreografer dalam beberapa film antara lain “Opera Jawa” (Garin Nugroho, 2006) dan “Generasi Biru” (Garin Nugroho), Kisah Tiga Titik dan Negeri Tanpa Telinga (Lola Amaria), dan film terbaru “Sunya” bersama Harry Dagoe. Saat ini Eko fokus membangun EkosDance Company dan Yayasan EkosDance yang menjadi wadahnya menghasilkan karya-karya terbarunya seperti Cry Jailolo bersama penari dari Jailolo Halmahera Barat, Maluku Utara (2014-2015), yang baru saja menyelesaikan tour dunia ke festival-festival seni pertunjukan kontemporer di Australia, Eropa, dan Asia. Serta karya terbarunya Balabala yang akan memulai program World Tour di Australia, Jepang dan Eropa Januari -Agustus 2017 dan “SALT” karya tunggalnya yang melengkapi Research Performance “Trilogy of Jailolo” 2017-2018.

BIO EKO SUPRIYANTO

Founder and artistic director for EkosDance Company and Solo Dance Studio in Surakarta Indonesia, Eko Supriyanto is the leading Indonesian dancer and choreographer of his generation.
Trained in Javanese court dances and the Indonesian martial arts of Pencak Silat since the age of seven, Eko’s performance career spans major works and tours throughout Indonesia, Europe, America and the Asia Pacific. Eko holds a PhD in Performance Studies (2014) from Gadjah Mada University and Master of Fine Arts (MFA) in Dance and Choreography from the UCLADepartment of World Arts and Cultures (2001).
Eko’s performance career stretches between major commercial productions to dance research projects. He was enlisted as a dance consultant for Julie Taymor’s Lion King Broadway production and choreographed and performed for major international productions including Peter Sellars Le Grand Macabre, John Adam’s OperaFlowering Tree in Vienna, the Barbican Centre in London and the Lincoln Center in New York, Garin Nugroho’s Opera Jawa, MAU Lemi Ponifasio’s Tempest, solid.states with Arco Renz, and was a featured dancer in Madonna’s 2001 Drowned World.

His recent major work is Cry Jailolo with seven youth dancers from Jailolo North Maluku that toured in Japan, Australia and Europe in August- October 2015. Again Cry Jailolo’s sister with five young women from Jailolo BALABALA was developed and starting tour intensively in Australia, Japan, Europe and Taiwan in 2017 and 2018. Most recent performance research on the Body Embodiment of Indonesian Dancers is connected to his work on maritime culture entitled SALT, will complete his Trilogy of Dancing Jailolo as part of world Premiere in Belgium December 2017 will address his research on The Future of Dance is Under Water

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.