Eduteater

Catatan Mengenai Pemeran dan Pemeranan dari Stella Adler Part 2

Catatan Mengenai Pemeran dan Pemeranan dari Stella Adler Part 2

  1. Membuat Elemen Kecil Menjadi Terkuat

Posisi aktor dalam sebuah industri teater mungkin hanyalah salah satu elemen kecil. Ia hanyalah person yang mengejawantahkah kehendak sutradara yang telah berasimilasi dengan pengarang. Namun tanpa aktor, pertunjukan teater juga tidak akan bisa dijalankan. Menjadi tugas aktor untuk mengubah elemen kecil tersebut menjadi elemen terkuat. Orang awam mungkin akan mudah mengatakan bahwa dua ditambah dua adalah empat, namun ungkapan orang awam tersebut mudah dilupakan. Sementara itu aktor dapat mengungkapkan dua ditambah dua sama dengan empat seolah-olah hal tersebut merupakan solusi hebat dari permasalahan yang telah berabad lamanya berada di dunia. Rasa atau takaran semacam itulah yang harus dimiliki oleh aktor. Takaran atau ukuran yang mewujud dalam laku aksi itulah yang membuat aktor sebagai elemen kecil namun terkuat di antara elemen lainnya dalam dunia teater.

Pemahaman ini akan membuat aktor memiliki takaran atau potensi. Dari sisi vokal misalnya, seorang aktor tidak hanya cukup memiliki vokal jelas namun juga kuat. Mungkin untuk televisi vokal jernih dan jelas sudah cukup, tapi tidak untuk panggung. Oleh karena itu, ketika aktor berada di atas panggung sebaiknya ia memiliki perasaan bahwa apa yang akan ia ucapkan harus terdengar di seluruh penjuru dunia. Karenanya, aktor perlu menyadari bahwa ia sosok yang sangat penting karena ucapannya akan di dengar dunia. Selain itu, aktor tidak akan mengucapkan kalimat itu atas namanya sendiri melainkan atas nama penulis naskah. Aktor harus mampu membedakan kalimat dalam bahasa sehari-hari dengan kalimat-kalimat penting (terpilih) dalam bahasa penulis.

Baca juga : Catatan Mengenai Pemeran dan Pemeranan dari Stella Adler

Dunia panggung dihidupkan melalui kata-kata, melalui kualitas bahasa. Cara aktor menyampaikan kalimat dengan demikian menjadi perhatian utama. Aktor harus fokus pada makna kalimat yang akan disampaikannya. Ia tidak boleh sekedar meniru baik dari sutradara ataupun aktor lainnya. Oleh karena itu ia harus menyesuaikannya sendiri dengan caranya sendiri. Untuk itu, aktor perlu disiplin berlatih berbicara dengan tepat. Aktor perlu berlatih mengungkapkan gagasan atau pikirannya melalui kalimat. Segala bentuk penyesuaian ini menjadi tugas dan tanggung jawab aktor sendiri. Hal ini tidak terkait tentunya dengan audisi atau sesi latihan. Tidak hanya soal penyesuaian pikiran, kalimat, dan cara ungkapnya namun juga soal-soal yang lain seperti makanan. Aktor harus benar-benar menjaga kesehatannya. Ia harus memperhatikan kebugaran tubuhnya, kesegaran pikirannya, kejernihan dan kelantangan suaranya serta emosinya.

Dari semua hal yang disebutkan tersebut, aktor wajib menjaga sifat inosens yang tidak kekanak-kanakan. Banyak aktor dewasa yang menghabiskan waktunya dengan sifat kekanak-kanakan. Menjadi inosens dalam usia tua adalah menjadi dewasa. Melihat segala sesuatu secara jernih, menyeluruh serta berada di luar apa yang dilihat, persis seperti halnya hidup. Aktor bukanlah hidup atau sebaliknya. Kehidupan selalu berada di luar aktor. Ia harus mempelajari dan mengejarnya. Ini merupakan hal esensi dan harus menjadi catatan bahwa kehidupan selalu berada di depan aktor. Jika seorang aktor berpikir bahwa kehidupan mendatanginya atau ia adalah kehidupan sehingga beranggapan bahwa dirinya adalah sosok penting, maka pikirannya telah mengalami kerusakan.

Pikiran bahwa dunia tergelar di hadapan harus senantiasa tertanam. Karena itu, tugas aktor adalah mempercayai dirinya untuk mengejar hidup itu meski harus sakit atau memilih untuk menarik diri dalam kehidupan pribadi namun dengan demikian menjadi mati. Hanya ada 2 pilihan itu dalam diri aktor terhadap pemeranan. Hanya dengan memilih bahwa hidup senantiasa ada di depan atau di luar diri maka sifat inosens namun tidak kekanakan itu akan terjaga. Dengan sifat ini, aktor akan menjadi rileks dalam memainkan peran dengan kehidupannya.

  1. Mata dan Pandangan

Mata dan pandangan aktor tentunya berbeda dengan mata dan pandangan orang pada umumnya. Adler menyampaikan bahwa mata adalah bagian tubuh yang jauh melampaui bagian tubuh lain dalam diri aktor. Mata harus digunakan oleh aktor untuk mengamati dan bukan hanya melihat. Jika seseorang melihat sebuah mobil, maka aktor harus mengamati segala hal-ihwal mengenai mobil tersebut. Bagaimana bentuknya, keluaran tahun berapa, berapa kuat mesin, hal spesifik apa yang membedakan, bagaimana bentuk kemudi, jok, warna, bahan, dan segala hal yang ada dan melekat dalam mobil tersebut. Lebih lanjut Adler menjelaskan bahwa aktor harus belajar tentang perbedaan dan makna, misalnya warna merah yang ia amati – merah warna mobil balap, merah bunga sepatu atau merah darah. Setiap merah memiliki makna yang berbeda, demikian pula setiap hal yang diamati oleh aktor.

Tugas aktor adalah untuk menyampaikan makna dari apa yang ia lihat melalui aksinya di atas panggung atau di depan kamera. Oleh karena itulah tindak pengamatan menjadi sangat penting. Aktor mencoba membina dan menguatkan ingatan fotografis melalui pengamatan. Segala detil harus benar-benar tergambar dalam pikirannya. Di atas panggung, aktor tidak hanya menggunakan bahasa verbal dalam menyampaikan sesuatu. Kesedihan, kegembiraan, cinta dan semua rasa bisa saja ia ungkapkan dengan ekspresi tubuh dan wajah. Gambaran fotografis hasil pengamatan yang detil difungsikan untuk menyingkap makna dari apa yang terlihat dari luar.  Laku aksi aktor di atas panggung tentunya sangat berbeda ketika ia bereaksi atas hal yang sekedar dilihat dan yang diamati.

Pandangan yang kritis, kesadaran akan diri, disiplin dan kontrol diri merupakan hal-hal yang diperlukan seorang aktor dalam berkarya. Namun kesemuanya itu tidak akan menghasilkan sesuatu yang istimewa jika tidak diberi energi, demikian tambah dari Adler. Pengamatan yang detil dan mendalam akan membangkitkan energi. Karena energi bukanlah hal yang selalu ada, maka aktor harus mampu membangkitkannya. Kehidupan dan dunia tergelar di hadapan dan tugas aktorlah untuk mengamatinya dan menyerapnya. Aktor harus mampu meilhat hal-hal yang tak terlihat sebelumnya. Kemudian, atas dasar pengamatan dan penyerapan, aktor memberikan kembali kepada dunia (melalui pementasan atau layar). Karena itu pulalah tidak diperkenankan bagi aktor untuk membaca buku sekedarnya. Seorang aktor harus benar-benar memilih buku yang akan dibaca, menyukainya, dan membacanya dengan pemahaman sampai tuntas. Membaca bagi seorang aktor merupakan kegiatan yang sama dengan pengamatan yang detil. Sebuah telisik khusus dan menyeluruh hingga membangkitkan energi yang hidup.

Semua hal yang dilakukan oleh seorang aktor sangatlah penting. Aktor tidak bisa membohongi penonton, semua detil kecil yang dilakukan akan tertangkap mata penonton. Keraguan sekecil apapun akan mempengaruhi. Untuk itu seorang aktor harus merasakan sensasi dan kedalaman rasa sebagai tanggung jawab dari aksinya. Karena itu pula seorang aktor harus benar-benar mendisiplinkan diri dalam berlatih. Tidak boleh ada istilah lupa atau lalai dalam berlatih. Setiap aktor berkomitmen dalam pekerjaannya. Komitmen membutuhkan ketulusan dan aktor harus merasakan kehadiran kualitas moral dalam komitmen yang dibangun. Dalam membangun komitmen kerja atau berkarya ini, aktor bahkan harus merelakan segala hal yang berpotensi merusaknya. Tidak ada batas terhadap apa yang harus dilakukan aktor untuk membuat penonton merasa dan percaya. Oleh karena itu aktor wajib memiliki kemampuan untuk menyampaikan kualitas atau kekuatan moral ini agar penonton paham bahwa setiap hal kecil yang dilakukan dalam hidup memiliki signifikansi terhadap moralitas.

to be continued….

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.