Eduteater

Catatan Mengenai Pemeran dan Pemeranan dari Stella Adler Part 3

Catatan Mengenai Pemeran dan Pemeranan dari Stella Adler Part 3

4. Mengenai Gagasan
Stella Adler menyampaikan bahwa gagasan atau ide adalah segalanya. Tidak ada sesuatu yang melampaui gagasan. Keseluruhan kerja akting atau pemeranan adalah kerja memberi (melayani). Di atas segala hal, aktor adalah seorang yang dermawan. Ia tidak akan menimbun kekayaannya sendiri. Dia harus menyampaikan keindahan atau kehebatan gagasan pengarang kepada penontonnya. Namun satu hal yang perlu dicatat sebelum aktor memberikan segala kemurahan hatinya adalah bahwasanya ia harus memiliki sesuatu untuk diberikan. Gagasan-gagasan tidak akan muncul begitu saja, bahkan gagasan tidak akan muncul melalui suara (wicara atau dialog). Gagasan muncul dari dan melalui pikiran. Teater dibangun dari pembangkitan dan pengelolaan pikiran. Teater adalah edukasi bagi pikiran. Seseorang bisa saja menari atau menyanyi lepas tanpa pikiran, namun tidak demikian dengan akting.

Untuk mendukung atau melatih pikiran di mana gagasan muncul, kerja pengamatan secara mendetil harus menjadi kebiasaan. Kemudian aktor harus mencatat apa saja yang diamati, disukai dan yang tidak disukai. Kebiasaan ini harus dibina setiap hari. Pengamatan dan catatan akan merangsang gagasan. Bagi aktor, gagasan ini dimunculkan ketika menyampaikan gagasan pengarang yang tertulis di dalam lakon. Kalimat-kalimat dalam teks dialog tidak serta merta hidup hanya dengan diucapkan dan menggerakkan anggota badan ketika mengucapkan. Bahkan tidak pula dengan segala hal yang telah diatur sedemikian rupa. Kalimat dialog akan menjadi hidup ketika aktor menghidupkannya melalui laku aksi yang sesuai takaran. Nah, untuk inilah gagasan diperlukan. Seseorang menyampaikan kalimat, “aku lapar”, dengan tangan memegang perut dan tangan menghentak meja menghasilkan makna yang sangat berbeda. Untuk itu akting yang dilakukan harus sesuai dengan makna kalimat seperti kehendak lakon.

Banyak pemeran pemula yang mencoba menghidupkan (memberi gagasan) kalimat dialog karakter yang diperankan ketika dia sedang menghafal atau berlatih seorang diri. Ia dengan demikian tidak mengindahkan gagasan lakon secara keseluruhan. Ia hanya memperhatikan karakter yang diperankan dan gagasan dari kalimat per kalimat yang diucapkan karakter lakon. Kemudian yang menjadi kegagalan besar sebelum dipentaskan adalah kalimat dialog tersebut telah diyakini kebenaran interpretasinya oleh si pemeran. Ketika pada waktu latihan gabungan dikerjakan di mana semua pemeran yang terlibat saling bertemu, si pemeran menyampaikan kalimat dialognya persis seperti ketika ia latihan seorang diri. Ia menjadi lupa bahwa akting merupakan aksi dan reaksi, sementara yang ia kerjakan hanyalah aksi karena melakukan persis apa yang telah ia latihkan seorang diri. Padahal, seperti dikatakan oleh Adler di atas bahwa kerja akting adalah memberi, sedangkan dengan pola latihan semacam ini kerja akting berubah menjadi presentasi.

Dengan hanya melakukan presentasi, maka apa yang dilakukan aktor tidaklah lagi memberi namun pamer. Gagasan lakon yang hebat menjadi tipikal dan subyektif padahal seharusnya tersampaikan secara natural. Naturalitas akting dapat dicapai ketika aktor benar-benar memahami apa itu aksi-reaksi. Pemahaman ini akan membuat pikiran aktor senantiasa terasah untuk memproduksi gagasan singkat, cepat, dan tepat ketika bereaksi. Sementara dengan pola latihan yang cenderung keliru seperti disebutkan di atas, reaksi yang dilakukan menjadi dibuat-buat atau kaku karena telah dipersiapkan (dihafalkan) sebelumnya. Oleh Karena itulah Stanislavksy melarang pemeran untuk melakukan latihan seorang diri. Latihan sendiri akan membawa pemeran untuk membenarkan segala tindakan atau laku aksinya. Ia cenderung akan memperindah atau memperkirakan segala apa yang dianggapnya tepat. Dan jika sudah demikian maka, ia tinggal menampilkan apa yang telah ia yakini tersebut di atas panggung. Hal inilah yang sering dilakukan dan dianggap sebagai sebuah kewajaran. Padahal justru proses semacam itu akan menurunkan kualitas akting dan tidak mencerdaskan aktor karena mematikan spontanitas gagasan.

Baca juga : Catatan Mengenai Pemeran dan Pemeranan dari Stella Adler Part 1
Baca juga : Catatan Mengenai Pemeran dan Pemeranan dari Stella Adler Part 2

5. Imajinasi
Kerja imajinasi sangatlah cepat. Seorang aktor harus mampu melihat dengan cepat, tidak boleh lambat. Ia harus pula berpikir cepat dan berimajinasi dengan cepat. Di dalam banyak latihan, seorang aktor harus menstimulasi imajinasinya. Pelatih yang baik akan melakukan hal ini untuk mengetahui reaksi instan atau spontan dari aktor. Terkait imajinasi yang datang secara cepat dan mendadak, yang perlu dilakukan oleh aktor adalah melepaskannya. Ia tidak perlu menahannya dalam pikiran untuk menciptakan gambaran penuh dari imajinasi lalu kemudian memikirkan reaksinya. Melepaskan imajinasi yang datang mendadak membutuhkan pikiran mendadak pula. Pikiran yang menerima imajinasi apa adanya dan spontan bereaksi atasnya. Latihan semacam ini harus sering dikerjakan oleh aktor.

Prinsip dari melihat sesungguhnya adalah memindah atau memasukkan objek yang dilihat ke dalam pikiran dengan hati-hati untuk memberikan pengalaman apa yang dimasukkan dan membiarkannya tumbuh sendiri. Seseorang harus melihat sesuatu dengan sangat jelas dan tepat terlebih dahulu sebelum bisa menjelaskannya. Barulah kemudian ia bisa merefleksikannya kepada orang lain sehingga orang tersebut memiliki pengalaman (penglihatan) yang sama. Karena itulah kesadaran untuk selalu membuka mata dan menangkap apa yang ada dalam kehidupan memberikan gambaran kenyataan. Hal ini dengan demikian perlu terus dilakukan sehingga vokabulari pengalaman atas apa yang dilihat dan tergambar di kepala menjadi variatif, jelas, dan lengkap.

Terkait dengan kerja akting di mana bukan kenyataan hidup sebagai sumber amatan melainkan imajinasi (kenyataan dalam lakon), maka aktor akan dengan mudah dan cepat memiliki gambaran tersebut dan menghidupkannya. Pengamatan menurut Adler akan menjebak orang untuk menjadi bankir dalam hal fakta dan objek. Seseorang ketika ditanya berapa uang yang ia punya, mungkin akan menjawab dengan menerangkan jumlah uang yang dimiliki. Ketika orang tersebut ditanya tentang apa yang ia lihat, mungkin ia akan menerangkan begitu saja apa yang telah ia lihat. Orang ini tentu saja bukanlah aktor. Seorang aktor harus mempersilakan fakta dan objek bebricara padanya. Ia akan mendaftarnya secara personal apa saja yang telah ia saksikan. Karena itu, ketika ditanya berapa jumlah uang yang dimiliki, seorang aktor akan menjawab, “saya punya 2 lembar seratusan ribu, tapi yang satu agak kusut, mungkin karena sudah terlalu sering dilipat, tapi masih laku agaknya”. Aktor akan menjawab dengan lebih hidup karena ia menghidupkan objek pembicaraan. Ketika seorang aktor menjelaskan atau menguraikan sesuatu hal itu harus benar-benar muncul dan tumbuh dalam dirinya. Aktor adalah seorang yang mampu membedakan antara laporan dan keyakinan. Menjelaskan sesuatu kepada penonton harus meyakinkan dan menumbuhkan keyakinan sehingga apa yang disampaikan dipercayai. Keahlian merepresentasikan imajinasi secara nyata ini mau tidak mau harus dimiliki seorang aktor.

Kemampuan ini perlu dilatihkan, perlu penyiapan. Ketika segala persiapan telah memadai, aktor akan yakin memasuki setiap ruang dan bagaimana beraksi di atas panggung. Ia bisa dengan mudah menyesuaikan diri dan yakin. Pengamatan dan pencatatan menjadi bagian yang penting untuk mengolah pikiran dan menyesuaikannya dengan imajinasi lakon. Imajinasi yang muncul dengan mendadak bersamaan dialog lawan main. Jika tidak cepat menangkap imajinasi yang terkandung dalam dialog, aktor akan kesulitan menyesuaikan dirinya. Jika dipaksa, maka reaksi yang muncul adalah kepalsuan. Aktor tidak bisa membohongi ini karena tubuhnya akan mengetahui bahwa reaksi yang dilakukan tidaklah sungguh-sungguh. Akting dapat dilakukan dengan jujur hanya bisa aktor meyakininya. Itulah esensi dari realisme.

6. Kenyataan Lakon
Kenyataan atau fakta peristiwa lakon tidaklah berada dalam teks atau kalimat dialog namun di sebaliknya. Oleh karena itulah Adler menekankan pentingnya memahami kenyataan atau kehidupan lakon sebelum memasuki dialog peran. Persis seperti orang bermain piano di mana ia tidak langsung memainkan sebuah komposisi melainkan memahami nada, kekuatan dan kelincahan jari serta harmoni. Latihan pemahaman dasar ini tentunya memakan waktu tidak sebentar sebelum pada akhirnya memainkan sebuah komposisi musik sesungguhnya. Demikianlah kiranya yang diperlukan aktor sebelum melatihkan kalimat dialog, ia harus memahami sepenuhnya apa yang ada di sebalik kalimat-kalimat tersebut. Jika aktor hanya bekerja berdasar kalimat dialog yang harus diucapkan, maka meskipun ia telah memasuki dunia pemeranan selama puluhan tahun karyanya dapat dianggap gagal.

Aktor harus berada di ruang dan waktu “kini”. Kekinian atau ke-saat ini-an tidak bisa dilatihkan. Ia berada di ruang dan waktu yang sama dan sementara. Tanggung jawab actor untuk berada di ruang dan waktu tersebut. Artinya, seorang aktor tidak bisa mengucapkan kalimat dialog tokoh yang ia perankan dalam sebuah lakon dengan nada, irama, tekanan, dan emosi yang sama di ruang dan waktu yang berbeda. Pementasan hari pertama tentu saja berbeda situasinya dengan pementasana hari ke dua dan seterusnya. Aktor harus benar-benar berada di saat in, saat dimana cerita itu dilangsungkan. Ia tidak bisa sekedar menghapal kalimat dialog karena dengan demikian ia telah menciptakan kenyataan sendiri dan tidak menghidupkan kenyataan lakon pada saatnya.
Pelajaran dari Adler ini menegaskan bahwa aktor harus menghidukan karakter yang ia perankan secara utuh sebelum ia memasuki dunianya. Peran di dalam lakon selalu saja tidak utuh. Ia diciptakan oleh pengarang sesuai kebutuhan dalam penyampaian pesan lakon. Nah, untuk memahami segala tindakan tokoh yang diperankan, aktor harus memiliki kehidupan utuh tokoh tersebut. Misalnya saja, dalam sebuah lakon dikisahkan seorang pemuda patriot yang membela negaranya. Di dalam keseluruhan adegan lakon tersebut sang pemuda langsung hadir sebagai pemuda. Seorang pemeran dengan begitu tidak disajikan masa kecil atau masa lalu pemuda tersebut oleh penulis. Tugas dan tanggung jawab aktorlah untuk mencipta dan merangkainya hingga menjadi figur pemuda patriot tersebut. Pun demikian dengan masa depan sang pemuda ketika peristiwa yang dialaminya telah selesai menurut lakon. Aktorlah yang memiliki masa depan pemuda tersebut.

Jika pemain piano harus belajar nada, not, dan lain sebagainya, aktor harus mempelajari kenyataan tokoh yang ia perankan melalui kalimat dialog dan keterangan yang tertulis di dalam lakon. Aktor perlu menelisik makna atau kenyataan di sebalik kalimat dialog yang diucapkan. Aktor harus menelisik pandangan tokoh lain terhadap karakter yang ia perankan. Siapa yang mendukung, siapa yang menghalangi, untuk apa ia berjuang, mengapa ia berjuang, dan lain sebagainya. Semua hal terkait dengan pribadi dan kehidupan yang melingkupi tokoh yang akan diperankan haruslah dipahami selengkap dan sedetil mungkin. Hanya dengan pemahaman menyeluruh semacam ini, aktor bisa menyatakan kenyataan lakon dalam laku aksinya. (**)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.