Uncategorized

Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (2)

Oleh: Eko Santosa

2. Latihan Dasar Yang Dilewatkan

Proses latihan yang membiasa seringkali menghasilkan terlewatinya latihan-latihan dasar yang berkait langsung dengan peran. Latihan dasar yang ada sudah dijadikan satu paket ke dalam apa yang disebut dengan pemanasan yang mana materinya tidak mengait langsung pada peran. Di dalam latihan tubuh misalnya, materi dasar penerapan bahasa tubuh ketika berekspresi tidak mendapatkan tempat. Juga misalnya dengan kelenturan tubuh yang mesti nampak ketika pemeran beraksi. Memang latihan pemanasan mengajarkan kelenturan, tetapi bukan kelenturan yang berhubungan khusus dengan peran melainkan kelenturan tubuh secara umum. Padahal di dalam akting realis, kelenturan ini menjadi syarat utama. Seorang pemeran yang di dalam aksinya harus memegang gelas anggur perlu dilatih cara memegang anggur yang tepat dan bagaimana berekspresi dengan tetap memegang gelas itu. Latihan-latihan kecil semacam ini jelas sekali terlewatkan karena fokus utamanya ada pada teks lakon.

Latihan-latihan dasar dalam paket pemanasan selalu saja bersifat umum sementara latihan dasar yang bersifat khusus seolah-olah tak lagi diperlukan. Keadaan ini lah kemudian yang memicu lahirnya aksi (gaya akting) tipikal. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki janggut panjang pasti akan mengelus-elus terus janggutnya ketika berbicara. Seseorang yang memegang kipas bisa dipastikan selalu akan menggerakkan kipasnya baik ketika berbicara, beraksi atau ketika mendengarkan lawan berbicara. Seolah-olah kipas itu memang wajib untuk digerakkan bahkan ketika tokoh tidak sedang dalam kegerahan. Akting tipikal ini jelas tidak memerlukan latihan khusus karena metode dasarnya hanya mimesis (menirukan apa yang pernah dilakukan oleh aktor-aktor di atas panggung sebelumnya dan dianggap sebagai patokan). Karena hanya mimesis, maka ukurannya pun menjadi tidak sesuai kebutuhan melainkan sesuai kebiasaan. Akting semacam ini bertebaran di panggung-panggung teater dramatik. Hebatnya lagi, akting yang semacam itu telah dianggap sebagai kebenaran. Padahal jelas belum tentu, karena ekspresi antara orang kaya memegang kipas berbeda dengan orang yang sok kaya atau banci. Berbeda pula tentunya dengan orang memegang kipas ketika berada dalam ketegangan atau dalam suasana gembira. Namun karena tidak adanya latihan dasar khusus menerapkan kelenturan tubuh terkait peran, maka semuanya menjadi sama saja.

baca juga : Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (1)

Dalam hal berbicara atau berdialog pun sama halnya. Latihan dasar membaca teks per suku kata untuk mempertegas pelafalan, pengaturan jeda serta nafas jarang sekali diadakan. Latihan membaca hanya sekedar membaca tanpa pretensi apapun baik dengan volume suara keras maupun dengan berbisik juga sudah mulai hilang dari peredaran. Padahal fungsi tegas dari latihan ini adalah aktor tidak tergesa-gesa dalam menentukan ekspresi tokoh melalui dialog sebelum semua makna jelas dipahami. Semua jenis latihan semacam ini tenggelam ke dalam pola latihan yang telah membiasa di mana para aktor membaca naskah seperti telah memahami seluruh makna kata yang disampaikan. Interpretasi lesap dalam proses pembacaan. Watak tokoh yang akan diperankan langsung mendapatkan gambaran jelas sejak dalam proses pembacaan dan gambaran ini ditentukan oleh para aktor sendiri. Meskipun didapati kenyataan bahwa dengan latihan semacam ini aktor akan sulit mengubah ekspresi dialognya (nada, tekanan tinggi-rendah, keras-lembut suara, emosi) ketika sutradara menyatakan bahwa ekspresi yang disajikan kurang tepat pada saat latihan lepas naskah, namun tetap saja kebiasaan ini dilakukan terus dan terus. Latihan dasar suara melalui pembacaan naskah memang membutuhkan kesabaran, namun hal itu mesti dilakukan, bukan kemudian ditinggalkan.

Alasan utama kebiasaan semacam itu tetap terjaga adalah ketidaksabaran untuk melihat hasil. Sutradara atau produser (termasuk aktor tentu saja) ingin segera melihat hasil meski dalam bentuk kasar sehingga wujud nyata cerita di atas pentas sudah tergambar. Teater memang tidak bisa memberikan gambaran nyata karena lakon sebagai sumber ekspresi hanyalah berupa tulisan. Orang yang bekerja di teater hanya bisa membayangkan peristiwa yang ada pada lakon dalam pikirannya. Apa-apa yang dibayangkan dalam pikiran ini biasanya mendesak untuk segera diwujudkan. Apa-apa yang diimajinasikan ingin segera di-nyata-kan. Keadaan inilah yang seringkali membuat para pekerja teater ingin segera melepaskan naskah dan mewujudkan seluruh cerita. Sutradara mengharap para aktor segera hafal dialog lalu kemudian menampilkan peran dalam latihan tanpa naskah sehingga sutradara mudah dalam mengarahkan. Namun bagaikan lingkaran setan, arahan sutradara sulit diubah oleh aktor dalam konteks ekspresi dialog (suara) karena hal itu sudah ditentukan oleh aktor sendiri sejak tahap membaca. Jika keadaan terjadi semacam ini, lalu apa yang mesti dilakukan? Tentu saja tidak ada yang bisa diubah dengan segera selain membiarkan latihan terus berlanjut hingga pementasan. Artinya, apa yang didapatkan pada saat proses membaca, itulah nanti yang akan tersaji di atas pentas. Padahal, jika latihan-latihan dasar terkait dengan tubuh peran dan ekspresi suara dilakukan dengan sabar, pengubahan atau penyesuaian lebih mudah dilakukan ketika tahap latihan sudah sampai pada lepas naskah dan blocking.

=== bersambung ===

One thought on “Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (2)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.