Eduteater

Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (3)

Oleh: Eko Santosa

3. Pembentukan

Latihan semestinya memberikan pendalaman bukan membentuk. Konsep ini semestinya bisa dipegang teguh mengingat prinsip kejiwaan tokoh dalam lakon satu berbeda dengan lakon lain. Bahkan tokoh sama dalam lakon sama dengan sutradara berbeda pun akan mengalami perbedaan interpretasi. Pendalaman dalam latihan tentu saja tidak melulu soal action (aksi dalam pemeranan) tetapi juga pemahaman atas tokoh yang akan diperankan dengan segala ciri keberadaannya; fisik, mental, suara, dan keunikan tokoh tersebut untuk mengada (hidup di atas panggung). Pemahaman atas tokoh tidak bisa dilatihkan dengan memberikan contoh laku tokoh tersebut karena pemberian contoh laku menghasilkan aksi tiruan bukan pada tokoh yang akan dimainkan melainkan pada si pemberi contoh. Jika yang seperti ini dilakukan, maka pelatih telah membentuk pemain tersebut agar berlaku seperti dirinya ketika memerankan tokoh lakon yang akan dimainkan.

baca juga : Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (2)

Pembentukan ini akan menghasilkan memori atas tindakan dan menjadikannya sebagai pengalaman sensasi yang sulit untuk dihilangkan. Terlebih ketika proses peniruan terhadap pelatih ini melibatkan penilaian benar–salah, di mana peniru dianggap benar jika mampu menirukan dengan baik. Padahal yang ditirukan pemain tersebut bukanlah aksi tokoh lakon yang sesungguhnya. Memang, proses latihan peran tidak pernah memerlukan waktu singkat tetapi tidak kemudian harus dipersingkat dengan memberikan contoh aksi agar pemain segera bisa memenuhi harapan pelatih. Keadaan ini tidak akan membuat pentas teater menjadi indah, namun justru menggugurkan makna keindahan itu sendiri karena permainan para pemeran hanya sekedar menirukan pelatih.

Banyak sekali pelatih teater amatir yang melakukan proses pembentukan semacam ini. Kebutuhan untuk segera melihat hasil melahirkan ketidaksabaran yang mengarah pada pembentukan instan. Akting yang semestinya alami tidak bertumbuh dalam kondisi semacam ini. Pemeran berubah fungsi menjadi pekerja yang bekerja sesuai kemauan pelatih. Pemeran menjadi hasil cetakan dengan model utamanya adalah pelatih. Jika sudah demikian, maka sesungguhnya para pemain telah dikebiri haknya untuk berkreasi. Pengalaman demikian dalam waktu lama akan menghasilkan jenis pelatih pembentuk yang sama pula ketika sang pemain menjadi pelatih di kemudian hari.

Model pelatihan pemeranan semacam ini terus berjalan dari tahun ke tahun tanpa ada perubahan dalam banyak kelompok teater amatir. Bahkan beberapa pelatih profesional menyatakan pentingnya membentuk pemeran daripada menumbuhkan kebisaannya secara alami. Dalam materi tertentu terutama dasar berperan, pembentukan memang diperlukan dalam sebuah proses pembelajaran peran karena tanpa itu calon pemeran tidak bisa melaksanakan apa yang dilatihkan dengan benar dan jika dilakukan seperti itu akan berakibat fatal bagi calon pemeran tersebut. Dalam hal ini misalnya adalah pelatihan dasar olah tubuh, konsentrasi, dan olah suara. Latihan dasar tubuh perlu pembentukan dalam konteks perlu dilatihkan dan dilakukan dengan cara yang benar, sebab jika tidak akan menhasilkan cedera. Namun sayangnya, hingga sampai pada tahap memerankan tokoh, pelatih masih melakukan pembentukan dengan skala benar-salah menurut interpretasinya.

Hasil dari pelatihan memainkan peran yang semacam itu adalah akting tipikal atau ekspresi seragam dalam menyatakan satu emosi. Pemeranan sebagai karya seni menjadi kerajinan dengan proses latihan semacam ini. Pemeran tidak memiliki kebebasan berekspresi sesuai interprestasinya atas lakon. Yang lebih parah dari itu adalah bahwa sesungguhnya memang pemeran tidak diberikan dasar pemahaman adekuat atas lakon, peran yang akan dimainkan dan segenap ruang lingkup lakon yang ada. Secara nyata, pemeran dalam model pelatihan semacam ini memang hanyalah pekerja yang baru tahu makna apa yang dikerjakan setelah pekerjaan itu dilakukan berulang. Artinya, banyak waktu terbuang untuk memahami sesuatu yang bisa dilakukan dengan pengaktifan imajinasi, kognisi, dan komunikasi dalam waktu lebih singkat. Dengan dasar pemikiran bahwa latihan pemeranan adalah pembentukan, maka studio bukanlah laboratorium melainkan pabrik yang belum tentu baik kualitas produknya.

==== bersambung ====

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.