Eduteater

Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (4)

Oleh: Eko Santosa

4. Mementingkan Aksi

Selama ini pelatihan akting selalu mendahulukan aksi daripada reaksi. Padahal akting dalam teater itu semestinya adalah reaksi karena ada peristiwa pendahulu sebelum lakon. Pementingan aksi ini masih pula didukung dengan fiksasi. Di dalam proses fiksasi pelatih menetapkan aksi yang mesti dilakukan oleh pemeran. Aksi ini benar-benar ditetapkan dan tidak boleh diubah pun demikian dari reaksi atas aksi yang telah ditetapkan ini. Alhasil tidak ada sama sekali reaksi karena reaksi yang ditetapkan adalah sama dengan aksi. Reaksi semestinya sangat tergantung aksi sehingga ia jelas tidak bisa tetap atau bahkan tidak bisa diprediksi namun berjalan secara alamiah sebagai responsi atas aksi yang terjadi. Namun dengan ditetapkannya reaksi, maka reaksi sudah dengan sendirinya direncanakan sehingga ia tak bisa lagi disebut reaksi karena telah terencana. Hanya aksilah yang biisa direncanakan bukan reaksi.

Konsepsi reaksi dalam berperan merupakan keniscayaan karena memang lakon tidak pernah dimulai dari aksi melainkan reaksi atas cerita atau kondisi sebelumnya yang tak tertuliskan dalam lakon tersebut. Lakon teater adalah serangkaian peristiwa untuk menyampaikan pesan tertentu. Awalan dari rangkaian ini jelas tidaklah terceritakan – paling hanya ditulis (kalaupun ada) dalam bentuk ringkasan cerita pendahulu tanpa dialog – sehingga pemeran perlu merangkai cerita atau peristiwa awalan sebagai pijakan dasar motivasi dalam berbuat. Dengan demikian, aksi awal seorang pemeran merupakan reaksi atas kondisi atau latar belakang cerita yang tak tersurat. Namun demikian, pemahaman ini jarang sekali ditemukan sehingga latihan peran selalu dimulai dari aksi.

baca juga : Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (3)

Pementingan aksi yang mengarah pada fiksasi ekspresi memang terasa lebih mudah dalam pengarahan namun hal itu akan membuat pemeran menjadi seorang pekerja. Ia bekerja atau berlaku hanya sesuai arahan pelatih. Tanpa arahan ia tidak bisa berbuat karena memang tidak dilatih untuk itu. Sementara itu, pemeranan adalah karya seni dan pemeran adalah seniman. Jika model pelatihan menempatkan pemeran sebagai sekedar pekerja, maka aksi pemeranan yang dilakukan di atas pentas adalah bukan karya pemeran itu. Dalam konsep pertunjukan hal ini sangat diperbolehkan, namun sangat tidak diperkenankan dalam konteks seni peran. Semestinya sutradara (pelatih) adalah ahli dalam mengarahkan dan pemeran ahli dalam beraksi. Akan tetapi karena proses fiksasi yang dilakukan, maka pemeran hanyalah menjadi pewujud rancangan aksi yang telah ditentukan oleh sutradara. Sutradara dengan demikian bukan lagi pengarah (pemberi arah) namun penuntun (memberi arah sambil menuntun pemeran menuju arah yang telah ditentukan). Seni peran dengan demikian telah dimatikan. Pemeran menjadi zombie.

Kesadaran tentang reaksi sebagai dasar dari seni peran mesti dimiliki oleh pelatih. Tidak mudah memang menginternalisasi pemahaman semacam ini karena kata kerja utama pemeranan adalah “aksi”. Kultur melatihkan aksi telah lama dilakukan dan tidak ada protes atasnya sehingga pemberlakuan aksi sebagai dasar seni peran seolah-olah adalah keniscayaan. Sementara dalam analogi keseharian, seseorang makan itu karena lapar atau minum karena haus. Jadi “makan” adalah reaksi atas “lapar”, dan “minum” adalah reaksi atas “haus”. Jadi sangat tidak masuk akal sesungguhnya meminta seseorang untuk melakukan tindakan “makan” tanpa memberi alasan. Pun demikian sama menggelikannya dengan menyuruh seseorang makan dengan ekspresi tertentu dan menetapkan ekspresi itu tanpa memberi alasan mengapa harus seperti itu.

Sementara banyak pelatih dan atau sutradara yang mengenal konsep motivasi sebagai dasar tindakan. Konsep ini semestinya mengarahkan pemeran untuk beraksi berdasar motivasi, artinya mereaksi motivasi. Banyak pula pelatih dan atau sutradara mengetahui bahwa motivasi bukan saja alasan sebuah tindakan melainkan lebih mengarah pada tujuan tokoh dalam lakon. Dalam mencapai tujuan ini ditemukan banyak halangan atau hambatan baik dari dalam diri tokoh maupun faktor eksternal. Hambatan-hambatan telah ada sejak adegan pertama jika ditelisik dari keseluruhan lakon sehingga aksi sang tokoh adalah reaksi atas hambatan yang terjadi untuk mencapai tujuan. Dengan mementingkan dan bahkan menetapkan aksi sebagai dasar berperan, maka dengan sendirinya telah meniadakan hambatan itu. Satu hal yang sangat mustahil dalam konsep teater dramatik, karena hambatan adalah cikal bakal konflik yang menjadi inti pesan lakon. Pelatih dan atau sutradara yang menetapkan aksi sebagai landasan utama berperan dengan demikian sama saja menggiring pemeran menuju kemustahilan.

==== bersambung ====

One thought on “Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (4)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.