Eduteater

Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (5)

Oleh: Eko Santosa

5. Takut Keluar Dari Penjara Kebiasaan

Kenyamanan pola atau formula latihan cenderung membuat malas untuk kembali belajar. Seolah-olah tidak ada alternatif atau pendekatan lain atau karena pola latihan yang dilakukan pernah menghasilkan karya yang dianggap hebat sehingga pola itu perlu dipertahankan. Perkara sebuah karya hebat atau tidak sebenarnya mengait banyak hal, secara umum (banyak terjadi) adalah peristiwa, ruang, dan waktu yang tepat bagi penonton (orang-orang yang hadir menyaksikan pertunjukan dan merasa terwakili kegelisahan, harapan, atau uneg-unegnya) ketika pertunjukan itu ditampilkan. Kondisi ini terkadang tidak memerlukan telaah akting atau artistik yang njlimet. Persis seperti kondisi masyarakat yang sudah jengah dengan ketidakadilan penguasa namun tidak berani menyuarakannya lalu tampilah sekelompok teater dengan cerita yang menyuarakan kegelisahan masyarakat tersebut. Sajian kelompok teater ini, sangat tepat dengan peristiwa, ruang, dan waktu yang ada sehingga masyarakat yang hadir menonton akan serempak menyatakan bahwa pertunjukan itu hebat. Jika karena kehebatan semacam ini kemudian kelompok teater tersebut terus menggunakan pola yang sama dalam setiap latihan, maka bisa dipastikan kehebatan tersebut segera menjadi kenangan yang selalu dipaksa untuk hadir sebagai fakta di kemudian hari.

Pemaksaan kenangan akan kehebatan yang sebenarnya juga belum tentu hebat jika ditelaah secara menyeluruh ini mengakibatkan timbulnya rasa malas untuk menelisik ulang apa sebab kehebatan itu muncul. Kemalasan ini melahirkan formula latihan puncak di mana anggapan bahwa latihan selain dengan formula itu tidak akan (belum tentu) menghasilkan kehebatan terpelihara dengan baik. Dari sinilah penjara kebiasaan itu dibangun dan nikmat untuk ditinggali. Formula latihan puncak yang sebenarnya tidak bisa dikatakan puncak ini menjadi resep wajib dalam setiap produksi. Dalam konteks inilah apa yang disampaikan oleh Peter Brook dalam The Empty Space menemukan bukti bahwasanya produksi teater yang proses latihannya dilaksanakan dalam kurun waktu lama, capaian artistiknya bisa jadi justru kalah dengan pementasan teater yang proses latihannya ala kadarnya.

baca juga : Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (4)

Kegagalan artistik dalam produksi teater tersebut menurut Peter Brook karena kuantitas latihan yang dilakukan tidak bertemu dengan kualitas lakon yang akan dimainkan. Terlebih ketika proses latihan yang berlangsung lama itu telah menjadi formula. Pementasan teater, bukan soal berapa lama berlatih dalam produksi melainkan soal kualitas artistik yang ditampilkan. Model latihan dengan demikian berkaitan erat (bersebanding) dengan kualitas artistik. Oleh karena itu, dalam proses produksi, model atau pendekatan latihan dapat saja berganti karena ia tidak harus menjadi tradisi yang mesti diturunkan dari generasi ke generasi. Proses penciptaan teater adalah proses pembelajaran bagi semua yang terlibat. Perbedaan peristiwa, ruang, dan waktu tersedia bagi sebuah pementasan membawa konsekuensi logis perbedaan proses yang mesti dilakukan. Ada hal-hal yang tidak bisa diubah semisal proses hafalan, namun banyak hal yang dapat berkembang terutama dalam hal penciptaan peran.

Kebiasaan memang dengan mudah memenjara seseorang dan kemungkinan besar justru akan menutup imaji kreatif yang dimiliki. Akan tetapi dalam sisi lain, kebiasaan itu membuat segalanya tampak mudah sehingga melenakan. Para pelaku kebiasaan ini tanpa disadari telah menumbuhkan semangat negatif dalam berkarya. Penekanan pada kehebatan masa lalu selalu akan diusung untuk melegitimasi proses yang dilakukan. Jika hasilnya tidak memenuhi harapan penonton, justru penonton yang dipersalahkan karena dianggap tidak berada dalam frekuensi artistik yang sama. Anomali yang cenderung cacat jiwa ini telah menghianati hakikat dasar sebuah pementasan (pertunjukan) teater yang mana penonton merupakan salah satu unsur pokok. Tanpa penonton, tidak ada yang namanya pertunjukan.

Mungkin uraian di atas sedikit aneh atau terlalu menggeneralisir, namun fakta lapangan yang memperlihatkan bahwa pementasan teater di banyak kota hanya ditonton oleh kalangan sendiri dapat dijadikan acuan. Di luar kalangan sendiri atau penonton awam tidak menjadi hitungan karena akan dianggap tidak memiliki kesamaan frekuensi sehingga tanggapan mereka atas pementasan diabaikan. Sementara kalangan sendiri bisa saja berada dalam posisi abu-abu antara memberi kritik, pujian, atau sekedar basa-basi dalam kalangan. Kondisi yang mengharuskan penonton memahami konsep atau sajian yang ditawarkan masih banyak terjadi dan ketika para penonton tidak mampu memahami itu langsung saja cap bahwa “penonton tidak mengerti seni” atau semacamnya diberikan. Akhirnya, jarak antara penonton awam dan teater semakin jauh. Padahal akar soalnya sangatlah sederhana yaitu pelaku teater yang keras kepala untuk menerapkan satu formula dalam semua produksi.

Keengganan keluar dari penjara kebiasaan ini, selain kekeraskepalaan atas satu formula latihan yang pernah melahirkan kehebatan karya adalah kegagalan yang tak ikhlas diterima sebagai peristiwa penting dalam proses perkembangan. Banyak pelaku teater yang berusaha keluar dari adat kebiasaannya dalam melatih pemeran namun berkutat dalam alur yang demikian; coba sekali – gagal – terus kembali ke formula awal. Setiap kegagalan akan dilarikan kembali ke formula awal sehingga akhirnya hanya formula awal itu yang dianggap paling baik untuk diterapkan. Padahal kegagalan sebuah cobaan dalam proses teater merupakan hal lumrah dan terjadi pada setiap pekarya teater handal. Kegagalan dalam satu kali cobaan tentu saja bukan kegagalan melainkan sebuah pembelajaran yang dapat ditarik menjadi dasar pijakan baru bagi proses berikut. Dalam konteks penikmatan karya, rasa atau makna sebuah karya hadir dalam diri penikmat setelah disajikan berulang. Bahkan karya musik klasik yang hebat pun tidak bisa dinikmati dalam sekali dengaran. Artinya, keluar dari penjara kebiasaan membutuhkan keberanian dan teater adalah wadah yang tepat untuk itu. ====bersambung===

One thought on “Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (5)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.