Eduteater

Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (6)

Oleh: Eko Santosa

6. Bermain Menjadi Hal Langka

Prinsip teater itu bermain tetapi telah berubah menjadi arena ketegangan. Kondisi tegang tercipta bukan hanya karena soal jam terbang pemeran, tugas individu yang belum dia selesaikan, atau soal pandangan artistik yang senantiasa berubah, namun juga soal model pelatihan yang dilakukan. Pemeran yang tidak banyak memiliki jam terbang bisa dipastikan akan selalu berada dalam kondisi ketegangan ketika materi pelatihan peran mulai dilakukan. Ia yang meskipun  kebagian peran kecil akan terlalu bersemangat untuk tidak melakukan kesalahan – menjalankan apa yang diperintahkan. Semangat yang terlalu dalam menjaga hal-hal yang mesti benar ini akan membawanya pada ketegangan. Hasilnya dalam banyak latihan atau cobaan ia justru melakukan kesalahan bahkan ketika ia sendiri merasa telah benar, namun tetap saja sutradara merasa ada yang salah dalam diri pemeran tersebut. Kesalahan utamanya tentu saja bukan soal hafalan teks atau teknis-mekanis beraksi melainkan absennya jiwa ketika aksi diperagakan. Kondisi santai atau rileks memang sangat diperlukan dalam berperan. Seorang pemeran pemula pasti mudah memahami makna rileks dalam pikirannya namun sangat sulit mengalirkan makna tersebut ke seluruh tubuhnya. Sutradara yang baik akan menanamkan sikap rileks ini melalui dialog antara dirinya dan pemeran serta memberikan tips dan latihan-latihan kecil untuk mengendurkan ketegangan fisik. Akan tetapi banyak pula sutradara atau pelatih yang tak cukup waktu untuk memperhatikan hal kecil semacam ini sehingga peran kecil yang dimainkan oleh pemeran pemula tersebut dianggap telah cukup dengan seperti itu. Benar secara teks dialog dan gerak-gerik tubuh ketika beraksi meski tanpa kehadiran jiwa. Bisa saja seperti itu, namun ketegangan tak bisa sirna dalam diri pemeran pemula dan kondisi rileks tak terasa di dalam tubuh. 

baca juga : Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (5)

Tugas individu yang banyak dalam bentuk arahan laku atau pengayaan latihan mandiri menyumbang ketegangan yang besar efeknya. Pemeran dalam sebuah produksi teater amatir seringkali memiliki tugas sampingan berkait keproduksian. Tugas-tugas tersebut tentu saja tidak dalam skala besar namun jelas membebani. Jika pemeran tersebut tidak menyiapkan diri dengan baik bisa jadi ketegangan yang ada justru berlipat. Ia harus menyelesaikan tugas keproduksian dan di saat yang sama tugas-tugas pemeranan yang menjadi tanggung jawabnya juga harus diselesaikan. Pikiran akan tugas individu ini merupakan pancingan yang dahsyat bagi ketegangan. Bahkan ketika seorang pemeran tanpa tugas tambahan apapun dalam produksi namun belum menyelesaikan latihan mandiri yang dianjurkan sutradara pasti akan tegang dalam menghadapi latihan. Di dalam proses pemeranan sutradara sering memberikan arahan tambahan bagi pemeran untuk meningkatkan kualitas seni perannya. Arahan ini secara tidak langsung menjadi beban individu pemeran. Jika pemeran tidak mendapatkan pendampingan untuk mengatasi persoalan ini, maka ketegangan akan terus terpelihara sampai dengan hari pementasan.

Kondisi lain yang paling sering menghasilkan ketegangan adalah pandangan artistik yang terus berubah. Perubahan pandangan ini secara konsep bisa dikatakan tidak ada masalah namun dalam aplikasinya melahirkan banyak masalah. Tidak saja masalah itu menimpa tim tata artistik tetapi juga menimpa pada pemain. Bayangkan saja, dalam satu latihan kursi yang diduduki pemeran berada di panggung kiri namun dalam latihan berikutnya dipindah ke panggung kanan. Hal yang sederhana ini akan mempengaruhi pola blocking dan dengan demikian akan berpengaruh pada moving para pemeran yang ada di dalam adegan tersebut. Perubahan semacam ini yang dilakukan terlalu sering pasti akan menghasilkan ketegangan dalam diri pemain karena membuat semuanya menjadi tidak pasti. Selain itu perubahan visi artistik yang banyak terjadi adalah konsep yang disampaikan tidak segera diwujudkan sehingga ketika latihan berjalan, tata artistik tidak pernah tersedia. Baru ketika latihan terakhir semua benda artistik yang akan digunakan dilengkapi dan ditata sebagaimana konsepnya. Tentu hal ini akan melahirkan ketegangan bagi pemeran karena mereka tidak memiliki cukup waktu untuk mengeksplorasi dan membiasakan diri dengan semua benda panggung yang ada. Belum lagi ketika tata artistik ini masih harus mengalami proses penyempurnaan setelah latihan terakhir. Misalnya saja dinding ruang baru dicat siang hari menjelang pementasan sehingga ketika pentas berjalan, cat tersebut masih basah. Bukan soal artistik saja yang akan tampak kurang baik namun pemeran harus mampu bermain di ruang dengan dinding yang catnya masih basah sehingga ia harus berhati-hati agar cat tersebut tidak menempel pada busana. Bisa dibayangkan betapa tegangnya pemeran tersebut ketika pentas. Ia harus konsentrasi dengan karakter yang diperankan namun dalam waktu sama ia harus menjaga dirinya dari cat dinding yang masih  basah.

Ketegangan-ketegangan yang terjadi pada diri pemeran sebenarnya dapat diatasi dengan model pelatihan dan pemberian pemahaman mengenai pengalaman estetik yang membentuk persepsi itu adalah subyektif. Dalam model pelatihan, bisa saja dilakukan beberapa kali latihan bersifat refreshing, bermain bersama, atau sekedar kumpul ngobrol dan saling berkelakar. Konsentrasi terlalu tinggi pada sesuatu yang akan dikerjakan seringkali justru menghasilkan kebuntuan. Dengan refreshing, kebuntuan dapat dikendurkan sehingga pikiran kembali segar dan dapat lagi digunakan untuk fokus pada pekerjaan. Namun sayangnya, latihan seringkali diadakan untuk mengejar target sehingga waktu penyegaran di tengah latihan mustahil untuk dilakukan. Jika sudah demikian, maka teater menjadi semacam kerajinan yang mesti dikerjakan demi mengejar pesanan. Model pelatihan bervariasi dengan mempertimbangkan kondisi fisik dan kejiwaan pemeran sangatlah membantu untuk mengembalikan kesadaran bahwa teater itu sesungguhnya adalah bermain. Teater adalah arena permainan di mana para manusia dan bukan robot yang bermain di dalamnya. Kesadaran ini pun dapat ditumbuhkan melalui pengalaman estetik yang diinternalisasi ke dalam diri lewat kegiatan refleksi selepas latihan. Dalam refleksi ini, persepsi individu atas pengalaman yang telah dilalui dapat saling bertemu, diperbincangkan, serta dibahas secara rileks di mana pelatih atau sutradara memberikan masukan-masukan ringan untuk meningkatkan kualitas persepsi. Situasi yang tenang akan membawa perasaan damai sehingga pemeran dapat menyadari kekurangsesuaian yang telah ia lakukan dan yakin untuk bisa memperbaikinya. Kondisi semacam ini sangat diperlukan agar pemeran tidak selalu terbeban dan terjebak terus menerus dalam ketegangan.

==== bersambung ====

One thought on “Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (6)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.