Eduteater

Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (8)

Oleh: Eko Santosa

  1. Pendeknya Waktu Kerja Dengan Elemen Tata Artistik

Proses penciptaan teater memerlukan jangka waktu tertentu dalam melaksanakan semua pentahapan. Umumnya, kerja pentahapan ini dilakukan oleh tim produksi. Namun tidak sedikit pula yang mencampurkan kerja artistik dan produksi dalam artian semuanya berjalan secara paralel. Dalam kondisi ini, pekerja artistik juga merangkap pekerja produksi. Tentu saja hal itu bukan merupakan satu hal yang ideal namun banyak terjadi. Sementara di dalam proses produksi yang telah memisahkan kerja antara artistik dan keproduksian pun masih mungkin terjadi kekurangan dalam pentahapan kerja kaitannya dengan target dan ketersediaan waktu.

Umum terjadi adalah tidak terpenuhinya target berdasar waktu. Jika menyangkut wilayah manajemen produksi, hal yang paling buruk dari keadaan ini adalah tidak banyaknya sponsor dan penonton yang hadir sehingga biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pemasukan. Akan tetapi jika keadaan ini menyangkut wilayah artistik – dan ini yang justru sering terjadi – maka kualitas pertunjukan lah yang menjadi korbannya. Kerja keras tim artistik yang tidak dapat bertemu dalam satu titik dengan tim produksi sementara kebutuhan artistik dinomor sekiankan pasti berpengaruh pada kualitas karya yang akan ditampilkan. Meski bukan kemudian hal tersebut merupakan kesalahan tim produksi semata tetapi sebuah upaya melakukan proses penciptaan karya namun hasil akhirnya justru mengorbankan karya itu yang nampak naif. Semestinya karya yang lebih didahulukan karena memang karya itu yang akan dipersembahkan.

baca juga : Catatan Tentang Pelatihan Teater Dan Aktor (7)

Kondisi-kondisi yang silap di dalam proses produksi tersebut memerlukan pembahasan panjang lebar karena dapat ditinjau dari berbagai sisi. Akan tetapi dari semua sisi bermasalah yang seringkali terjadi adalah tidak tercukupinya waktu bagi pemeran untuk bekerja (berlatih) dengan elemen tata artistik. Waktu yang tersedia panjang hanya digunakan oleh sutradara untuk melatih penghayatan peran. Giliran untuk menyelesaikan urusan tata artistik sedikit dikesampingkan. Akibatnya ketika elemen tata artistik telah disiapkan, waktu untuk bekerja dengannya sangat terbatas. Padahal jelas saja hal ini akan sangat mengganggu penampilan secara keseluruhan utamanya adalah pemeranan. Seorang pemeran memerlukan waktu cukup lama untuk menjadi akrab dengan lingkungannya.

Kecukupan waktu untuk bekerja dengan elemen artistik sangat penting maknanya bagi laku karakter lakon. Seorang pemeran tidak pernah bisa menyatu dengan lingkungan jika tidak dibiasakan hidup dalam lingkungan tersebut. Sama halnya dengan latihan wicara atau dialog yang dilakukan berulang-ulang dengan berbagai macam perubahan atau penyesuaian. Demikian halnya dengan kerja pemeranan bersama tata artistik. Semestinya waktu yang disediakan mencukupi sehingga latihan bisa diselenggarakan secara berulang dan perubahan atau pembenahan dapat dilakukan dengan baik, tidak tergesa-gesa.

Tata artistik sebagaimana laku pemeran, memerlukan kejelasan perwujudan. Artinya, bentuk, warna, ukuran, dan penataan mesti jelas sehingga pemeran benar-benar mengetahuinya. Banyak terjadi, pemeran diminta untuk latihan adegan perang dengan menggunakan pedang kayu, namun menjelang hari pementasan ternyata pedang yang dibuat oleh tim properti terbuat dari logam. Tentu saja hal ini akan berpengaruh dalam permainan karena berat pedang kayu berbeda dengan pedang logam. Banyak elemen tata artistik yang memerlukan perlakuan khusus terutama menyangkut bahan dan teknik pembuatannya seperti dalam tata busana. Beda bahan dan teknik pembuatan menghasilkan beda perlakuan sebab kesalahan sedikit bisa berakibat fatal. Misalnya saja, pemeran mengenakan rambut palsu, jika tidak memperhatikan teknik pemasangan bisa jadi rambut palsu ini terlepas saat pemeran sedang bermain dalam satu adegan. Itu salah satu contoh kecil saja belum lagi penggunaan alat berujung runcing seperti peniti atau jarum. Kesalahan teknik penggunaan dapat melukai pemeran. Kesalahan-kesalahan yang tidak terkait langsung dengan penghayatan peran semacam ini semestinya dapat dihindari.

Sutradara dan tim keproduksian perlu menyediakan waktu cukup untuk melatih pemeran bekerja dengan elemen tata artistik. Selain soal tempat dan waktu, hal ini juga berkait erat dengan alokasi pendanaan. Lamanya waktu yang digunakan untuk latihan dengan elemen tata artistik juga bermakna sudah tersedianya elemen tata artistik tersebut selama latihan. Hal inilah yang perlu dipikirkan dan diantisipasi oleh tim produksi untuk memperkirakan pembiayaan dan target waktu penyelesaian tata artistik. Semakin sering pemeran berlatih dengan elemen artistik yang benar-benar akan digunakan dalam pementasan hasilnya tentu akan semakin baik.

==== bersambung ====

One thought on “Catatan Tentang Pelatihan Teater dan Aktor (8)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.