Catatan Mengenai Pemeran dan Pemeranan dari Stella Adler Part 2

Catatan Mengenai Pemeran dan Pemeranan dari Stella Adler Part 2

  1. Membuat Elemen Kecil Menjadi Terkuat

Posisi aktor dalam sebuah industri teater mungkin hanyalah salah satu elemen kecil. Ia hanyalah person yang mengejawantahkah kehendak sutradara yang telah berasimilasi dengan pengarang. Namun tanpa aktor, pertunjukan teater juga tidak akan bisa dijalankan. Menjadi tugas aktor untuk mengubah elemen kecil tersebut menjadi elemen terkuat. Orang awam mungkin akan mudah mengatakan bahwa dua ditambah dua adalah empat, namun ungkapan orang awam tersebut mudah dilupakan. Sementara itu aktor dapat mengungkapkan dua ditambah dua sama dengan empat seolah-olah hal tersebut merupakan solusi hebat dari permasalahan yang telah berabad lamanya berada di dunia. Rasa atau takaran semacam itulah yang harus dimiliki oleh aktor. Takaran atau ukuran yang mewujud dalam laku aksi itulah yang membuat aktor sebagai elemen kecil namun terkuat di antara elemen lainnya dalam dunia teater.

Pemahaman ini akan membuat aktor memiliki takaran atau potensi. Dari sisi vokal misalnya, seorang aktor tidak hanya cukup memiliki vokal jelas namun juga kuat. Mungkin untuk televisi vokal jernih dan jelas sudah cukup, tapi tidak untuk panggung. Oleh karena itu, ketika aktor berada di atas panggung sebaiknya ia memiliki perasaan bahwa apa yang akan ia ucapkan harus terdengar di seluruh penjuru dunia. Karenanya, aktor perlu menyadari bahwa ia sosok yang sangat penting karena ucapannya akan di dengar dunia. Selain itu, aktor tidak akan mengucapkan kalimat itu atas namanya sendiri melainkan atas nama penulis naskah. Aktor harus mampu membedakan kalimat dalam bahasa sehari-hari dengan kalimat-kalimat penting (terpilih) dalam bahasa penulis.

Baca juga : Catatan Mengenai Pemeran dan Pemeranan dari Stella Adler

Dunia panggung dihidupkan melalui kata-kata, melalui kualitas bahasa. Cara aktor menyampaikan kalimat dengan demikian menjadi perhatian utama. Aktor harus fokus pada makna kalimat yang akan disampaikannya. Ia tidak boleh sekedar meniru baik dari sutradara ataupun aktor lainnya. Oleh karena itu ia harus menyesuaikannya sendiri dengan caranya sendiri. Untuk itu, aktor perlu disiplin berlatih berbicara dengan tepat. Aktor perlu berlatih mengungkapkan gagasan atau pikirannya melalui kalimat. Segala bentuk penyesuaian ini menjadi tugas dan tanggung jawab aktor sendiri. Hal ini tidak terkait tentunya dengan audisi atau sesi latihan. Tidak hanya soal penyesuaian pikiran, kalimat, dan cara ungkapnya namun juga soal-soal yang lain seperti makanan. Aktor harus benar-benar menjaga kesehatannya. Ia harus memperhatikan kebugaran tubuhnya, kesegaran pikirannya, kejernihan dan kelantangan suaranya serta emosinya.

Dari semua hal yang disebutkan tersebut, aktor wajib menjaga sifat inosens yang tidak kekanak-kanakan. Banyak aktor dewasa yang menghabiskan waktunya dengan sifat kekanak-kanakan. Menjadi inosens dalam usia tua adalah menjadi dewasa. Melihat segala sesuatu secara jernih, menyeluruh serta berada di luar apa yang dilihat, persis seperti halnya hidup. Aktor bukanlah hidup atau sebaliknya. Kehidupan selalu berada di luar aktor. Ia harus mempelajari dan mengejarnya. Ini merupakan hal esensi dan harus menjadi catatan bahwa kehidupan selalu berada di depan aktor. Jika seorang aktor berpikir bahwa kehidupan mendatanginya atau ia adalah kehidupan sehingga beranggapan bahwa dirinya adalah sosok penting, maka pikirannya telah mengalami kerusakan.

Pikiran bahwa dunia tergelar di hadapan harus senantiasa tertanam. Karena itu, tugas aktor adalah mempercayai dirinya untuk mengejar hidup itu meski harus sakit atau memilih untuk menarik diri dalam kehidupan pribadi namun dengan demikian menjadi mati. Hanya ada 2 pilihan itu dalam diri aktor terhadap pemeranan. Hanya dengan memilih bahwa hidup senantiasa ada di depan atau di luar diri maka sifat inosens namun tidak kekanakan itu akan terjaga. Dengan sifat ini, aktor akan menjadi rileks dalam memainkan peran dengan kehidupannya.

  1. Mata dan Pandangan

Mata dan pandangan aktor tentunya berbeda dengan mata dan pandangan orang pada umumnya. Adler menyampaikan bahwa mata adalah bagian tubuh yang jauh melampaui bagian tubuh lain dalam diri aktor. Mata harus digunakan oleh aktor untuk mengamati dan bukan hanya melihat. Jika seseorang melihat sebuah mobil, maka aktor harus mengamati segala hal-ihwal mengenai mobil tersebut. Bagaimana bentuknya, keluaran tahun berapa, berapa kuat mesin, hal spesifik apa yang membedakan, bagaimana bentuk kemudi, jok, warna, bahan, dan segala hal yang ada dan melekat dalam mobil tersebut. Lebih lanjut Adler menjelaskan bahwa aktor harus belajar tentang perbedaan dan makna, misalnya warna merah yang ia amati – merah warna mobil balap, merah bunga sepatu atau merah darah. Setiap merah memiliki makna yang berbeda, demikian pula setiap hal yang diamati oleh aktor.

Tugas aktor adalah untuk menyampaikan makna dari apa yang ia lihat melalui aksinya di atas panggung atau di depan kamera. Oleh karena itulah tindak pengamatan menjadi sangat penting. Aktor mencoba membina dan menguatkan ingatan fotografis melalui pengamatan. Segala detil harus benar-benar tergambar dalam pikirannya. Di atas panggung, aktor tidak hanya menggunakan bahasa verbal dalam menyampaikan sesuatu. Kesedihan, kegembiraan, cinta dan semua rasa bisa saja ia ungkapkan dengan ekspresi tubuh dan wajah. Gambaran fotografis hasil pengamatan yang detil difungsikan untuk menyingkap makna dari apa yang terlihat dari luar.  Laku aksi aktor di atas panggung tentunya sangat berbeda ketika ia bereaksi atas hal yang sekedar dilihat dan yang diamati.

Pandangan yang kritis, kesadaran akan diri, disiplin dan kontrol diri merupakan hal-hal yang diperlukan seorang aktor dalam berkarya. Namun kesemuanya itu tidak akan menghasilkan sesuatu yang istimewa jika tidak diberi energi, demikian tambah dari Adler. Pengamatan yang detil dan mendalam akan membangkitkan energi. Karena energi bukanlah hal yang selalu ada, maka aktor harus mampu membangkitkannya. Kehidupan dan dunia tergelar di hadapan dan tugas aktorlah untuk mengamatinya dan menyerapnya. Aktor harus mampu meilhat hal-hal yang tak terlihat sebelumnya. Kemudian, atas dasar pengamatan dan penyerapan, aktor memberikan kembali kepada dunia (melalui pementasan atau layar). Karena itu pulalah tidak diperkenankan bagi aktor untuk membaca buku sekedarnya. Seorang aktor harus benar-benar memilih buku yang akan dibaca, menyukainya, dan membacanya dengan pemahaman sampai tuntas. Membaca bagi seorang aktor merupakan kegiatan yang sama dengan pengamatan yang detil. Sebuah telisik khusus dan menyeluruh hingga membangkitkan energi yang hidup.

Semua hal yang dilakukan oleh seorang aktor sangatlah penting. Aktor tidak bisa membohongi penonton, semua detil kecil yang dilakukan akan tertangkap mata penonton. Keraguan sekecil apapun akan mempengaruhi. Untuk itu seorang aktor harus merasakan sensasi dan kedalaman rasa sebagai tanggung jawab dari aksinya. Karena itu pula seorang aktor harus benar-benar mendisiplinkan diri dalam berlatih. Tidak boleh ada istilah lupa atau lalai dalam berlatih. Setiap aktor berkomitmen dalam pekerjaannya. Komitmen membutuhkan ketulusan dan aktor harus merasakan kehadiran kualitas moral dalam komitmen yang dibangun. Dalam membangun komitmen kerja atau berkarya ini, aktor bahkan harus merelakan segala hal yang berpotensi merusaknya. Tidak ada batas terhadap apa yang harus dilakukan aktor untuk membuat penonton merasa dan percaya. Oleh karena itu aktor wajib memiliki kemampuan untuk menyampaikan kualitas atau kekuatan moral ini agar penonton paham bahwa setiap hal kecil yang dilakukan dalam hidup memiliki signifikansi terhadap moralitas.

to be continued….

Catatan Mengenai Pemeran dan Pemeranan dari Stella Adler

Catatan Mengenai Pemeran dan Pemeranan dari Stella Adler

Oleh: Eko Santosa

1. Tubuh, Suara, dan Pikiran
Stella Adler menuliskan bahwa seorang aktor harus menjaga dan melatih tubuhnya, begitu pula dengan suaranya. Namun, hal yang sangat penting yang harus dimiliki dan senantiasa dilatih aktor adalah pikiran. Banyak sekali dijumpai dewasa ini bahwa seorang yang disebut sebagai aktor hanyalah sekedar menemukan dirinya dalam karakter yang akan dimainkan. Memang, dalam beberapa hal menemukan diri dalam karakter yang akan diperankan sangatlah penting tapi perlu juga disadari bahwa bagaimanapun juga karakter peran tersebut bukanlah diri pemeran. Pemikiran ini menjadi penting karena langkah menemukan diri dalam karakter yang akan diperankan tidak akan membawa karakter tersebut pada pesona atau lebel yang sesungguhnya. Karakter tersebut justru akan tenggelam dalam kedirian si pemeran. Pemeran hanya memainkan peran sesuai kualitas yang ada dalam dirinya yang sesuai dengan karakter yang diperankan.

Meski tidak semua proses semacam in akan menghasilkan karya pemeranan yang jelek, namun mengukur karakter yang akan diperakan ke dalam diri pemeran sering menghasilkan kualitas peran degradatif. Artinya, kualitas yang sesungguhnya dari peran tidak bisa dimunculkan secara optimal. Dalam konteks ini, kualitas peran pertama kali ditentukan oleh seorang penulis. Nah, pendekatan di atas tidak akan memampukan aktor bahkan untuk mendekati kualitas karakter menurut takaran penulis ini. Karakter akan tenggelam dalam kediriannya. Sejatinya, yang perlu dikerjakan oleh aktor adalah mengembangkan ukuran atau takaran karakter yang telah ditetapkan sebelumnya oleh penulis. Jadi, ukuran itu menjadi sangat penting maknanya.

Banyak hal dalam pemeranan yang bisa dengan sangat mudah untuk dipahami. Banyak aktor yang langsung tahu apa yang musti ia lakukan dengan tubuh dan suaranya. Mereka berlatih, bahkan terkadang nampak mekanis. Akan tetapi tujuan dari latihan tubuh dan suara bagi aktor yang sebenarnya adalah mencapai sesuatu yang melampaui apa yang telah dilatihkan. Karena, permainan di atas panggung bukanlah latihan. Pekerjaan aktor bukanlah menerapkan hasil latihan. Tugas aktor adalah mempresentasikan sesuatu yang lebih dari sekedar latihan. Oleh karena itulah pikiran sangat dibutukan. Gabungan dari latihan tubuh, suara dan kekuatan pikiran ini akan melahirkan teknik pemeranan yang terkendali.

Semua hal yang dilakukan oleh aktor harus dalam keadaan terkendali. Teknik akan membantu aktor untuk mengendalikan apa yang akan dikerjakan di atas panggung (aksi-akting). Dengan teknik pula aktor akan lebih mudah bereaksi terhadap sesuatu yang lebih dalam, berbobot, berat dan bahkan sulit. Karena itu pulalah teknik yang merupakan perpaduan kemampuan tubuh, suara dan pikiran perlu senantiasa dilatihkan. Pelatihan teknik dilakukan terus menerus agar apa yang nanti disajikan di atas pentas tidak terlihat teknis. Artinya teknik itu telah membudaya dalam diri. Selain itu, teknik perlu dilatihkan agar aktor tahu dan sadar atas aksinya di atas panggung. Banyak pemeran senior yang pandai berperan namun ketika di tanya mengapa ia bisa berakting seperti itu, ia tidak bisa menjawabnya.

to be continued….

 

Dicuplik dari: Adler, Stella. The Art of Acting. 2000. Canada: Applause Books.

SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 3

SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 3

Tidak dapat diketahui dengan pasti dan akurat kapan teater yang berkaitan dengan pantomim lahir di Eropa. Awalnya, permainan pantomim bukanlah merupakan sebuah (pertunjukan) teater seperti yang kita ketahui hari ini. Penduduk pribumi mempertunjukkan tarian sebagai harapan suksesnya sebuah perburuan, mereka mensukuri ditemukannya mata air dengan tarian dan nyanyian atau mensukuri panen ikan yang melimpah. Para performer (aktor) mengenakan topeng atau melukisi wajah mereka untuk mengekspresikan diri mereka seperti halnya dewa-dewa yang dipuja. Ritual semacam itu belum bisa dikatakan sebagai pertunjukan teater, seperti yang kita lihat saat ini. Semua masih sebatas sebuah upacara pemujaan. Belum ada jalinan cerita atau plot baku selain dari perjalanan tata cara ritual itu sendiri. Dari kegiatan itu kemudian tumbuh satu kebudayaan dimana masyarakat mulai meniru. Tindak meniru merupakan representasi isi atau makna ritual yang mereka kerjakan. Mereka kemudian memulai meniru manusia lain atau dewa-dewa melalui diri dan komunitas mereka sendiri.

Kira-kira 2500 tahun yang lalu proses seperti itu berlangsung di Yunani. Teater orang-orang Yunani lahir dari ritus pemujaan Dionysos. Dionysos adalah dewa kesuburan, anggur, dan pertanian. Ritus pemujaan Dionysos ini masih merupakan upacara murni yang berisikan tentang tragedi persembahan demi kesuburan. Ritual ini begitu dikenal di masyarakat Yunani sehingga akhirnya terselenggaralah Festival Dionysos. Festival ini menyajikan cerita tentang Dewa Dionysos dan pada akhir festival ditentukanlah peserta terbaik. Karena festival ini pulalah tragedi Dionysos menjadi terkenal dan disajikan dalam bentuk-bentuk kreatif.

Baca juga : SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 1
Baca juga : SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 2

Karena pesona festival Dionysos yang begitu semarak maka orang-orang Yunani membangun gedung teater untuk pertama kalinya. Dari sinilah kemudian nama teater muncul yang berasal dari kata “theatron” dan berarti gedung tempat pertunjukan berlangsung. Akhirnya, “theatron” tidak hanya berarti gedung pertunjukan tetapi menunjuk ke pertunjukannya itu sendiri. Jadi dapat ditarik kesimpulan dari paparan di atas bahwa istilah teater susai asal katanya berasal dari Yunani. Bahkan banyak kata dasar yang sampai sekarang masih digunakan dalam perteateran di barat berasal dari bahasa Yunani seperti; Drama, Chorus, Tragedi, Komedi dan Scene.

Kemudian di Italia kebudayaan Yunani kuno diintegrasikan ke dalam Kekaisaran Latin. Tetapi tragedy dan komedi tidak pernah bisa menyentuh atau melampaui aslinya. Dalam masa-massa kemunduran teater dramatik kuno, pantomim lahir. Pantomim merupakan pertunjukan indah yang penuh dengan tari, nyanyian dan kejadian-kejadian tak terduga. Satu kali seorang penampil (performer/aktor) menggunakan 600 keledai dalam sebuah pertunjukan dan menggabungkannya dengan aksi-aksi akrobat yang semarak dan menyegarkan. Akan tetapi pantomim pada masa ini tidak bisa disamakan dengan pantomim seperti sekarang. Pertunjukan lebih merupakan luapan ekspresi sebagai wahana baru kreatifitas yang berbeda dengan model pertunjukan dramatik. Struktur bisa jadi sangat bebas dan ploting ceritapun lepas dari kebiasaan pertunjukan teater jaman itu. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pertunjukan pantomim awal dapat dikatakan sebagai bentuk eksplorasi teater yang terjadi pada saat itu untuk lepas atau mengatasi kejenuhan bentuk teater dramatik kuno.
Di dalam abad pertengahan pertunjukan pantomim digunakan hanya untuk kepentingan dan upacara-upacara keagamaan. Para aktor, menjadi semakin tidak berarti, mereka bekerja hanya sebagai penghibur. Kondisi ini terjadi karena pengaruh keagamaan yang sangat kuat sehingga alur sebuah pertunjukan selalu dikaitkan dengan satu rangkaian upacara keagamaan. Pantomim yang dihadirkan sebagai bentuk penyegaran (hiburan) juga tidak bisa lepas dari norma dan kaidah satu perjalanan ritual tersebut. Dengan demikian, para seniman tidak bisa lagi bebas berekspresi sesuai kehendak hatinya.
Dalam abad 16 teater kembali mengalami kebangkitan yang penting dengan gemerlap dan pesona grup teater Commedia dell Arte dari Italia. Struktur pertunjukannya sangat sederhana dan para aktor banyak berimprovisasi dan tidak jarang mereka sangat lihai melakukannya. Teater menjadi profesi. Tipikal dalam Commedia dell Arte adalah penggunaan topeng dan pembagian peranan yang merepresentasikan perbedaan-perbedaan sosial dan geografi; Pantalone – Seorang Saudagar, Dottore – Seorang Dokter atau Pengacara, Capitano – Seorang Tentara, Harlekino – Seorang Pembantu dan lain sebagainya. Cerita yang ditampilkan biasanya memuat gurauan atau sindiran terhadap kondisi yang sedang terjadi. Melalui tokoh-tokohnya Commedia dell Arte tampil secara memukau dan berhasil meretas kejenuhan terhadap model teater yang telah ada.

Pada era yang hampir bersamaan di Inggris, teater modern melahirkan satu pengarang terpenting, William Shakespeare. Di Eropa kita bisa menyebut bahwa teater modern benar-benar dimulai darinya. Perkembangan pertunjukan teater dramatik gaya Shakespearean menjadi populer dan menarik minat. Satu hal yang menarik dan patutu dicatat adalah, di satu sisi (Italia) Commedia dell Arte berkembang pesat sedangkan di Inggris pertunjukan dramatik konvensional mulai mekar dan mendapatkan banyak pujian. Pengaruh Shakespeare ini kemudian seolah-olah mengukuhkan kembali kehadiran teater dramtik kuno tetapi dengan gaya tampilan yang lain. Hal ini mengakibatkan pertunjukan pantomim secara khusus dan mandiri pada saat ini kita tidak bisa didata dengan baik. Kalaupun ada, pantomim masuk menjadi bagian kecil dari teater seperti tari dan pertunjukan slapstick pendek.
Pantomim populer seperti yang kita ketahui hari ini, lahir pada permulaan abad 19 dengan aktor terkenal dari Perancis Jean Gaspard “Baptist” Deburau in Paris. Ia mendapatkan inspirasi untuk cerita dari kehidupan sehari-hari di Paris, dengan keadaan dan karakter yang sesungguhnya. Makna pantomim pada masa ini sudah mengarah kepada sebuah pertunjukan, di mana penampil mengekspresikan diri hanya dengan gesture dan mimik. Penampil itu sendiri dapat disebut sebagai Pantomim. Asal kata ‘mime’ diambil dari kata kerja bahasa Yunani ‘mimeomai’ yang secara harafiah berarti menirukan suara alam. Pantomim yang baik adalah sangat lihai dalam menciptakan karakter berbeda-beda hanya dengan gesture dan gerak tubuh. Hal ini membutuhkan keahlian tinggi dan seperti yang disebutkan oleh orang-orang tentang Deburau bahwa pantomimnya mempunyai pengaruh emosi yang kuat seperti halnya (dibandingkan) musik atau puisi.

Pada permulaan abad 20 lahirlah sebuah jaman dengan reformasi dan perubahan besar-besaran dalam teater. Pada tahun 1921 Jacques Copeau membuka sekolah teater baru di Perancis. Gagasannya adalah mempersiapkan para aktor, sebelum mereka masuk ke dalm teater yang menggunakan suara, untuk mengekspresikan diri mereka dengan tubuh. Salah satu muridnya adalah Etienne Decroux. Ia mengembangkan ‘mime murni’, sebuah bentuk seni impresif. Decroux menciptakan perbendaharaan kata dramatik yang dapat diaplikasikan ke dalam teater oleh para aktor. Teori dan model-model latihannya menjadi bagian yang kuat dalam pendidikan teater dan pantomim. Salah satu murid Decroux, Marcel Marceau menyegarkan kembali ‘mime murni’. Ia ingin menampilkan cerita-cerita sederhana tentang manusia dan pergulatan takdir mereka (secara umum), untuk itu ia menciptakan karakter yang disebut BIP. BIP adalah semacam (tokoh) pahlawan umum yang popular dan (bisa jadi) siapa saja.
“Mime murni” mencoba mengekspresikan cerita, karakter tokoh, suasana dan lain sebagainya melalui mimik dan aksi badani yang lain. Pertunjukan model ini seolah-olah tampil dalam kesunyian karena disajikan tanpa suara yang biasanya dalam teater konvensional hal ini dimunculkan melalui ucapan atau dialog para tokohnya. Karena hadir dalam sunyi ini maka “mime murni” harus mampu menyedot perhatian penonton melaui laku fisik dan ekspresi mimik yang intens, kontinyu serta penuh penghayatan. Model pertunjukan yang dkembangkan baik oleh Decroux ataupun Marceu ini dapat ditampilkan secara mandiri dan bukan merupakan bagian atau salah satu sesi dalam petunjukan teater umum. Hal inilah yang kemudian berkembang di kalangan masyarakat dan kemudian disebut sebatai pertunjukan pantomim seperti yang kita ketahui sekarang.

Tetapi melalui perjalanan dan perkembangannya banyak trend dalam pantomim. Beberepa memiliki hubungan yang kuat dengan tradisi sirkus, yang lain mengambil penekanan pada ekspresi-ekspresi badaniah. Selalu saja ada penggabungan (kombinasi) dari berbagai gaya yang berbeda dengan teater yang menggunakan media suara, tari, akrobat dan lain sebagainya. Banyak sutradara teater modern yang menghendaki aktornya memilki kecakapan dalam bidang bahasa dan kualitas badani dalam berkarya. Mereka kembali ke akar teater kuno, di sana mereka menampilkannya dengan cara yang tak konvensional. Hal ini menuntun mereka (aktor) menuju ke ritual di Asia dan Afrika dan di sisi lain membawa mereka ke kebudayaan domestik Eropa. (O)

Diterjemahkan secara bebas dari makalah, “Pantomime and Theatre” yang disampaikan oleh Steffen Findeisen dalam Workshop Pantomim di Studio Teater Yogyakarta. 20106.

SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 2

SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 2

Baca juga : SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 1

Alexander Iliev (2014) mengungkapkan bahwa pantomim termasuk dalam seni komunikasi non verbal. Pantomim adalah salah satu tipe teater, teater adalah (menggunakan) lakon, lakon memiliki elemen komunikasi non verbal, dan komunikasi non verbal terungkapkan dengan baik melalui pantomim. Pantomim merepresentasikan kemungkinan untuk memotret segala hal yang terjadi dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, tidaklah perlu membuktikan sisi kemanusiaan sebagai instrumen pokok dalam pantomim (Alexander Iliev, 2014:17). Dari penjelasan singkat ini didapatkan gambaran bahwa seni pantomim tidak hanya menggambarkan atau menceritakan manusia saja.

Pantomim termasuk teater gerak yang istilahnya bersandingan dengan mime. Pantomim dan mime pada masa Yunani dan Romawi kuno digunakan untuk menyebutkan seni gerak ekspresif, namun secara umum perbedaanya adalah dalam mime, pemeran mengkombinasikan kata-kata dan gerak. Mime berasal dari bahasa Yunani “mimos” dan bahasa Romawi “mimus” yang berarti peniru merupakan komedi pendek dalam bentuk prosa atau bait sajak yang memotret kehidupan dan ditampilkan melalui gerak ekspresif atau dalam bentuk tari. Khusus di masa Romawi gerak-gerak ekspresif ini lebih banyak ditampilkan dibanding penggunaan kata-kata. Mime juga digunakan untuk menyebut aktor dalam drama sebagaimana halnya pelawak dalam pertunjukan hiburan. Di masa Yunani Kuno, mime digunakan untuk menyebut siapa saja  yang membuat tawa. Mime menurut Margarete Bieber memiliki dua arti yaitu drama tanpa topeng yang menampilkan cerita kehidupan dan aktor dalam drama tersebut (Annette Lust, 2003:1).

Meskipun pada masa sekarang pantomim secara umum dipahami sebagai bentuk pementasan sementara mime atau pantomimer adalah orangnya, namun dalam kesejarahannya pantomim hampir tidak bisa dibedakan dengan mime. Pantomim jika ditarik dari bahasa asalnya Yunani merupakan gabungan dari pantos yang berarti segalanya dan mimos yang berarti peniru. Kelahiran pantomim bermula ketika resitasi dan lagu dipisahkan dari seni meniru (mimetic art). Sementara di masa Romawi, pantomim justru menunjuk pada pemeran yang mengenakan topeng untuk menggambarkan objek maupun binatang pada saat penyanyi atau chorus tampil. Di Yunani Kuno, pemeran ini disebut sebagai orchestes atau aktor-penari (Annette Lust, 2003:1).

Pada jaman Kuno, aktor pantomim adalah orang yang bisa berakting sekaligus menari. Hal ini dikarenakan ia bisa menampilkan gerak secara ekspresif dan ritmis. Sementara itu dalam Abad Pertengahan, mime memiliki banyak arti. Ia tidak hanya digunakan untuk menyebut pemeran namun juga digunakan untuk menyebut seni gerak yang dilakukan oleh semua penghibur di atas panggung. Namun sejak abad XVI, makna pantomim telah berkembang menjadi semua jenis pertunjukan yang ditampilkan tanpa suara dan tidak merujuk pada aktornya (Annete Lust, 2003:2). Dengan demikian menjadi jelas mengapa pantomim merujuk pada pertunjukan dan mime lebih mengarah pada penampilnya. Sebagai seni gerak pantomim dapat memotret realita kehidupan dimana gerak yang ditampilkan didasarkan pada peniruan aktivitas sehari-hari kehidupan manusia. Ia juga dapat memotret gerak hewan dan tumbuhan. Bahkan pantomim dapat menampilkan gerak murni atau gerak yang tidak menggambarkan aktivitas keseharian manusia, binatang ataupun tumbuhan namun memiliki makna tertentu. (**)

Dinukil dari: Eko Santosa. 2015. “Bermain Peran” Modul Pembelajaran Guru Seni Teater SMK. P4TKSB Yogyakarta

SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 1

SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 1

Pantomim merupakan pertunjukan dramatik yang mana cerita disampaikan atau tema dikembangkan melalui ekspresi tubuh dan wajah. Asal-muasal pantomim dapat dilacak kembali ke pertunjukan lelucon klasik dan masa commedia dell’arte di Italia. Tidak semua pertunjukan pantomim bisu. Pertunjukan pantomim yang sepenuhnya dipentaskan tanpa suara atau bisu pertama kali ditampilkan di Roma (zaman Romawi). Pementasan pantomim pada masa-masa itu seringkali digunakan sebagai bentuk pemujaan.

Pemain pantomim dapat disebut sebagai “mime”, namun istilah ini juga merujuk pada pantomim itu sendiri (isitilah lain untuk menyebut pemain pantomim adalah mimer, mummer, pantomimer, dan pantomimis). Seorang pemain pantomim dalam pementasannya selalu menyajikan keterampilan imajinatif dan ilustratif. Penonton menggali makna pertunjukan melalui gerak-gerak tubuh di mana di dalamnya terkandung gagasan, impresi, sensasi, dan karakter yang diperankan. Pantomim dapat dipentaskan secara tunggal ataupun berkelompok.

Mementaskan pantomim membutuhkan kekuatan fisik dan mental. Oleh karena itulah seorang mimer perlu mempersiapkan diri dengan latihan-latihan. Tubuh pemain pantomim haruslah kuat dan lentur sehingga mudah beradaptasi dengan perubahan bentuk dan gerak secara ekspresif terkait karakter. Ekspresi wajah dapat memberikan beragam makna dalam persembahan pantomim. Semua perubahan dan ekspresi tersebut harus dilakukan dengan luwes dan rileks. Sebagai sebuah bahasa komunikasi pantomim dapat diasumsikan sebagai bahasa awal sebelum bahasa verbal (suara) digunakan oleh manusia. (**)

Diterjemahkan secara bebas dan disarikan dari: www.freeessays.cc/db/49/toi204.shtml

Sekilas Tentang Struktur Dramatik Lakon Part-3

Sekilas Tentang Struktur Dramatik Lakon Part-3

Baca juga : Sekilas Tentang Struktur Dramatik Lakon Part-2

3.  Tensi Dramatik

Brander Mathews, seperti dikutip oleh Adhy Asmara dalam buku Apresiasi Drama (1983), menekankan pentingnya tensi dramatik. Perjalanan cerita satu lakon memiliki penekanan atau tegangan (tensi) sendiri dalam masing-masing bagiannya. Tegangan ini mengacu pada persoalan yang sedang dibicarakan atau dihadapi. Dengan mengatur nilai tegangan pada bagian-bagian lakon secara tepat maka efek dramatika yang dihasilkan akan semakin baik. Pengaturan tensi dramatik yang baik akan menghindarkan lakon dari situasi yang monoton dan menjemukan. Titik berat penekanan tegangan pada masing-masing bagian akan memberikan petunjuk laku yang jelas bagi aktor sehingga mereka tidak kehilangan intensitas dalam bermain dan dapat mengatur irama aksi.

  • Eksposisi – Bagian awal atau pembukaan dari sebuah cerita yang memberikan gambaran, penjelasan dan keterangan-keterangan mengenai tokoh, masalah, waktu, dan tempat. Hal ini harus dijelaskan atau digambarkan kepada penonton agar penonton mengerti. Nilai tegangan dramatik pada bagian ini masih berjalan wajar-wajar saja. Tegangan menandakan kenaikan tetapi dalam batas wajar karena tujuannya adalah pengenalan seluruh tokoh dalam cerita dan kunci pembuka awalan persoalan.
  • Penanjakan – Sebuah peristiwa atau aksi tokoh yang membangun penanjakan menuju konflik. Pada bagian ini, penekanan tegangan dramatik mulai dilakukan. Cerita sudah mau mengarah pada konflik sehingga emosi para tokoh pun harus mulai menyesuaikan. Penekanan tegangan ini terus berlanjut sampai menjelang komplikasi.
  • Komplikasi – Penggawatan yang merupakan kelanjutan dari penanjakan. Pada bagian ini salah seorang tokoh mulai mengambil prakarsa untuk mencapai tujuan tertentu atau melawan satu keadaan yang menimpanya. Pada tahap komplikasi ini kesadaran akan adanya persoalan dan kehendak untuk bangkit melawan mulai dibangun. Penekanan tegangan dramatik mulai terasa karena seluruh tokoh berada dalam situasi yang tegang.
  • Klimaks – Nilai tertinggi dalam perhitungan tensi dramatik dimana penanjakan yang dibangun sejak awal mengalami puncaknya. Semua tokoh yang berlawanan bertemu di sini.
    Resolusi Mempertemukan masalah-masalah yang diusung oleh para tokoh dengan tujuan untuk mendapatkan solusi atau pemecahan. Tensi dramatik mulai diturunkan. Semua pemain mulai mendapatkan titik terang dari segenap persoalan yang dihadapi.
  • Konklusi – Tahap akhir dari peristiwa lakon biasanya para tokoh mendapatkan jawaban atas masalahnya. Pada tahap ini peristiwa lakon diakhiri. Meskipun begitu nilai tensi tidak kemudian nol tetapi paling tidak berada lebih tinggi dari bagian eksposisi karena pengaruh emosi atau tensi yang diperagakan pada bagian komplikasi dan klimaks.

4. Turning Point

Model struktur dramatik dari Marsh Cassady (1995) menekankan pentingnya turning atau changing point (titik balik perubahan) yang mengarahkan konflik menuju klimaks. Titik balik ini menjadi bidang kajian yang sangat penting bagi sutradara berkaitan dengan laku karakter tokohnya sehingga puncak konflik menjadi jelas, tajam, dan memikat.

Gambar di bawah ini memperlihatkan posisi titik balik perubahan yang menuntun kepada klimaks. Titik ini menjadi bagian yang paling krusial dari keseluruhan laku karena padanya letak kejelasan konflik dari lakon berada. Inti pesan atau premis yang terkandung dalam permasalahan akan menampakkan dramatikanya dengan menggarap bagian ini sebaik mungkin. Tiga titik penting yang merupakan nafas dari lakon menurut struktur ini adalah konflik awal saat persoalan dimulai, titik balik perubahan saat perlawanan terhadap konflik dimulai, dan klimaks saat konflik antarpihak yang berseteru memuncak hingga menghasilkan sebuah penyelesaian atau resolusi.

Titik A adalah permulaan konflik atau awal cerita saat persoalan mulai diungkapkan. Selanjutnya konflik mulai memanas dan cerita berada dalam ketegangan atau penanjakan yang digambarkan sebagai garis B. Garis ini menuntun pada satu keadaan yang dapat dijadikan patokan sebagai titik balik perubahan yang digambarkan sebagai titik C. Pada titik ini terjadi perubahan arah laku lakon saat pihak yang sebelumnya dikalahkan atau pihak yang lemah mulai mengambil sikap atau sadar untuk melawan. Dengan demikian, tegangan menjadi berubah sama sekali. Ketika pada titik A dan garis B pihak yang dimenangkan tidak mendapatkan saingan maka pada titik C kondisi ini berubah. Hal ini terus berlanjut hingga sampai pada titik D yang menggambarkan klimakas dari persoalan. Tegangan semakin menurun karena persoalan mulai mendapatkan titik terang dan pihak yang akhirnya menang telah ditentukan. Keadaan ini digambarkan sebagai garis E yang disebut dengan bagian resolusi. (**)

Dicuplik dari: Eko Santosa, Dkk. 2008. Seni Teater SMK Jilid 1 Untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional