Aktor Menurut Uta Hagen Part-7

Aktor Menurut Uta Hagen Part-7

Oleh : Eko Santosa

7. Ilmu Pengetahuan dan Penyempurnaan Perangkat Eksternal

Hagen menyampaikan bahwa aktor tidak bisa berkembang tanpa melatih dan mencerdaskan dirinya sendiri. Dalam bahasan ini Uta Hagen mendahulukan kepentingan untuk memperkaya ilmu pengetahuan sebelum menyempurnakan perangkat eksternal aktor yaitu tubuh dan suaranya. Secara ideal menurut Hagen, aktor muda harus senantiasa berproses dan medalami ilmu pengetahuan seperti sejarah, sastera, bahasa, dan cabang-cabang seni yang lain. Pengetahuan menjadi sangat penting artinya bagi aktor dalam memahami realitas lakon dan karakter yang akan diperankan. Keharusan menyatakan imajinasi atau menampilkan peran secara nyata tentu saja membutuhkan latar pengetahuan atas apa yang harus dilakukan, ucapkan atau ekspresikan. Seorang aktor tidak cukup hanya mempelajari segala sesuatu dari lakon. Karena apa yang dituliskan dalam lakon tidaklah mencakup keseluruhan dari apa yang dipersoalkan. Oleh karena itulah diperlukan pengetahuan pendukung. Pengetahuan dapat dipelajari baik melalui kelas belajar (sekolah atau kursus), buku atau media yang lain. Proses mempelajari ilmu pengetahuan ini harus dibiasakan sehingga tidaklah berhenti atau menjadi beban ketika harus melaluinya. Seorang aktor sepanjang karirnya bisa memerankan tokoh dari beragam latar belakang pemikiran, pekerjaan, konsep hidup, dan lain sebagainya. Semua hal tersebut tidak serta merta dimiliki sejak lahir. Semuanya perlu dipelajari dan pengetahuan dapat membangun penalaran, sesuatu yang sangat berguna bagi aktor dalam berperan.

Setelah memahami pentingnya pengetahuan hal esensial lain yang wajib dikerjakan aktor adalah latihan dan berusaha menyempurnakan instrumen eksternal yang dimiliki. Instrumen ini bagaikan alat musik yang digunakan atau dimainkan di atas pentas. Jadi, aktor harus menjaga dan memeliharanya dengan baik. Tanpa instrumen ini ia tidak akan mampu berekspresi sempurna. Banyak aktor yang menjaga kebugaran tubuhnya dengan berlatih gimnastik, menari, anggar, dan jenis olah tubuh lainnya. Demikian halnya dengan kualitas suara, aktor harus benar-benar membinanya. Berlatih secara serius melalui para ahli mengenai produksi suara dan wicara yang tepat serta terstandar. Kecakapan instrumen eksternal ini diperlukan untuk memberikan kelenturan respon terhadap tuntutan fisik dan psikologi peran yang dimainkan. Banyak aktor muda yang terlalu malas untuk melatih tubuh dan suaranya sehinga memaksakan peran menyesuaikan kemampuan dirinya. Padahal seperti umum diketahui bahwa aktor yang baik akan mampu membawakan peran secara alami. Misalnya secara alamiah, peran tersebut berlatar belakang Betawi, maka aktor harus melatih kecakapan tubuh dan suaranya untuk mencapai ekspresi alamiah orang Betawi. Karena kemalasan atau kekurangmauan berusaha sering peran tersebut diadaptasi agar sesuai dengan kemampuan sang aktor. Ini yang semestinya dihindari oleh aktor.

Baca juga : Aktor Menurut Uta Hagen Part-6

Di sisi lain, kecantikan fisik dan keindahan suara seseorang bukanlah sesuatu yang diperlukan secara wajib untuk menjadi aktor. Meski dalam khasanah teater konvensional hal ini merupakan salah satu prasyarat untuk menjadi tokoh tertentu, namun hal itu bukanlah jaminan kualitas. Kecantikan atau ketampanan fisik seorang aktor justru sering membuatnya lemah dan mudah ditaklukkan karena ia gampang pasif dengan berharap orang lain memperhatikannya, bukan ia yang mencoba meraih perhatian orang lain. Dengan kelebihan fisik itu, ia menjadi merasa bahwa selalu diperhatikan. Kecantikan dan ketampanan sesungguhnya tercipta melalui penampilan peran yang menarik minat penonton. Ketertarikan itu diusahakan bukan tiba-tiba dan tanpa berlaku apapun. Hagen memberikan gambaran yang tepat untuk keharusan berusaha ini dengan analogi seorang bayi belajar melakukan sesuatu hal untuk menarik perhatian yang lain. Bahkan kita pun sering berbuat hal-hal lucu hanya untuk menarik perhatian seorang anak. Intinya, tidak ada sesuatu yang diraih jika kita tidak melakukan apapun. Bagaimana bayi belajar menarik perhatian memberikan contoh pada aktor bahwa untuk mengucapkan satu kalimat dialog pun ia harus belajar.

Hagen menjabarkan gambaran umum mengenai aktor melalui realitas hidup yang harus dijalani oleh seseorang sejak ia menentukan dirinya menjadi aktor. Bukan saja sisi baik dan kenyamanan yang didapatkan seorang aktor yang telah sukses, namun juga bagaimana seseorang mesti berjuang untuk menjadi aktor. Sebagai sebuah profesi aktor tidak bisa dipandang remeh, namun aktor pun harus menghargai pekerjaanya yaitu akting. Sebab jika ia meremehkan pekerjaan tersebut, maka orang lain (penonton) pun akan demikian. Jika hal ini terjadi, maka teater di mana aktor itu berakting akan sepi penonton. Penghargaan terhadap akting ini merupakan keharusan. Tidak bisa tidak. Untuk menghargai akting seorang aktor harus bersedia bekerja keras serta senantiasa berlatih dan belajar. (**)

 

Bacaan utama:

Uta Hagen, Haskel Frankel. Respect for Acting. 1973. John Wiley and Sons, Inc. New Jersey.

Rujukan:

https://en.wikipedia.org/wiki/A_Challenge_for_the_Actor
https://en.wikipedia.org/wiki/Eleonora_Duse
https://en.wikipedia.org/wiki/Harold_Clurman
https://en.wikipedia.org/wiki/Jean-Louis_Barrault
https://en.wikipedia.org/wiki/Respect_for_Acting
https://en.wikipedia.org/wiki/Sarah_Bernhardt
https://en.wikipedia.org/wiki/Uta_Hagen

Aktor Menurut Uta Hagen Part-6

Aktor Menurut Uta Hagen Part-6

Oleh : Eko Santosa

6. Etika dan Karakter

Etika teater perlu dibangun bersama. Hagen menyoroti bahwa yang membuat teater berisiko secara intens adalah kelambanan dan perayaan ego yang terlalu tinggi. Setiap aktor seharusnya menerima dengan lapang hati bahwa teater adalah petualangan bersama. Kerja teater bukanlan solois yang mampu berpentas seorang diri. Semakin baik lakon yang ditampilkan semakin memerlukan kerja ansambel. Setiap aktor dan setiap pekerja dalam teater harus menyadari kekuatan dan kemampuan profesional masing-masing sehingga ketika menyatu dapat menghasilkan karya teater yang baik. Setiap personil harus saling melayani dalam menyajikan lakon. Seorang bintang yang mementingkan diri sendiri hanya melayani dirinya sendiri dan dengan demikian menyakiti perasaan yang lain termasuk citra “kebintangannya”. Sebagai pekerja seni teater, kita semua perlu menuju kepada “karakter” dalam makna moral dan etika, sebuah proses peleburan nilai-nilai dalam rasa saling menghormati, kesopanan, kebaikan, keramahan, kepercayaan, perhatian terhadap sesama, kesungguhan, kesetiaan, termasuk segala keterkaitan dengan hal-hal yang menyangkut ketekunan dan dedikasi.

Seringkali aktor muda atau pemula mencontoh perilaku aktor yang dianggap baik, misalnya kegemaran minum. Mereka menganggap bahwa kebiasan yang dilakukan oleh aktor ini lah yang membuat mereka sukses. Lalu mulailah mereka mencontoh kegemaran minum tersebut.  Atau mereka mencontoh tingkah aneh dan kesombongan aktor ini di depan publik dan menganggap bahwa segala tingkah aneh dan di luar wajar itu sebagai cara seniman serta merupakan kunci kesuksesan. Sementara itu, Hagen berpendapat bahwa kesombongan personal adalah penyakit seperti halnya alkoholisme atau bahkan kanker yang siap memangsa bakat, sensitivitas, dan kapasitas diri seorang aktor. Kebanggaan akan diri dan narsisme justru akan menghalangi perilaku atau ekspresi spontan yang merupakan respon alami dan asli dari aktor tersebut. Setiap aktor wajib menjaga dirinya dari penyakit semacam ini.

Baca juga : Aktor Menurut Uta Hagen Part-5

Namun sayangnya dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai aktor inspirasional telah memolakan dirinya dalam setiap penampilan. Terlihat di sini – secara umum – bahwa seorang aktor yang mementingkan dirinya sendiri dalam berperan sering mengalami kesuksesan. Hal ini bisa jadi menimbulkan kegaduhan dan sesat pikir. Namun perlu dipahami bahwa aktor semacam ini bisa mendapatkan kesuksesan hanya di tempat-tempat tertentu (khusus) di mana ia sudah dikenal. Sementara untuk wilayah di mana merupakan percampuran banyak manusia dan budaya yang tumbuh bersama seperti Amerika, hal semacam ini perlu disikapi dengan tegas. Untuk mendapatkan kehormatan atas eksistensi teater, maka setiap individu yang bekerja di teater memiliki tanggung jawab. Terkait hal ini, Hagen mengutip pernyataan Stanislavski, “Cintaiah seni yang ada dalam dirimu, bukan dirimu di dalam seni.”

Agar teater dihargai/dihormati, maka tidak ada kata lain, semua pelaku teater harus menghargai teater itu sendiri. Ini menjadi tanggung jawab bersama. Aktor tidak bisa dengan demikian mementingkan dirinya sendiri sehingga hanya dia yang dikenal masyarakat luas. Teater adalah kerja kolektif dan aktor menjadi bagian integral dari kerja itu. Seringkali para pelaku teater ingin mendobrak status quo (kamapanan dan kenyamanan yang tidak pada tempatnya sehingga teater tidak dihormati secara utuh) namun apa yang dikerjakannya justru mengkuhkan status quo. Teater adalah kerja kolektif namun sering tanpa disadari pengukuhan status quo inilah yang justru terjadi secara kolektif. Semestinya, setiap orang yang berkecimpung di dalam teater – utamanya adalah aktor – memiliki kesadaran akan tanggung jawab kolektif, melepaskan kepentingan individu, dan selalu mengingat jiwa kolektif dalam teater sehingga melahirkan semangat, “satu untuk semua dan semua untuk satu”.

Aktor Menurut Uta Hagen Part-5

Aktor Menurut Uta Hagen Part-5

Oleh: Eko Santosa

4. Kedisplinan

Hagen mencatat bahwa banyak sekali orang didera penyakit ingin cepat sukses dengan mengandaikan keterkenalan dan keberuntungan dalam bidang pemeranan. Menjadi aktor sukses adalah tujuan kompetitif yang selalu muncul sebagai pernyataan. Namun tentu saja harus ada harga yang dibayar. Figur aktor yang dapat disebut sukses sulit didefinisikan. Jika dianalogikan sebagai makanan; udang, daging kambing, daging sapi, ikan laut semuanya bisa jadi enak, namun manakah yang paling enak? Mungkin salah satu menu menjadi favorit bagi kelompok orang tertentu sementara kelompok lain memiliki menu favorit berbeda. Kita pun juga tidak akan bisa mengatakan siapakan yang aling hebat di antara Haydn, Mozart, ataupun Beethoven. Kita bisa saja menjadi pecinta salah satu dari 3 komponis besar dunia itu, namun bukan berarti yang lain bukanlah yang terbaik. Masing-masing menghasilkan karya terbaik mereka, bukan sekedar ingin menjadi terbaik. Dengan demikian, ukuran sukses tidak didasarkan atau mengacu pada siapa melainkan pada kerja terbaik yang dilakukan.

Seorang aktor sering merasa kebingunan ketika memerankan tokoh. Apakah figur tokoh  atau tindakan (pekerjaan) tokoh tersebut? Ia tidak sadar bahwa masing-masing sisi membutuhkan satu usaha untuk mencapainya. Hagen memberikan gambaran bahwa ia pernah tersentak degan ulasan kritikus yang menganggap permainanya jelek sementara aktor lain dianggap bagus. Padahal menurut Hagen, aktor yang dinilai bagus itu justru penampilannya sangat buruk menurutnya. Hal ini membuatnya kembali mengevaluasi pemikiran atau konsep akan pemeranan. Jika seorang aktor hanya berpegang pada kritik baik yang diberikan kepada orang lain, maka itu akan mempengaruhinya dalam menilai dirinya sendiri. Lalu, haruskah ia berkarya hanya agar mendapatkan nilai baik dari orang lain? Atas pertanyaan-pertanyaan ini Hagen memutuskan untuk mulai bekerja demi mencapai standar yang terencana dan bukan untuk menjadi figur tokoh ataupun melakukan tindakan tokoh yang akan diperankan. Aktor memulai kerja dengan dirinya sendiri. Tujuan harus ditetapkan sesuai dengan target capaian yang disepakati secara mandiri dan menjadikan kedua hal tersebut sebagai pendamping sejati selama berproses.

Berikutnya yang perlu dipahami adalah bahwasanya secara natural, aktor nampaknya berkembang secara lamban dan kurang disiplin. Padahal umum diketahui bahwasanya seorang penari profesional itu tidak akan menari jika tidak didahului dengan serangkaian latihan harian. Demikian pula dengan seorang musisi yang senantiasa melatih diri jauh sebelum konser digelar. Sementara itu, pekerjaan aktor sebelum mendapat panggilan umumnya adalah menunggu. Mereka semestinya menjaga dan melatih diri mereka selama menunggu dan tidak membuang-buang waktu yang dimiliki untuk berpesta atau bermain-main. Setiap orang memerlukan kedisiplinan diri secara total jika memang berkehendak menjadi aktor, tidak ada kata lain. Hal ini tidak didapatkan oleh aktor semenjak ia lahir. Aktor harus membangkitkannya. Tidak ada alasan bakat atau tidak bakat, disiplin diri terhadap kerja dengan senantiasa berlatih, fokus pada pekerjaan dan segala hal yang berhubungan dengan profesi aktor, dan dedikasi harus diciptakan.

Baca juga : Aktor Menurut Uta Hagen Part-4

Disiplin memang bukan perkara mudah, namun bagaimanapun juga harus dibangun oleh aktor itu sendiri. Kedisiplinan selayaknya menjadi budaya. Tanpa kedisiplinan diri yang tinggi mustahil aktor akan menghargai akting sebagai seni yang menghidupi jiwanya. Orang sering merasa bahwa jiwa seni peran itu ditentukan dari seberapa ia sering tampil di atas pentas atau menerima panggilan untuk berperan. Inilah kemudian yang digambarkan sebagai seniman yang sukses. Sementara jagad seni peran tidak membicarakan kuantitas produksi yang dikerjakan melainkan kualitas karya yang dihasilkan. Berapa sering kita saksikan figur aktor yang di banyak kesempatan tampil namun pada akhirnya terjebak permainan yang tipikal atau lebih parah lagi tak mampu mengembangkan dirinya ke tingkat lebih lanjut. Hanya itu-itu saja. Kondisi ini melemparkan kembali akting ke posisi awal, dimana bisa dikerjakan karena biasa atau bakat semata. Sebagai seni yang tumbuh berkembang sejalan kehidupan manusia, akting akan selalu melahirkan hal-hal baru. Hal-hal yang tidak bisa dihayati dengan hanya menunggu panggilan atau ditampilkan sebagaimana biasanya. Hal-hal yang senantiasa membutuhkan pendekatan, pembelajaran, dan perlakuan baru pula. Oleh karena itu, mendisiplinkan diri untuk selalu terhubung dengan segala hal mengenai seni peran adalah keniscayaan bagi aktor.

Aktor Menurut Uta Hagen Part-4

Aktor Menurut Uta Hagen Part-4

Oleh: Eko Santosa

4. Memahami Realitas

Pemahaman akan realitas memiliki kaitan erat dengan sudut pandang. Hagen mengutarakan bahwa dalam sejarah perkembangannya pernah terlahir kelompok teater yang memiliki sudut pandang kuat. Pertunjukan mereka bagus dan menjadi tolok ukur kekaryaan. Namun seiring dengan berkembangnya industri, individu yang cemerlang di bidang ini berpindah satu per satu untuk mengejar karir dalam pertunjukan komersial. Potensi teater semacam ini kemudian tertelan oleh hiruk pikuknya komersialisme. Kelangkaan individu hebat yang telah berpindah jalur menjadikan gedung pertunjukan teater sepi. Selain itu, teater di Amerika – sebagai contoh kasus –  ditinggalkan penonton karena selalu ingin menampilkan drama (lakon) yang indah (seperti di masa kejayaannya). Mereka lupa bahwa drama yang indah terkadang tidak memiliki sudut pandang untuk merefleksikan realitas keseharian masyarakat beserta permasalahannya. Mereka semestinya menghentkan rasa takut perihal indah dan tidak indah dalam berkarya dengan membangun pernyataan berdasar kenyataan yang mereka pahami. Dengan demikian, mereka akan menemukan penontonnya.

Untuk memelihara situasi idealistik diperlukan realisasi nyata akan kondisi yang ada. Bisa jadi realisasi nyata akan melahirkan tindakan oportunis, namun bisa juga melahirkan perlawanan dengan memanfaatkan karakter diri dan pengetahuan. Banyak orang bermimpi menjadi aktor besar. Akan tetapi apa yang dimaksudkan dengan “aktor” itu? Dalam kenyataan, banyak individu yang tidak memiliki kecakapan penuh sebagai aktor namun mampu menjadi bintang dalam pertunjukan komersial. Sementara di sisi lain, terdapat orang yang memiliki kompetensi aktor namun tidak kunjung pula dikenal. Inilah tantangan pertama yang perlu dihadapi seseorang yang berkehendak menjadi aktor. Tidak bisa keinginan itu hanya berdasarkan figur atau patron tertentu. Aktor bukanlah profesi yang bisa dicapai hanya dengan berharap dan berkhayal. Aktor memerlukan proses pemahaman yang hampir tiada henti.

Baca juga : Aktor Menurut Uta Hagen Part-3

Menjadi aktor tidak cukup hanya dengan memahami kemampuan diri; fisik, kejiwaan, dan kepintaran. Namun bagaimana cara menggunakannya untuk memahami kehidupan. Memerankan tokoh tidak hanya berbicara tentang tokoh yang hendak diperankan saja. Karakter dibangun oleh lingkungan dan budaya di mana ia tinggal. Keterangan-keterangan yang diberikan penulis dalam lakon ditambah dialog yang ada, belumlah cukup digunakan untuk memahami tokoh secara utuh. Berdasar pada problematika yang diutarakan Hagen, juga tentang sampelnya atas Duse dan Barrault, aktor diwajibkan memahami realitas secara menyeluruh. Realitas yang melingkupi dirinya secara menyeluruh terlebih dahulu. Pertama realitas kehidupan yang membentuk dirinya. Berikutnya adalah kenyataan dan alasan mengapa ia ingin menjadi aktor dihadapkan dengan kenyataan kehidupan aktor yang ada. Pemahaman akan kenyataan ini pada akhirnya akan membuatnya meneguhkan pilihan menjadi akor dalam jenis teater yang seperti apa sesuai dengan sudut pandangnya. Barulah setelah pilihan ditentukan, proses menjadi aktor ia jalani penuh dengan kemantapan.  Dengan memahami detil-detil proses yang dilalui untuk menjadi aktor, ia akan memiliki kedirian, karakter dan berada pada posisi sesuai.

Analogi pemahaman akan diri secara nyata beserta seluruh sensasi yang menyertainya dapat digunakan aktor dalam memahami kenyataan atau realitas peran. Detil proses pembentukan karakter yang tidak serta merta ini akan melahirkan dinamika perjalanan laku tokoh yang diperankan secara alami. Jika dalam studi lakon, aktor hanya berkutat pada teks, ia akan memiliki gambar (menghadirkan) tokoh sebagaimana diungkapkan dalam teks. Ketika pada akhirnya ia mematuhi hal tersebut, maka peran tekstuallah yang ia kerjakan. Artinya, peran bisa hidup secara tekstual namun belum tentu eksis secara kontekstual. Realitas selalu merupakan keterhubungan antara individu satu dengan yang lain, subjek satu dengan yang lain, serta persoalan satu dengan yang lain. Ia tidak pernah berdiri sendiri dan tetap. Keterhubungan membuatnya hidup, berkembang, dan berubah. Dengan memahami realitas, aktor mampu memahami peran secara menyeluruh sehingga benar-benar hidup.

Aktor Menurut Uta Hagen Part-3

Aktor Menurut Uta Hagen Part-3

Oleh: Eko Santosa

  1. Sudut Pandang

Sarana intelektual aktor merupakan hal pokok yang perlu diperhatikan. Dengan intelektualitasnya, seorang aktor dapat dapat mencerdaskan dirinya untuk berakting secara impulsif. Meski mentalitas aktor tersebut sedikit lemah misalnya, selama mental itu tak tumpul dan tak sensitif sama sekali, tetap saja akan menghasilkan sesuatu yang cemerlang jika ia mudah memahami perilaku manusia. Intelektualitas aktor adalah modal dasar untuk menentukan sudut pandang akan dunia yang melingkupi kehidupannya, lingkungan sosial di mana ia tinggal. Sudut pandang merupakan seni menentukan keputusan. Telisik karakter tekstual tidak akan pernah melahirkan gambaran nyata, sementara telisik kontekstual membutuhkan sudut pandang. Di mana posisi penelisik berdiri serta di sisi mana ia berpihak. Dalam proses terlisik semacam ini, aktor benar-benar tertantang untuk menentukan karakter sesuai sudut pandang yang ia miliki. Untuk menghidupkan tokoh, ia tidak semestinya hanya menerima arahan-arahan. Namun ia perlu menegaskan diri bahwa karakter yang ia perankan harus sesuai dengan sudut pandang yang ia miliki.

Seni peran sering terjebak pada pandangan yang tetap mengenai karakter. Seperti yang sering terlihat dalam pertunjukan teater amatir di mana karakter nenek atau kakek pasti memiliki suara serak dan jalan membungkuk membawa tongkat serta sering batuk-batuk. Setiap kali karakter nenek-kakek ini muncul selalu saja begitu, tidak peduli apa ceritanya. Seolah karakter telah tertetapkan dan diyakini secara umum. Penetapan karakter semacam ini seringkali terjadi, bahkan sering pula dijadikan ukuran keberhasilan mimetik pemeran. Sementara kalau dicermati dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang tua yang disebut nenek-kakek itu demikian. Ada orang yang baru berusia 65 tahun namun nampak renta dan tak berdaya karena faktor kesehatan tubuhnya. Namun ada orang yang berusia 75 namun masih nampak muda, segar-bugar dan dapat berjalan tegap serta bersuara lantang. Seorang aktor semestinya mendobrak status quo semacam ini, dan hal itu merupakan tindakan alami seniman. Sudut pandang dapat dihasilkan dari kehendak untuk mengubah pandangan sosial, suasana keluarga, kehidupan politik, keadaan lingkungan, bahkan kondisi teater itu sendiri. Dengan sudut pandang itu aktor memiliki keputusan fisiologis, psikologis, dan sosial karakter yang ia perankan.

baca juga : Aktor Menurut Uta Hagen Part-2

Secara lebih khusus, dalam seni peran seringkali keindahan dinilai dari gaya pemeran. Nilai keindahan akting kemudian tidak terkait langsung dengan penjiwaan karakter namun pada gaya tampilan aktor di mana gerak-gerik dan irama dialognya dibuat-buat. Posisi, pose, gestur dan dialog menjadi satu kesatuan tampilan berformula. Persis seperti yang diutarakan Hagen sebelumnya bahwa ia sering menggunakan trik untuk menarik minat penonton. Ketika hal ini sudah dipahamkan kepada khalayak bahwa seperti itulah keindahan akting, maka seperti itu pulalah yang akan berlaku. Oleh karena itulah, aktor yang memiliki kecerdasan dan mau membangun sudut pandang perlu melakukan perubahan. Bukan dengan jalan frontal atau bersifat kekerasan namun dengan karya peran yang baik. Perubahan terjadi kadang-kadang justru melalui sentilan lembut penuh makna. Memotret karakter sebagaimana adanya, memberikan cermin kepada masyarakat dapat pula dijadikan pernyataan untuk perubahan. Yang perlu diperhatikan sekali lagi adalah bahwasanya aktor harus memiliki sudut pandang sehingga pernyataan yang hendak disampaikan mewujud dalam ketepatan ekspresi pemeran di atas pentas.

Ketika seorang aktor telah menentukan pernyataan atau sesuatu yang akan diekspresikan, maka ia harus menentukan jenis teater yang tepat untuk mengekspresikannya di mana ia menjadi bagian integral dari teater itu. Di saat hal ini terjadi, Di saat itu pula  persoalan yang sesungguhnya dimulai. Penentuan pernyataan ini akan membawa sang aktor pada pilihan apakah ia akan menjadi seniman ataukah pekarya komersil. Dua hal yang sama-sama berat. Masing-masing memiliki konsekuensi tersendiri. Memasuki dunia komersial artinya bersiap untuk menghadapi problem praktis baik di teater, televisi atau film yang tidak akan pernah selesai. Namun memasuki dunia kesenimanan total sebagai aktor problem-problem tersebut akan berlipat ganda, tanpa henti dan senantiasa menyeret emosi, nyali, dan keinginan.

Dewasa ini semua jenis teater bisa diterima dan berkembang sesuai dengan karkaternya masing-masing. Seorang teaterwan sejati sering mengkritisi gedung teater komersial sebagai tempat yang terlalu mudah disewa hanya untuk sekedar rehat sementara, daripada disewa untuk mempersembahkan karya teater yang berbicara. Bagi Jean Louis Barrault[7] gedung teater menjadi seolah-olah garasi. Sebagai seniman yang memiliki bersudut pandang romantik, liberal dan semi mistik, Barrault melahirkan karya-karya sesuai sudut pandangnya dan berani bertentangan dengan karya-karya teater yang bersifat sosialis dan politis. Ia menjadikan gedung teater sebagai manifestasi dari gagasan dan pandangannya atas dunia. Dalam posisi seniman teater semacam Barrault ini, sudut pandang sangat penting karena itulah yang menjadikan setiap teater khas. Meski keadaan mulai berubah  sejalan dengan komersialisasi panggung, namun sudut pandang pribadi pekerja teater menjadi penentu atas tumbuh kembangnya tradisi berteater.

 

[7] Aktor, sutrdara, dan pemain pantomim berkebangsaan Perancis.

Aktor Menurut Uta Hagen Part-2

Aktor Menurut Uta Hagen Part-2

Oleh: Eko Santosa

2. Imajinasi

Ketidaksepakatan Hagen akan ketergantungan pada bakat terkait erat dengan keharusan dan kemampuan aktor untuk berimajinasi. Bakat yang cenderung intuitif tidak memiliki persyaratan untuk menciptakan imajinasi senyata realitas. Oleh karena itulah, Hagen menghimbau aktor untuk terus-menerus belajar dan berlatih. Dari pengalamannya sebagai aktris panggung yang sudah berpengalaman, Hagen menemukan satu trik dalam setiap penampilannya. Ia bisa menduga dengan pasti reaksi penonton terhadap laku aksi yang ia bawakan. Dalam sebuah ending lakon di mana ia bermain, ia bisa menentukan apakah nantinya penonton akan terharu atau bangkit dan tepuk tangan. Trik ini memang memudahkan namun dengan begitu maka ia tidak lagi menghargai akting, karena akting menjadi tetap, telah mati. Hasil akhir dari kondisi ini adalah aktor lama kelamaan akan merasa jenuh. Berperan dengan demikian menjadi rutinitas sehingga tiada lagi aras seni di dalamnya.

Baru pada saat dirinya disutradarai oleh Harold Clurman[4] yang menerapkan pendekatan Stanislavskian, gairah senimannya kembali muncul. Clurman dalam menyutradarai tidaklah menentukan baris-baris kalimat dialog, posisi, dan gerak pemain. Hal yang sangat berlainan dari proses sebelumnya di mana sutrdara sudah menentukan semuanya dan pemain tinggal mengikuti. Pemain dengan demikian seolah sedang mengkonstruksi topeng yang akan dikenakannya. Penyutradaraan model Clurman tidak menghendaki aktor mengenakan topeng. Aktor harus benar-benar menjadi karakter yang diperankan, bukan sekedar mengenakan topeng karakter. Aktor tidak diperkenankan mempersiapkan bentuk. Clurman memberikan keyakinan pada aktor bahwasanya bentuk merupakan hasil akhir dari rangkaian kerja (proses) yang dilakukan.

Baca juga : Aktor Menurut Uta Hagen Part-1

Karena kesadaran barunya ini Uta Hagen kemudian terus berlatih, mengasah kemampuannya. Trik yang telah lama ia gunakan tidak ada gunanya lagi. Aktor harus selalu mempelajari sesuatu yang baru. Ketika wujud merupakan hasil dari proses, maka kata kuncinya adalah pada proses. Pengalaman artistik yang didapatkan ini menghadapkan Hagen pada dua patron dasar akting pada saat itu yaitu Sarah Bernhardt dan Eleonora Duse . Keduanya merupakan aktris besar dan dikagumi namun mereka memiliki pendekatan akting berbeda. Bernhardt adalah aktris yang flamboyan, eksternal, dan formalistik. Di sisi lain, Duse adalah seorang manusia (karakter) di atas panggung. Dalam memainkan peran yang sama pada produksi berbeda, tampilan dari dua orang aktris ini menghasilkan respon yang berbeda. Keduanya indah serta mengagumkan. Ekspresi Bernhardt menghasilkan tepuk tangan sambil berdiri oleh penonton atau pengagumnya. Sementara penonton akan hanyut dalam emosi yang diperankan oleh Duse. Kedua jenis ekspresi dalam berperan ini merupakan hal yang biasa dalam seni teater mengingat bahwa karya pemeranan sangatlah bervariasi tergantung konsep pemanggungannya. Namun bagi Hagen, ia lebih memilih Duse.

Duse selalu akan tampil beda dalam setiap perannya. Meski seringkali dituduh hampir selalu memiliki kesamaan dalam penampilan setiap peran, namun Duse selalu berperan dengan sepenuh jiwa. Totalitas Duse dalam berperan inilah yang membuat Hagen memilihnya sebagai sumber inspirasi dalam perannya baik sebagai seniman maupun pelatih teater. Kesungguhan jiwa atau totalitas inilah yang menegaskan pendapat Hagen bahwasanya bakat saja tidaklah cukup dalam berteater. Bakat bisa didapatkan sejak lahir sebagai pemberian Tuhan, sehingga semua orang memilikinya. Namun dalam berperan, bakat yang sejati adalah campuran antara sensitivitas, mudah tersentuh, kepekaan panca indera, kekuatan mencipta imajinasi senyata realitas, kehendak mengomunikasikan pengalaman dan sensasi pribadi, dan memampukan diri untuk dapat dilihat dan didengar (menarik perhatian). Kemampuan menciptakan imajinasi baik berbasis pengalaman atau stimulasi dari faktor eksternal memerlukan banyak kemampuan. Imajinasi senyata realitas tidak hanya menyangkut faktor ingatan namun juga pengetahuan guna membangun detail dari setiap peristiwa, subjek, objek, situasi, dan emosi di dalamnya. Dengan imajinasi semacam ini ditambah kemauan untuk membuka diri dan jiwa, ekspresi yang ditampilkan seorang aktor seolah nyata.

—————————————————
4. Sutradara dan kritikus drama. Dikenal sebagai salah satu pendiri Group Theater New York. Mempelajari ssitem Stanislavski melalui Boleslavski.
5. Aktris dari Perancis yang sangat terkenal pada akahir abad 19 dan awal abad 20, merupakan figur akting formalistik dan mendapat julukan sebagai ratu pose dan gestur.
6. Aktris dari Italia yang dianggap sebagai aktris terbaik sepanjang masa karena ketotalannya dalam berperan.