KELAS MEDITASI CANDRA MALIK

KELAS MEDITASI CANDRA MALIK

Program Sufi Meditation for Daily Life oleh Candra Malik, Kamis 21 September 2017 hasil kerjasama  Yoga Healing Nitiprayan dengan Whanidproject telah berlangsung. Hasil konkret yang disepakati kemudian antara Candra Malik dengan peserta adalah terbentuknya kelas meditasi rutin triwulanan dengan peserta tetap. Peserta yang hadir berjumlah 45 orang dari Magelang, Jakarta, Kediri dan seputaran Yogyakarta. 

Berikut ini adalah konsep meditasi Candra Malik yang ditulisnya sendiri. Semoga berguna untuk kehidupan sehari-hari.

Selamat menyimak.

 

MEDITASI

Memasuki Diri Kita Sendiri

 A. Pengenalan Diri

Manusia terdiri atas badan jasmani dan badan ruhani. Namun, satu dan lainnya tidak disebut dua karena tidak saling memisah dan tidak pula saling berdiri sendiri. Badan jasmani manusia tanpa badan ruhani disebut makhluk kasar, lebih dari itu bahkan bisa disebut bangkai. Badan ruhani manusia tanpa badan jasmani disebut makhluk halus.

Manusia bukanlah makhluk kasar, bukan pula makhluk halus, melainkan penyatuan dan perpaduan di antara keduanya, yang oleh Sang Maha Pencipta disebut sebagai makhluk mulia, bahkan yang paling mulia di antara makhluk-makhluk lainnya. Manusia dimuliakan oleh Sang Maha Mulia dengan karunia akal budi. Dengan akal, manusia berpikir. Dengan budi, manusia berbuat.

Manusia diharapkan memikirkan sesuatu yang akan diperbuat, yang sedang diperbuat, dan yang telah diperbuat. Pendek kata, jangan pernah berhenti berpikir, terkecuali ketika dalam keadaan istirahat. Pun manusia diharapkan berbudi baik dalam setiap perbuatan. Sebab, perbuatan tidak baik atau tanpa pekerti tidak dapat disebut budi. 

Budi manusia terdiri atas budi daya dan budi upaya. Budi daya kemudian disebut budaya, budi upaya disebut darma. Kebaikan-kebaikan, mulai dari niat, pikiran, hingga budi pekerti di dalam perbuatan, dikelompokkan ke dalam darma itu. Lalu, keburukan-keburukan manusia dikelompokkan dalam karma. Dan setiap perbuatan memiliki konsekuensi.

Badan jasmani manusia terdiri atas organ tubuh kasat dan yang dapat dilihat atau diperlihatkan secara kasat; baik oleh penglihatan manusia maupun dengan bantuan manusia lain dan alat bantu. Badan ruhani manusia terdiri atas organ tubuh tidak kasat dan yang tidak dapat dilihat atau diperlihatkan secara kasat oleh siapa pun dengan alat bantu apa pun.

  Tiga contoh utamanya adalah otak dan akal, jantung dan hati, dan alat kelamin dan birahi. Otak adalah organ badan jasmani, demikian pula jantung dan alat kelamin. Sedangkan akal, hati, dan birahi adalah organ badan ruhani. Harap diingat bahwa manusia dimuliakan oleh Sang Maha Mulia dengan karunia akal. Oleh karena itu, badan ruhani adalah pangkal kemuliaan.

Jika manusia mengolah diri sejak pangkal, maka ia sedang mengolah kemuliaan kedudukannya di mata Sang Maha Mulia. Jika ia mengolah diri hingga ujung, yaitu sampai pada perbuatan-perbuatan baik, sesungguhnya ia memuliakan kedudukannya sendiri sebagai makhluk yang paling mulia di sisiNya. Darma yang utuh dari awal hingga akhir inilah hakikat akhlak.

Perantara yang menghubungkan dan menyambungkan antara Dia dalam kedudukannya sebagai Khalik dan manusia dalam kedudukannya sebagai Makhluk adalah Akhlak. Budaya dan darma yang tumbuh dan berkembang serta terus-menerus diolah, dikelola dan ditingkatkan akan membawa manusia pada kedudukan tertinggi, yaitu Manusia Paripurna.

Sebagaimana tanaman, yang sejak awal tidak bisa hanya mengandalkan benih untuk menumbuhkan akar, batang, dahan, ranting, daun, bunga, buah, hingga akhirnya menjatuhkan kembali benih; manusia pun sangat membutuhkan udara, air, api, dan tanah. Empat anasir paling utama di alam raya itu bukan benda mati, tapi sama hidupnya dengan manusia. 

Udara dari mulai yang diam sampai yang bergerak, yaitu angin. Air dari mulai yang turun dari langit yaitu hujan dan embun sampai yang mengalir hingga samudera. Api dari mulai yang disulut, tepercik, membakar, hingga yang kemudian padam. Tanah dari mulai yang permukaan hingga yang kerak. Tapi seluruhnya itu ternyata jasmaniah.

  Yang ruhaniah dari udara, air, api, dan tanah adalah yang tidak hanya masuk ke badan jasmani manusia, namun juga merasuk dan menyatu dalam mekanisme perputaran dan perpusaran yang ajeg namun tidak konstan, tidak pula monoton. Sebab, pergerakan itu disertai tidak hanya oleh pergesekan, tapi pengerucutan ke inti manusia, yaitu daya hidup.

  Anasir udara yang menyatu dengan manusia menjadi napas. Anasir air yang menyatu dengan manusia menjadi tulang sumsum. Anasir api yang menyatu dengan manusia menjadi darah. Anasir tanah yang menyatu dengan manusia menjadi kulit-daging. Seluruhnya berpusar dari porosnya dan kembali kepada porosnya. Tapi, apa porosnya?

  Poros adalah titik tengah yang tidak terpisah, tidak pula memisah, pun tidak berpisah, dari pusaran, namun ia tidak tersentuh, tidak terjangkau, tidak pula terpengaruh oleh pusaran. Tidak asing, tidak mengasingkan diri, tidak terasing dari lingkungannya. Bahkan, poros adalah penentu segala penjuru, hiposentum segala sentrum, dan as segala cakra.

  Poros inilah yang disebut Batin. Jika setiap dan seluruh diam dan gerak badan jasmani disebut Lahir, yang bahkan permulaan hidup dan kehidupan manusia disebut Kelahiran, maka setiap dan seluruh diam dan gerak badan ruhani disebut Batin, yang oleh karena itulah hidup dan kehidupan manusia niscaya dimulai pula dengan Kebatinan.

  Kebatinan menggerakkan daya hidup sehingga manusia berdaya. Kelahiran menggerakkan upaya hidup sehingga manusia berupaya. Daya dan upaya disatukan dan dipadukan menjadi guna. Tanpa daya dan tanpa upaya, menjadi tidak berguna. Tanpa guna, ada menjadi tiada, keadaan menjadi ketiadaan, dan keberadaan menjadi ketidakberadaan.

  B. Pengenalan Diri

  Manusia ada bukan ada dengan sendirinya. Manusia ada karena hal-hal di luar dirinya. Dan, hal-hal di luar dirinya itulah yang membentuk setiap dan seluruh hal di dalam diri manusia. Hal-hal di luar dirinya itu pulalah yang mewujud setiap dan seluruh hal di dalam diri manusia. Membentuk dan mewujud. Satu dan lainnya tidaklah sama dan sungguh berbeda.

  Membentuk itu menghasilkan bentuk. Mewujud itu menghasilkan wujud. Badan jasmani dan hal-hal yang ragawi adalah bentuk. Badan ruhani dan hal-hal yang sukmawi adalah wujud. Selama ini, manusia cenderung memasangkan raga dengan jiwa. Padahal, satu dan lainnya bukanlah pasangan. Oleh karena itulah, tidak sinkron.

  Akibat dari perjodohan yang dipaksakan itulah, raga mengalami masalah jiwa dan jiwa mengalami masalah raga. Ya, manusia ternyata telah berbuat bodoh dalam urusan jodoh. Untuk perbuatan menjodoh-jodohkan yang bukan jodohnya, apa lagi sebutan yang paling tepat selain berbuat bodoh? Ini terjadi karena manusia tidak mengenal diri sendiri.

  Sang Khalik telah menetapkan takdir setiap manusia, bahkan lebih luas lagi: setiap MakhlukNya. Takdir manusia terdiri atas lahir, jodoh, rezeki, dan mati. Jodoh termasuk di dalamnya. Dan hakikat dari jodoh adalah perjumpaan yang tanpa atau tidak lagi disertai dengan perpisahan, yang oleh karena itulah disebut penyatuan. Manunggal. Menyatu.

  Badan jasmani atau raga berpasangan dengan nyawa, sehingga hidup atau lahir dalam keadaan hidup. Badan ruhani berpasangan dengan jiwa, sehingga tumbuh atau lahir dalam keadaan bertumbuh. Tumbuh itu selalu dari dalam, bukan sebaliknya. Badan ruhanilah yang tumbuh, yang diikuti oleh pertumbuhan badan jasmani.

  Badan jasmani dibentuk oleh hal-hal di luar dirinya, yaitu benih ayah, sel telur ibu, asupan makanan, dan hal-hal lain yang terus-menerus membawa pengaruh bagi nyawa. Badan ruhani diwujudkan oleh anasir-anasir alam semesta, yakni udara, air, api, dan tanah, serta hal-hal lain yang terus membawa pengaruh bagi jiwa.  Nyawa dan jiwa inilah daya hidup.

  Membawa pengaruh dalam arti menentukan kualitas daya hidup dari nyawa dan jiwa itu. Kualitas daya hidup yang baik merangsang kualitas daya tahan. Dengan kualitas daya tahan yang baik itulah, kemudian badan ruhani dan badan jasmani tumbuh. Tanpa daya tahan, niscaya segala yang dari luar yang masuk ke dalam diri justru akan mematikan.

  Oleh karena itulah, manusia harus mengenal diri sendiri untuk dapat menentukan hal-hal apa saja di luar diri yang diterima dan ditolak masuk. Jika memakan apa saja tanpa saring yang baik, misalnya, sesungguhnya manusia sedang bunuh diri. Itu baru soal makanan. Belum soal-soal lain yang terus-menerus berputar dan berpusar dalam hidup manusia.

  Badan jasmani menjadi berdaya sejak nyawa menghidupkannya. Badan ruhani menjadi berdaya sejak jiwa menghidupkannya. Lalu, badan jasmani semakin berdaya sejak ia menerima hal-hal di luar dirinya dengan sistem saring yang baik; menerima madu dan menolak racun. Pun demikian badan ruhani semakin berdaya dengan sistem serupa.

  Dengan daya hidup yang baik dan semakin baik itulah manusia bisa memroduksi daya tahan. Dengan daya tahan yang baik dan semakin baik itulah, manusia bisa bertumbuh. Untuk mengelola daya hidup dan daya tahan ini, tidak cukup hanya dengan mengenal diri sendiri. Pun manusia perlu mengolah diri sejak dari dalam hingga ke luar.

  Dengan menyadari pentingnya pengolahan diri, manusia bisa mulai memahami bahwa tindakan untuk menerima dan menolak ternyata tidak hanya berlaku terhadap hal-hal dari luar dirinya, melainkan juga terhadap hal-hal yang sudah masuk ke dalam diri dan berada di dalam diri. Sebab, yang pada mulanya madu ternyata dapat juga berubah menjadi racun.

  Yang awalnya asupan makanan, misalnya, sesampainya di dalam diri manusia ternyata tidak seluruhnya dapat diserap oleh badan jasmani. Dalam proses pengolahan, sebagian di antaranya ditolak oleh tubuh dan dikeluarkan sebagai ampas. Jika residu itu tidak dibuang, jadilah ia musuh dalam selimut: menggerogoti daya hidup dan daya tahan manusia.

  Daya hidup dan daya tahan tidak hanya bersinergi menjadi kekuatan untuk bertumbuh, namun juga harus melahirkan daya berikutnya, yaitu daya lawan. Bukan hanya melawan pengaruh buruk dari luar diri yang telah tertolak tapi terus menyerang, tapi juga melawan kebaikan dari luar diri yang semula telah diterima tapi berubah buruk setiba di dalam.

  Namun, daya lawan menghadapi musuh dalam selimut di dalam diri manusia ini jangan sampai berupa daya memusuhi. Oleh karena itulah, pengolahan diri tidak hanya berhenti pada upaya menerima dan menolak hal-hal dari luar yang telah masuk dan berada di dalam. Seyogyanya, daya dan upaya itu berkelanjutan menjadi guna. Daya, upaya, guna.

  Untuk berguna bagi hal-hal di luar diri, yaitu bagi sesama manusia dan kemanusiaan, manusia harus mulai dari berguna bagi hal-hal di dalam dirinya sendiri, bagi dirinya sendiri. Berupayalah mendayagunakan diri sejak dari dalam dengan kekuatan dari dalam, penyembuhan dari dalam, tenaga dalam, kecantikan dari dalam, bahkan kebahagiaan dari dalam.

   C. Perkenalkan Diri

  Manusia bukan utara, bukan timur, bukan selatan, bukan barat. Manusia bukan arah bagi dirinya sendiri. Manusia tepat berada pada dirinya sendiri. Manusialah penentu segala penjuru. Pada manusia pula, jarak berserah hendak disebut jauh dan ditempuh atau disebut dekat dan menujunya berangkat. Manusia adalah titik diam bagi gerak alam.

  Manusia pula yang menyebut dan menyambut pagi ketika matahari terbit dari timur, juga manusia yang menyambut dan menyebut senja tatkala matahari terbenam di barat. Terik menyediakan panas di atas kepala, manusia menyambut dan menyebutnya siang. Manusia pula yang menyambut dan menyebut malam sejak mentari menghilang.

  Tanpa sesebutan oleh manusia, planet-planet beredar tanpa nama. Dan, kehidupan datang dan pergi begitu saja tanpa nubuat jika Sang Maha Berfirman tidak pula memberi nama kepada karyaNya. Manusia itu sesungguhnya kalam Ilahi, yang olehNya Adam diajari nama-nama, seluruhnya. Dialah rahasia manusia dan manusia adalah rahasiaNya.

  Sang Pengatur Alam Semesta meliputi segala sesuatu. Dan, intisari dari segala sesuatu, dalam konteks Dialah rahasia manusia dan manusia adalah rahasiaNya, pasti manusia. Manusia adalah makhlukNya yang paling inti dan oleh karena itulah Dia mengangkat derajat manusia tinggi setinggi-tingginya atau sebaliknya: rendah serendah-rendahnya.

  Yang paling inti inilah penentu roda kehidupan di bumi, jika bukan bahkan pemimpinnya. Jika manusia merusak, rusaklah bumi. Jika merawat, terawat pulalah bumi. Dan yang paling inti dari diri manusia adalah Batin, yang adalah poros bagi pusaran, penentu segala penjuru, hiposentrum segala sentrum, as segala cakra, pemersatu antara akal, hati, dan syahwat.

  Di dalamnya apa yang di dalamnya. Di dalam Sang Maha Menciptakan Alam Semesta adalah alam semesta, yang di dalamnya terkandung galaksi, yang di dalamnya terkandung tata surya, yang di dalamnya terkandung orbit, yang di dalamnya terkandung bumi, yang di dalamnya terkandung manusia. Manusia selama-lamanya di dalam kandungan alam semesta.

  Dia, Sang Maha Pengatur Alam Semesta, meliputi segala sesuatu. Dia meliputi alam semesta, meliputi galaksi, meliputi tata surya, meliputi orbit, meliputi planet, dalam hal ini bumi, meliputi manusia. Manusialah yang paling inti, inti segala sesuatu, paling aman dalam PelukNya. Jauh tak berjarak, dekat tak bersentuhan, dengan Dia Yang Maha Hidup.

  Ada manusia di dunia sejak Dia berkehendak. Keadaan manusia di kehidupan adalah yang paling intim dan aman sejak Dia berkehendak. Demikian pula keberadaan manusia di alam semesta ini paling inti sejak Dia berkehendak. Dan KehendakNya itu adalah BatinNya. Manusia adalah BatinNya dan Dialah batin manusia. Inilah hakikat kedalaman diri.

  Kemanunggalan Tuhan dengan alam semesta, galaksi, tata surya, orbit, bumi, dan manusia ini niscaya dan mutlak. TerhadapNya, manusia menyatu tapi terpisah, dan itulah kesempurnaan. Menyatu tapi tidak menjadi satu, tidak pula menjadi Satu. Manusia tetap manusia, takkan berubah jadi bumi, orbit, tata surya, galaksi, alam semesta, atau Tuhan.

  Manusia senantiasa terhubung dan tersambung dengan bumi, orbit, tata surya, galaksi, alam semesta dan Sang Maha Pencipta sejak di dalam kandungan. Sistem “Allah meliputi segala sesuatu” ini berlaku terhadap dan bagi setiap dan seluruh ciptaan sehingga di dalam setiap makhluk terkandung makhluk turunan yang sejenis. Pun demikian bagi manusia.

  Sistem “Allah meliputi segala sesuatu” inilah sistem kandungan kesemestaan yang tiada akan ada yang lepas dari KekuasaanNya dan luput dari KeagunganNya. Sistem kandungan ini menghubungkan dan menyambungkan manusia kepada ibu, kepada ibu dari ibu, kepada ibu dari ibu dari ibu, terus hingga sampai kepada Yang Maha Tak Terhingga.

  Dari rahim Ibu, manusia senantiasa diliputi oleh rahim alam semesta dan selalu diliputi oleh Allah Yang Maha Rahim. Selaput rahim Ibu terhubung dan tersambung dengan tali pusat jabang bayi, yang bahkan ketika diputus dalam persalinan pun tetap terhubung dan tersambung sebagai tali sukma sejak kelahiran manusia. Ibu meliputi kehidupan anaknya.

  Sukma inilah selubung kasih ibu terhadap anaknya. Anaklah rahasia terdalam dan paling inti ibu, dan ibu adalah rahasia terdalam dan paling inti anak. Ibu dan anak terhubung dan tersambung selamanya. Disebut ibu sejak melahirkan anak, disebut anak sejak dilahirkan ibu. Jiwa ibu adalah pelita bagi badan ruhani anak. Jiwa anak itu permata badan ruhani ibu.

  Meski bahkan kematian tidak bisa memutus ibu dan anak, janganlah ibu murka kepada anak dan jangan anak durhaka kepada ibu. Kemurkaan ibu dan kedurhakaan anak itu pangkal segala petaka. Selayaknya manusia selalu berpegang kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang yang telah menetapkan Kasih dan SayangNya melampaui KemurkaanNya.

  Manusia dan Pencipta Manusia terhubung dan tersambung di mana pun ruangnya, kapan pun waktunya, apa pun kenyataannya, bagaimana pun keadaannya. Segala sesuatu datang dariNya, pulang kepadaNya. Di dalam diam, manusia berlindung di KediamanNya. Dan di dalam gerak, manusia diliputi oleh DiriNya. Siapa semakin dalam, ia semakin diam.

 

  Candra Malik

SUFI MEDITATION FOR DAILY LIFE

SUFI MEDITATION FOR DAILY LIFE

Secara etimologis sufi berakar kata pada safa dalam bahasa ara yang berarti kemurnian. Kemurnian dalam hal ini merujuk pada kebersihan jiwa. Bagaimana seorang sufi melakukan meditasi untuk mencapai kemurnian jiwa atau kebersihan batin?

Adalah Candra Malik (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 25 Maret 1978; umur 39 tahun) seorang sufi yang juga pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syahadah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, ( https://id.m.wikipedia.org/wiki/Candra_Malik) ingin membagikan metode meditasi ala sufi untuk masyarakat umum peminat meditasi. Kali ini komunitas Healing Yoga Nitiprayan didukung oleh Whanidproject mengajak para peminat meditasi untuk bergabung dalam latihan meditasi ala sufi, Kamis 21 September 2017, pk 15.00-17.00 wib, bertempat di mini hall Omahkebon Nitiprayan.
Tempat peserta terbatas, kontak person ke Sondang Rumapea (081285746996).

Dalam suatu catatannya Candramalik menyebutkan bahwa tujuan meditasi ini untuk lebih mengenal diri, yakni keterhubungan antara manusia, alam dan Pemilik Semesta. Tandasnya, “Jika manusia mengolah diri sejak pangkal, maka ia sedang mengolah kemuliaan kedudukannya di mata Sang Maha Mulia. Jika ia mengolah diri hingga ujung, yaitu sampai pada perbuatan-perbuatan baik, sesungguhnya ia memuliakan kedudukannya sendiri sebagai makhluk yang paling mulia di sisiNya. Darma yang utuh dari awal hingga akhir inilah hakikat akhlak.”

Mari merapat! ****

The Martyrdom of Peter Ohey

The Martyrdom of Peter Ohey

Dalam rangka mendorong perputaran roda kreatif tahun 2018, Whanidproject melakukan studi naskah. Kali ini, sutradara Hedi Santosa melirik The Martyrdom of Peter Ohey, karya Sławomir Mrożek (29 Juni 1930 – 15 Agustus 2013), seorang dramawan, penulis dan kartunis Polandia. Naskah dari versi bahasa Inggris diindonesiakan oleh Gogor Seta Dewa. Pada awal September 2017 ini akan diadakan pra kondisi dengan melakukan reading terbuka (non casting). Bagi Anda yg berminat bisa bergabung.

Męczeństwo Piotra Oheya atau The Martyrdom of Peter Ohey ditulis tahun 1959. Berikut ini adalah sinopsisnya.

Peter Ohey, seorang warga biasa, diberitahu bahwa seekor harimau pemakan manusia yang berbahaya masuk ke rumahnya dan bersarang di kamar mandinya. Akibatnya, orang-orang asing yang tak diundang mendatangi Peter Ohey dan menggeruduk apartemennya: seorang pemungut cukai (yang datang untuk mengambil pajak atas harimau itu), seorang ilmuwan, seorang manajer sirkus, tamasya sekolah, dan seorang pemburu tua. Semua orang tertarik mendatangi apartemen Peter Ohey karena harimau itu, dan rumahnya menjadi bagian mesin sosial, bukan lagi tempat dia bisa hidup damai dan tenang. Akhirnya, seorang pejabat dari Departemen Luar Negeri datang untuk membuat rencana bagi seorang Maharaja yang ingin memburu harimau tersebut. Namun, muncul masalah; Harimau itu masih berada di tempat persembunyiannya dan seseorang harus memancingnya. Peter Ohey, sebagai pemilik apartemen, dikorbankan karena alasan negara. Dia masuk ke kamar mandi dan tidak keluar lagi. Maharaja, yang tidak dapat menemukan harimau yang sebenarnya, memburu hewan imajiner, dan menembak Peter Ohey, yang telah menjadi harimau pengganti. Pertunjukan berakhir.

Reprogramming WdP

Pada tanggal 30 Agustus 2017 pukul 19.00 WdP mengadakan pertemuan untuk membicarakan penataan ulang organisasi dan programnya. Pertemuan dihadiri Whani Darmawan, Sondang Rumapea, Galuh, Andri, dan Eko. Persoalan utama yang menjadi subyek pembicaraan adalah legalitas organisasi terkait penyesuaian bentuk dan bidang garapan. Untuk mendukung hal tersebut diperlukan kelengkapan deskripsi/material untuk corporation identity serta pembagian ranah pekerjaan. Soalan ini menyangkut kontinuitas program yang akan ditetapkan dan dijangkau dalam kurun waktu tertentu atau setiap tahun kerja. Penjenisan ranah atau bidang garapan memang tidak semudah yang dibayangkan karena aspek legal formal memiliki bahasanya sendiri termasuk di dalamnya bentuk organisasi yang tepat.

Senyampang hal tersebut diolah dan dipersiapkan, WdP juga mulai menghitung dan menata ulang program tahun berjalan yang hanya menyisakan beberapa bulan. Cadangan program yang ada dipilah sesuai dengan bidang Theater for Professional, Theatre for Art dan Eduteater. Selanjutnya disisir kemungkinan pelaksanaan dengan waktu tersisa. Untuk tahun 2017 beberapa program dapat dilaksanakan di antaranya adalah pementasan Theatre by Request (TbR), Kuliah Umum Manajemen Seni, Parade/Festival Monolog ASEAN-Three dan jasa penerbitan buku. Selain program, WdP juga mulai mendata rekanan atau partner yang pernah dan akan diajak kerjasama untuk melancarkan keterlaksanaan program. Di sisi lain kemungkinan pelaksanaan program yang telah direncanakan tahun ini untuk tahun 2018 juga mulai dipilah.

Untuk mewujudkan program tahun 2017 di sisa waktu tersedia, kegiatan pendahuluan perlu dilakukan di anataranya; diskusi teknis dan artistik mengenai pelaksanakan parade monolog, pemilihan dan pemilahan materi buku untuk diterbitkan, penentuan waktu dan lokasi untuk pementasan TbR serta materi dan audien untuk kuliah umum. Sebagai dukungan semua program, pengelolaan website dan instrumen publikasi lain perlu ditinjau kembali serta disempurnakan. Dengan semangat kebersamaan dan kegairahan, WdP akan berusaha keras untuk mewujudkan semua program tersebut. (**)

Ribuan Pesilat Unjuk Jurus di Malioboro

Ribuan Pesilat Unjuk Jurus di Malioboro

Ribuan pesilat dari berbagai perguruan di Indonesia unjuk kebolehan jurus silat di Malioboro, Yogyakarta, Minggu (20/8/2017). Mereka mengikuti Pawai Raya Pencak Silat.

Sebelumnya para pesilat itu telah mengikuti berbagai acara yang digelar Pentjak Malioboro Festival (PMF) 2017 mulai tanggal 18 Agustus hingga hari ini. Mereka datang dari berbagai perguruan silat seperti dari Sumatera Barat, Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Kalimantan Sekatan, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta.

Sekitar 6 ribu pesilat dari 70 perguruan unjuk jurus masing-masing perguruan di sepanjang Jl Malioboro hingga titik nol kilometer. Mereka tampil dengan berbagai seragam atau pakaian perguruan masing-masing. Para pesilat tua dan muda unjuk jurus silat secara berkelompok maupun perseorangan. Berbagai permainan senjata tajam seperti pedang, belati, golok, trisula, pisau karambit hingga tongkat/toya juga dimainkan.

Permainan jurus dan senjata itu menarik para wisatawan dan warga masyarakat yang menonton di sepanjang Malioboro. Ketika sampai di panggung kehormatan, masing-masing kelompok diberikan waktu sekitar 8 menit untuk memperagakan jurus silat masing-masing.

“Tiap perguruan, panitia membatasi jumlah pesilat yang ikut pawai. Waktu tampil juga dibatasi,” kata Yosi salah satu panitia dari Tantungan Project disela-sela acara.

Yang menarik dari acara itu, selain pesilat dari Indonesia ada tiga orang pesilat dari Amerika Serikat. Mereka mengenakan pakaian silat ala Sunda.

Ketiga orang tersebut tergabung dalam Paguron Pencak Silat Mande Muda Indonesia dari Bandung, Jawa Barat. Mereka mengenakan pakaian silat warna hitam, kain batik penutup dipinggang dan ikat kepala bermotif batik. Mereka membawa senjata tongkat dan golok.

Beberapa jurus silat yang telah dikuasainya ditunjukkan di hadapan tamu undangan. Tepuk tangan dari para penonton dan tamu undangan, seusai mereka melakukan atraksi jurus silat.

Acara yang dihadiri Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Paku Alam X itu dikahir dengan pertunjukkan koreografi silat-tari. Koreografi yang memadukan unsur seni tari dengan silat itu bertajuk Krida Wira Budaya.

Salah satu panitia Whani Darmawan menambahkan sebanyak 50 penari dan 50 pesilat dari perguruan silat tapak Suci dan Persinas Asad yang terlibat pertunjukkan silat-tari itu.

“100 orang yang tampil menggabungan dua cabang ilmu gerak yakni silat dan tari. Koreografi digarap Kinanti Sekar Rahina, penata musik Moeng Mulyadi Cahyoraharjo. Kmeudian pimpinan pemusik Fajar Agung Pambudi,” kata Whani.

https://news.detik.com/jawatengah/3607014/ribuan-pesilat-unjuk-jurus-di-malioboro

PROFIL PENATA GERAK KRIDHA WIRA BUDHAYA

PROFIL PENATA GERAK KRIDHA WIRA BUDHAYA

Sebuah pertunjukan koreografi silat-tari bertajuk Kridha Wira Budaya akan digelar untuk memungkasi acara Pencak Malioboro Festival (PMF) V-2017 di titik 0 km pada hari Minggu, tanggal 20 Agustus 2017 pk 16.00 -16.08 wib.

KINANTHI SEKAR RAHINA
Lahir dari rahim seorang ibu yang sangat ia cintai bernama Threeda Maiyaranti pada tanggal 26 Juli 1989 di Yogyakarta. Ibunya adalah seorang seniman lukis yang sangat menyukai lukisan dengan gaya kubisme, sedangkan ayahnya Jemek Supardi adalah seniman pantomime.

Tidak hanya kegandrungan pada seni yang diwariskan ayah dan ibunya, tetapi juga pandangan hidup. Suatu hari Sekar pernah bertanya pada ibunya tentang arti sebuah “mimpi”. Beliau hanya mengelus kepala Sekar, tersenyum dan berkata,
”Gambarlah pada lembaran kehidupanmu, Nak. Baik dan buruk sikapi semuanya dengan kedewasaan. Tiap hidup yang kau temui itulah warna baru dalam hidupmu. Jangan hapus tapi lukiskan dan goreskan dalam hidupmu. Hingga semua menjadi sebuah karya yang abadi.” Hal itulah yang membuat Sekar semakin yakin untuk berkarya di dunia kesenimanan terutama di dunia tari.

Perjumpaan awal dengan dunia tari bermula disaat Sekar duduk di bangku kelas 5 SD. Sejak saat itu pula Sekar giat menggeluti tari. Mempelajari tari secara akademik di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Bantul Yogyakarta dengan mengambil kosentrasi di jurusan Tari, setelah sebelumnya menempuh pendidikan di SD Petinggen II Yogyakarta dan SLTP Setella Duce Yogyakarta. Pada tahun 2012 Sekar menyelesaikan S1-nya di Institute Seni Indonesia Yogyakarta Jurusan Tari.

Bagi Sekar, tarian adalah bahasa, jika dunia ini terlalu berisik dengan banyak perintah, kata-kata dan bunyi-bunyi maka lewat tarian Sekar berbicara. Gerakan tubuh dalam tari adalah bahasa tubuh. Ekspresi tubuh akan menggantikan huruf-huruf, teks, bunyi yang berupa kata sebagai tanda yang di dalamnya mengandung makna. Tidak singular namun multi-interpretatif. Tarian Sekar pun seperti ingin mengungkapkan segala hal yang ia alami dalam hidup bersama keluarga, teman-teman dan alam semesta kepada masyarakat.

Menurut Sekar tarian juga bisa menjadi bentuk bentuk pembebasan atau pemberontakan dari stereotipe yang berjalan dalam masyarakat patriarki bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah dan pelengkap bagi kehadiran lelaki. Lewat tarian, Sekar ingin menunjukan bahwa perempuan pun mempunyai ide atau gagasan, mempunyai mimpi dan pemberontakan tersendiri dalam hidup. Bahwa perempuan mempunyai peran yang penting dalam kehidupan, bagi diri sendiri, keluarga, kekasih, teman-teman dan masyarakat. Beberapa tarian yang mengungkapkan hal tersebut lahir dalam judul Donga Drupadi, Jampi Gugat dan tarian yang lain.

Sekar mengakui bahwa dirinya adalah orang Jawa, bagian Indonesia. Ia sangat bangga disebut dan menjadi orang Jawa. Karenanya ia memiliki prinsip dalam menggarap karya, yakni tidak mencabut “akar”nya (budaya) tapi membentuk “akar”-nya menjadi keunikan dan menyatu dalam tubuh. Seni tradisi tetap mengalir di tubuh penari.

Beberapa gagasan dari tarian Sekar terlahir dari cerita-cerita, lagu-lagu, dan pandangan hidup Jawa. Lebih jauh Sekar terkekang dengan pandangan hidup Jawa namun menggali lagi dengan memahami, mengkritisi dan mengkreasi gagasan yang lahir dari pandangan tersebut menjadi karya yang saya sajikan dalam bahasa tubuh yaitu tari.

Penari sekaligus penata tari yang berulangkali melawat ke luar negeri ini memiliki pandangan mendalam perihal pendidikan melalui seni. Katanya,
“Semakin banyak anak-anak menikmati masa kecilnya dengan kesenian dan kebebasan bergerak, menari, menyanyi maka semakin senang mereka dengan keluhuran budaya bangsanya sehingga mereka bisa lebih menghargai hidup dan berkehidupan di tanah airnya.” ****