Teatrika

Dari Tubuh ke Bunyi (Suara)

oleh : Whani Darmawan

Sebelum sampai kata lebih dulu kita mengenal bunyi. Jelas bunyi lebih tua usianya dibanding kata. Kata adalah perumusan satu sub kebudayaan  dalam hidup manusia. Ia melibatkan kemampuan neokorteks untuk membangun ikon-ikon komunikasi verbal, sementara suara adalah ‘partikel awal’ dari kata. Suara/ bumyi bisa saja suatu interjeksi tanpa makna (jika makna diukur dari rumusan kata). Tetapi lebih dari sekedar itu suara adalah ‘jeritan purbawi’, ekspresi lugas dari gerak maksud manusia ketika belum terangkai oleh kata dan makna yang kemudian disepakati bersama sebagai simbol budaya komunikasi.

Dalam catatan yang saya tuliskan ini tubuh mendapatkan porsi lebih dulu jika dibanding suara (meski dalam proses kelahirannya keduanya serentak hadir dalam diri manusia – kecuali manusia dilahirkan tunawicara). Ini semacam penelusuran ‘psikologis’ untuk mengantarkan tubuh mendorong kemunculan suara.

Banyak para calon aktor seringkali mengalami kekakuan dalam melantunkan kata. Terutama jika seorang pemeran diminta untuk reading sambil moving. Mari kita lihat, para pemula sering kali menjadi jayus ketika harus beralih dari teks ke tubuh. Mininggalkan teks untuk melakukan pergerakan (moving) dalam akting. Saya mengibaratkan hal ini ini dengan mereka yang berlatih menyanyi sambil memetik gitar. Bagi para pemula, seringkali kita melihat, jika mulut menyanyi maka gitar berhenti, jika petikan gitar berbunyi maka mulut berhenti. Bagi para pemula untuk membagi kecerdasan kinestetik semacam ini tidaklah mudah. Untuk membelajarkan hal ini dibutuhkan suatu cara atau metode tertentu. Para pelatih non metodik (maaf, mungkin istilah ini tak tepat, tetapi saya ingin mengatakan ini kepada mereka yang mempelajari teater secara serampangan) — mungkin akan mengatakan, “Pokoknya dijalani saja,” tetapi bagi saya teknik itu sesuatu yang penting. Misalnya, banyak para pengarang/ penulis lakon sering menulis dengan langsung pada cerita. Tetapi pada saat gagasan macet ternyata mereka kembali ke treatment untuk  merangsang tumbuhnya gagasan. Adapun ketika treatment belum selesai dituliskan dan gagasan melaju kencang, maka treatment segera ditinggalkan dan kembali ke dalam tubuh cerita. Hal itu membuktikan bahwa teknik betapapun tetap penting.

Kembali paa pokok bahasan, dari tubuh ke kata, teknik ini mencoba mengurai pelatihan dalam perbagia, supaya menjadi lebih jelas transformasinya. Pada fase inilah tubuh seyogyanya mendapatkan suatu pelatihan olah tubuh tertentu supaya para pelakon memperoleh kenyamanannya.  Beberapa metode theatre game ada yang bisa dipakai acuan untuk merangsang munculnya suara/ bunyi. Permainan tubuh tanpa makna ini akan menuntun munculnya suara-suara acak yang umumnya mendekati interjeksi semacam,’Oh, ah, hai, hiii, aaiii, iiii, uuuu, haahh, dsb.’

Dalam fase ini para pelakon diajak untuk menyelaraskan terlebih dahulu dengan tahapan  mendorong munculnya suara/ bunyi secara spontan tanpa makna tanpa disertai indikasi emosi. ****

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.