Dasar Konsentrasi dan Imajinasi #3

c. Indra pengecap

Screiber dan  Barber menjelaskan bahwa indra pengecap dapat membawa manusia pada kenikmatan rasa dan sekaligus pada ketaknyamanan. Bibir, mulut, dan lidah manusia dapat memberikan sensasi rasa yang dapat mengakibatkan rasa senang dan kenyamanan sampai pada rasa tak mengenakkan dan kebencian. Seperti dalam pengalaman pengecapan yang pernah kita alami dalam kehidupan sehari-hari di mana ada rasa yang kita suka misalnya manis dan gurih, tetapi ada juga rasa yang tak kita suka seperti pahit dan masam. Meski demikian, sensasi rasa antara orang satu dengan yang lain berbeda. Ada orang yang justru suka rasa pahit dan masam serta kurang suka rasa manis dan gurih. Semenjak kecil, kita telah terbiasa membedakan rasa makanan dan minuman melalui indra pengecap. Ada rasa yang memiliki sensasi luar biasa sehingga tidak mudah untuk dilupakan namun ada juga rasa yang benar-benar membuat trauma sehingga kita tidak mau lagi mengecapnya. Pengalaman masa kecil ini pada akhirnya akan membawa kita menuju pada stimulasi dan respons yang berbeda ketika mengecap sesuatu. Seorang aktor, tentunya memiliki memori sensasi rasa melalui indra pengecap yang beragam sepanjang hidupnya.

baca juga : Dasar Konsentrasi dan Imajinasi #2

Sebagaimana halnya dengan bau (penciuman) dan bunyi (pendengaran), seorang aktor semestinya dapat membangkitkan memorinya melalui rasa. Bagaimana sensasi rasa yang dapat menimbulkan ketenangan dan sensasi rasa yang dapat melahirkan amarah harus terekam dalam pikiran dengan baik. Bahkan, rasa makanan atau minuman yang menurut awam adalah biasa, bisa saja menimbulkan reaksi luar biasa bagi orang tertentu karena rasa yang ia kecap mengingatkannya pada peristiwa atau persoalan tertentu dalam perjalanan hidupnya. Seorang aktor harus benar-benar memperhatikan efek dari sensasi rasa ini. Seorang aktor harus pula memahami bahwa manusia memproses pengecapan sebangun dengan proses penciuman. Karena lidah manusia berelasi dengan otak, maka sensasi rasa dari pengecapan akan terhubung dengan ingatan.

Pengaruh atau sensasi rasa pengecap terkadang tidak memerlukan stimulasi nyata untuk menghasilkan tanggapan. Misalnya, kita meminta sesesorang untuk berimajinasi mengecap/merasai pelangi, maka respons yang dihasilkan kemungkinan besar positif. Sementara ketika imajinasi diarahkan untuk mengecap/merasai oli mesin, maka respons yang dihasilkan kemungkinan besar negatif. Padahal kedua hal tersebut yaitu, pelangi dan oli mesin sama sekali tidak dihadirkan dan dikecap secara nyata. Jadi, indra pengecap dalam hal ini memiliki kaitan erat dengan pikiran. Bentuk, warna, dan sifat sebuah benda, jika itu diandaikan sebagai makanan atau minuman akan menghasilkan tanggapan berbeda karena pikiran mempengaruhi atau mengarahkan indra pengecap untuk menolak atau menerimanya. Dengan demikian, tidaklah aneh ketika kita menyaksikan seseorang memberikan makanan, taruh kata roti, yang baru saja dia beli karena selai di dalamnya berwarna hijau, sebuah warna yang memuakkan baginya. Mungkin saja roti itu berasa enak sekali, tetapi karena pengalaman kemuakan akan warna hijau ada dalam memorinya, maka pikiran mengarahkan indra pengecap untuk menolak, bahkan ketika roti tersebut belum sama sekali dimakan. Satu hal yang sangat penting untuk dipahami di sini adalah adanya pengaruh pengalaman dengan indra pengecap yang menghasilkan reaksi psikologis.

Seorang aktor mesti memperkaya dirinya dengan berbagai macam respons atas rasa yang timbul dari indra pengecap ini. Ia mesti bisa membangkitkan memori ketika rasa tersebut kembali dikecap. Oleh karena itu, kerja pikiran tidak bisa diabaikan. Berbagai gambar atau bayangan atau imajinasi akan muncul terkait rasa yang dikecap yang pada akhirnya akan membawa sensasi ke seluruh tubuh. Setiap aktor, sama dengan orang lain, pasti memiliki rasa makanan dan minuman favorit yang kenikmatannya tidak bisa diungkapkan. Memindahkan sensasi kenikmatan rasa pengecap yang menjalar ke seluruh tubuh dan mempengaruhi emosi (psiklogis) ke dalam kondisi “saat ini” adalah tugas pokok aktor ketika bermain peran. Demikian juga dengan berbagai macam respon psikologis atas berbagai rasa yang dikecap, baik itu memuakkan, membangkitkan amaran, membuat terharu, atau perasaan-perasaan lain.

Tindak memindahkan sensasi dengan stimulasi rasa ini perlu diperhatikan dan dilatihkan dengan tanpa menghadirkan rasa yang sesungguhnya. Artinya, ketika dalam sebuah adegan seorang aktor digambarkan mengecap rasa asin campur manis dalam makanan dan kemudian marah terhadap istirinya, rasa itu belum tentu dalam makanan yang disajikan saat adegan berlangsung. Otomatis, aktor harus mampu berkonsentrasi atas rasa asin campur manis dalam makanan meskipun yang tersaji tidaklah demikian. Tidak mudah tentunya hal ini dilakukan, namun tidak mudah adalah kamus sehari-hari seorang aktor. Artinya, menjumpai hal yang tidak mudah adalah lumrah bagi seorang aktor, oleh karena itu ia tidak boleh menyerah dan berhenti sebelum tujuan tercapai. Dalam konteks seni peran, aktor memang diharuskan menghadirkan kejadian yang seolah-olah memang terjadi secara nyata meskipun kenyataan panggung tidaklah senyata kehidupan nyata. Di sinilah usaha-usaha aktor melatih dirinya dipertaruhkan. Pengalaman atau sensasi atas rasa melalui indra pengecapan yang mampu melahirkan emosi tertentu mesti dipahami dan dilatihkan dengan baik. Meskipun tidak semua cerita atau lakon menghadirkan adegan yang melibatkan emosi sebagai akibat dari rasa di indra pengecap, namun memberikan pengalaman sensasional atas rasa dari pengecapan perlu dilakukan.

Mungkin seorang aktor perlu menyediakan waktunya secara khusus untuk melatih indra pengecap ini serta merekam dalam pikiran dengan baik akan sensasi yang dihasilkannya. Hal ini bisa dimulai dari kehidupan sehari-hari seorang aktor di mana ia mulai menyadari dan merasakan betul setiap makanan dan minuman yang lewat melalui indra pengecapnya. Banyak orang yang dalam keseharian tidak terlalu memperhatikan sensasi atas rasa makanan dan minuman yang dimakan dan dimimun karena memang apa yang dimakan dan diminum merupakan menu sehari-hari yang sudah dihafal rasanya. Namun aktor tidaklah demikian, ia harus memusatkan perhatian pada rasa setiap makanan dan minuman, meskipun itu menu sehari-hari, karena rasa nasi hari ini dan esok hari tidaklah sama meski berasal dari kualitas bahan dan teknik masak yang sama. Kegiatan merekam dalam pikiran megenai sensasi indra pengecap ini penting bagi seorang aktor karena hal tersebut merupakan bagian dari konsentrasi yang wajib ia miliki. Makan makanan sehari-hari adalah hal biasa bagi banyak orang, namun tidak bagi aktor karena setiap makanan akan melahirkan sensasi yang berbeda-beda.

===bersambung===

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: