Dasar Konsentrasi dan Imajinasi #4

C. Indra Penglihat

Penglihatan merupakan kemampuan seseorang untuk menyerap apa yang disaksikan dan dengan demikian sangat penting artinya untuk merekam jalannya kehidupan. Banyak hal yang dapat digunakan untuk menjelaskan pentingnya penglihatan dalam membuka rekaman terhadap kehidupan. Schreiber dan Barber megungkapkan hal ini dengan gamblang di mana seseorang mudah sekali megingat suatu kejadian, tempat atau orang lain hanya karena melihat sesuatu. Apa yang dilihat seseorang seringkali membuka kembali rekaman pengalaman lalu secara serta merta. Rekaman masa lalu ini terbuka dalam pikiran dengan penglihatan sebagai kunci pembukanya.

baca juga : Dasar Konsentrasi Dan Imajinasi #3

Selanjutnya Schreiber dan Barber menjelaskan ahwa aktor dapat mengerahkan pikirannya untuk melihat objek atau kilas pandang tentang karakter, sebagaimana halnya mereka bisa menggunakan memuka memori melalui indra penciuman, pengecap, dan pendengaran. Semakin detail observasi, melalui pikiran, yang dilakukan oleh seorang aktor, maka konsentrasi yang dibangun juga akan semakin dalam. Ketika konsentrasi semacam ini terjadi, maka tidak akan terlihat aktor yang lain. Bahkan semua yang ada di depan mata pun tidak akan terlihat karena pada saat konsetrasi ini, aktor akan mengerahkan pikirannya untuk berkonsentrasi. Satu hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam pengerahan pikiran ini adalah, tidak adanya kontak langsung antara objek dan pikiran. Kontak baru akan terjadi ketika indra penglihatan benar-benar digunakan.

Tatapan, seklise apapun, memainkan peran yang sangat penting bagi seorang aktor. Hal itu terjadi tidak lain dan tidak bukan karena mata sang aktor. Mata adalah cermin jiwa dan bagian inti dari kejujuran akting. Melalui mata, aktor tidak hanya menerima aktor lain namun juga dapat menerima seluruh penonton yang hadir. Artinya, melalui mata, aktor dapat menentukan keberterimaan dirinya atas peran yang dilakukan. Ia bisa menganggap lawan main sebagai kawan berlakon ataupun musuh, demikian juga ia bisa menganggap penonton datang untuk mengaguminya atau menerima keberadaan penonton sebagai kenyataan pertunjukan semata. Mata dapat menceritakan segalanya dan penonton dapat menangkap kejujuran akting sang aktor melalui tatapan matanya.

Mungkin aktor akan menyangkal hal ini karena jarak panggung dan kursi penonton terlalu jauh dan tidak terdapat cukup cahaya untuk melihat mata aktor, beda halnya dengan film. Namun demikian, projeksi tatapan mata aktor ini tetap akan dapat ditangkap oleh penonton. Kecuali, aktor tersebut selalu menyembunyikan matanya dalam keseluruhan permainan. Jika demikian, maka ia pun juga menyembunyikan keseluruhan emosi karakter yang sedang diperankan. Memang sangat menakutkan bagi aktor untuk membuka tatapan karena ia akan merasa bersalah ketika emosi yang diekspesikan dan terlihat melalui mata itu merupakan kepura-puraan. Namun bagaimana pun juga, mata merupakan bagian yang sangat penting bagi seorang aktor untuk menyampaikan ekspresinya baik kepada penonton maupun kamera.

Mata atau idra penglihatan, seperti yang disampaikan oleh Schreiber dan Barber di atas memang memegang peranan penting bagi ekspresi aktor. Karena itu, aktor harus berani jujur dan terbuka dalam memanfaatkan indra penglihatnya. Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita lihat bahwa seorang yang merasa malu akan menggunakan tangannya untuk menutupi matanya. Mungkin kita mengira bahwa itu hanya senda gurau saja, namun menutup mata dengan tangan sebagai tanda malu seolah telah menjadi tanda universal, hampir semua orang melakukan itu. Hal ini menandakan bahwa memang mata dapat mengungkapkan kejujuran dan keterbukaan seseorang. Dua hal yang mesti dimiliki oleh aktor ketika berperan.

Latihan dasar indra penglihatan biasanya dilakukan untuk melatih konsentrasi tatapan. Dalam hal ini, tatapan difungsikan tidak untuk menatap melainkan memusatkan pikiran. Seperti apa yang disampaikan oleh Shreiber dan barber, mengerahkan pikiran melalui tatapan justru menghindari kontak langsung dengan objek yang ditatap karena yang bekerja kemudian adalah pikiran. Oleh karena itu, konsentrasi terbaik melalui tatapan adalah ketika mata digunakan untuk mengobservasi objek dan menyerap semua informasi yang dilihat ke dalam pikiran. Pada model latihan ini, mata merupakan scanner dan pikiran adalah hardisknya sehingga ketika satu saat mata menatap objek tertentu, maka pikiran akan membuka lemari penyimpanan pengalaman di mana mata pernah menatap objek yang hampir sama. Pada saat ini, rekam peristiwa termasuk emosi di dalam peristiwa dapat dimunculkan.

Memfungsikan indra penglihat secara optimal dalam observasi dengan sendirinya menggairahkan kerja pikiran. Observasi memampukan indra penglihat untuk berkonsntrasi terhadap objek yang diamati dan pikiran merekam amatan. Jadi yang perlu diingat dalam latihan konsentrasi indra penglihat adalah pengamatan mendalam atas satu objek atau peristiwa atau seseorang dan membiarkan pikiran merekamnya. Dengan seperti itu, maka pikiran tidak akan mengambil alih fungsi indra penglihat.

=== bersambung===

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: