Dasar Konsentrasi dan Imajinasi #5

d. Indra Peraba

Schreiber dan Barber menerangkan bahwa indra peraba adalah kunci dari kepekaan sentuhan. Bagi aktor hal ini sangat penting karena indra peraba selalu berkaitan dengan aksi yang dilakukan aktor baik dalam laku menyentuh peranti, perabot, busana, aktor lain, dan bagian tubuh dirinya sendiri. Sentuhan-sentuhan yang dilakukan saat akting tidak hanya sekedar sentuhan namun pasti mendukung eskpresi maupun emosi karakter yang diperankan. Sensasi sentuhan ini dapat memicu sensasi memori masa lalu atapun sensasi sebagai akibat dari respons yang dilakukan. Sentuhan selalu memiliki makna dalam akting. Ketika seorang aktor memerankan tokoh yang menyentuh benda panggung dan kemudian mengatakan bahwa ia mengingat lokasi tertentu karena sentuhan itu, ia mesti melakukannya dengan penuh penjiwaan. Artinya, ia tidak sekedar mengucapkan baris kalimat dialog namun juga mengerahkan pikiran dan perasaannya untuk menuju ke lokasi tertentu di masa tertentu.

Memaknai sentuhan atau memberikan makna terhadap sentuhan bukanlah perkara mudah yang dapat dilakukan oleh sembarang aktor. Schreiber dan Barber mencatat bahwa banyak aktor memegang peranti namun sama sekali tidak memberi makna pada peranti yang ia pegang. Misalnya saja seorang aktor memegang pedang panjang namun ia tidak tahu bagaimana memberi kesan bobot pada pedang tersebut, akhirnya penonton mengetahui bahwa pedang yang dibawa aktor itu bukan pedang asli karena terasa ringan di tangan si aktor. Dalam hal ini, aktor tersebut gagal dalam meyakinkan penonton. Hal ini terjadi hanya karena ia tidak mengoptimalkan indra peraba yang dimiliki. Dalam teater dan juga film, seorang aktor harus memiliki sentivitas sentuhan sehingga benar-benar merasakan setiap objek yang disentuhnya sehingga bermakna.

baca juga : Dasar Konsentrasi Dan Imajinasi #4

Seorang aktor, menurut Schreiber dan Barber, dapat menyampaikan ribuan kalimat tanpa harus bersuara melalui sensasi sentuhan. Banyak adegan film dan panggung yang dapat dijadikan acuan untuk menjelaskan hal ini. Sebagai contoh, adegan klise yang sering dijumpai dalam sinetron, di mana dua remaja laki-laki dan perempuan tanpa sengaja saling bertabrakan sehingga buku yang ada dalam tas remaja perempuan berhamburan. Dengan tanpa kalimat, kedua remaja tersebut serentak membereskan buku-buku yang berserakan dan tanpa sengaja kedua tangan remaja tersebut saling bersentuhan. Bukannya segera menarik tangan, mereka malah menatap tangan yang bersentuhan lalu pelan-pelan adu pandang, baru setelah itu saling menarik tangan. Tanpa kalimat dialog, penonton diberikan limpahan kalimat bermakna dari sentuhan-sentuhan yang dilakukan dua remaja tersebut. Jika tidak dilanjutkan, karena adegan klise sehingga mudah ditebak, penonton akan mengira kedua remaja tersebut akhirnya akan saling jatuh cinta. Namun jika penulis cerita sedikit nakal dapat membelokkan adegan klise tersebut berlanjut menjadi lucu atau mengagetkan. Tapi intinya, dengan hanya memfungsikan sentuhan, sebuah adegan mampu menyampaikan pesan.

Dalam latihan dasar indra peraba, seseorang umumnya diminta untuk membedakan beberapa benda melalui sentuhan (perabaan) yang dilakukan sambil memejamkan mata. Hal ini secara mendasar dimaksudkan untuk melatih kepekaan indra peraba. Seringkali dalam kegiatan sehari-hari orang tidak memfungsikan indra ini karena ia dapat mengetahui sebuah objek melalui penglihatan. Orang tahu permukaan batu itu kasar atau halus hanya dengan melhatnya. Karena kebiasaan ini, maka indra peraba jarang difungsikan sebagaimana mestinya.

Namun tidak demikian halnya degan aktor. Ia tidak hanya harus membedakan benda melalui sentuha dengan tanpa melihat, namun ia juga mesti memberi makna atas sentuhan atau rabaan yang ia lakukan. Oleh karena itu, latihan indra peraba aktor mesti dikembangkan sedemikian rupa hingga mampu menyampaikan sesuatu tanpa harus mengatakannya. Dalam satu sesi latihan adegan imprvisasi, dua orang aktor saling berkomunikasi dan dalam setiap kalimat dialog mereka harus menyentuh lawan mainnya. Latihan ini merupakan latihan indra peraba tingkat lanjut, di mana seorang aktor mesti memberikan makna melalui sentuhan. Sekilas, latihan semacam ini akan nampak mudah untuk dilakukan, namun tidak jika dengan syarat setiap sentuhan mesti bermakna. Dalam banyak pengalaman, aktor yang menganggap gampang latihan ini akan cenderung melakukan sentuhan tanpa makna pada setiap kalimat yang ia ucapkan. Makna sentuhan dalam latiihan indra peraba semacam ini harus dilakukan dengan memperhatikan respons atas sentuhan. Karena konsep akting adalah aksi-reaksi, maka makna aksi tidak akan muncul ketika reaksi yang dihadirkan tidak tepat. Sensasi sentuhan harus benar-benar dirasakan baik oleh pelau maupun penerima. Di atas panggung, sensasi ini mesti dapat dirasakan oleh aktor dan penonton.

==== bersambung===

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: