Dasar Konsentrasi dan Imajinasi #6

2. Imajinasi

Imajinasi menurut Schreiber dan Barber merupakan hal yang paling diperhatikan oleh aktor dalam latihan tingkat lanjut. Imajinasi merupakan dunia bawah sadar atau sering juga disebut sebagai dunia dalam (inner life) dan hal inilah yang membuat akting seperti benar-benar terjadi (natural, alami). Segenap indra membantu aktor berkonsentrasi dan dalam proses kerjanya menstimulasi imajinasi dan menciptakan sensasi realitas. Secara nyata, cara melatih indra adalah dengan memberikan stimulasi langsung. Misalnya, jika seorang aktor dalam perannya mengalami rasa mual karena mencium bau sampah, maka pelatih bisa memberikan sekantung sampah yang baunya meman membuat mual. Schreiber dan Barber dalam hal ini ingin memberikan gambaran kasar latihan indra tanpa melibatkan imajinasi. Namun hal itu tidak mungkin akan berlaku terus sedemikian karena imajinasi dapat dioptimalkan untuk menghadirkan sensasi dalam latihan konsentrasi indra. Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana menghadirkan atau membangkitkan imajinasi tersebut?

baca juga : Dasar Konsentrasi Dan Imajinasi #5

Schreiber dan Barber menerangkan bahwa sesungguhnya menghadirkan imajinasi dalam bermain peran tidak ada bedanya dengan anak-anak ketika bermain bersama. Ketika seorang bocah bermain di rumah, maka kursi bisa digunakan (diimajinasikan) sebagai goa atau rumah. Ketika orang tua menakui anaknya bahwa akan ada monster yang mengejar, maka sang anak dengan segala daya dan adrenalinnya akan segera berlari dan mencari tempat tersembunyi. Baginya, monster itu adalah nyata dan sedang mengejar dirinya. Hal ini menandakan bahwa imajinasi dalam diri anak tersebut seolah memang sebuah kenyataan dan ini merupakan dunia bawah sadar. Gerak hati dan imajinasi saling mengisi.

Aktor pada dasarnya mesti menciptakan dunia yang seolah nyata dan dapt dipercaya. Screiber dan Barber mengutip apa yang diterangkan oleh Stanislvaski mengenai obervasi yang dilakukan oleh istrinya ketika harus berperan sebagai pelacur. Istri stanislavski benar-benar mengamati para pelacur jalanan. Ia mengamati cara dan gaya bicaranya, tingkah-lakunya, dan setiap gerak-gerik yang ada. Ia juga mengajak mereka berbicara, membicarakan hidup mereka dan mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut mereka. Dengan modal hasil observasi ini, istri Stanislavksi mengerahkan imajinasinya untuk mengeksplorasi pikiran mengenai bagaimana wujud nyata dari laku menjual diri ini. Dengan semua latar yang ia dapatkan, istri Stanislavski mampu menyajikan kehidupan dan eksistensi seorang pelacur di atas panggung.

Apa yang hendak disampaikan oleh Schreiber dan Barber dengan mengutip Stanislvaski adalah bahwasanya imajinasi tidak bisa dilakukan serta-merta. Dalam banyak latihan teater amatir, kesertamertaan ini selalu menghiasi latihan dasar imajinasi. Tanpa ada ancang-ancang atau latar belakang pemikiran atau cerita rekaan atau apapun yang dapat dijadikan stimulan, para peserta latihan langsung diminta untuk berimajinasi sesuai perintah pelatih. Bahkan termasuk ekspresi emosional yang berbasis imajinasi serta-merta itupun model pelatihannya seperti ini. Satu hal yang sangat berbeda dibandingkan dengan pengalaman istri Stanislavski.

Pengetahuan dasar yang didapatkan istri Stanislavski melalui observasi adalah pemantik imajinasi. Jadi ia tidak bermula dari kekosongan atau hanya sekedar mengawangkan sesuatu. Dalam permainan anak-anak, imajinasi juga tidak muncul dengan sendirinya. Mereka saling menyepakati tema dan kemudian mensubsitusi benda yang ada di sekitarnya dengan benda dalam imajinasi sesuai tema. Kesepakatan tema inilah yang menjadi pengetahuan dasar atau pemantik imajinasi. Karena kesepakatan temanya sangat sederhana, maka imajinasi yang dihasilkan pun juga sederhana namun demikian tetap hidup. Hal ini terjadi karena dalam bermain-main, anak-anak tidak memiliki beban, mereka melakukannya dengan rileks.

Keadaan rileks ini menjadi penting dalam olah imajinasi. Ketegangan tidak akan melahirkan pikiran yang jernih. Untuk mencapi kondisi rileks ini, imajinasi sering dilatihkan dalam bentuk permainan atau improvisasi. Di dalam permainan tidak ada konsep benar dan salah melainkan melanggar peraturan atau tidak. Peraturan juga dapat ditentukan secara bersama-sama. Permainan imajinasi dimulai dari asosiasi atau bagaimana seseorang menecari hubungan satu kata, benda atau peristiwa dengan kata, benda, atau peristiwa lainnya. Dalam permainan anak-anak, kursi yang ditumpuk di atas meja dapat disepakati bersama sebagai gunung karena ada asosiasi “tinggi” antara gunung dan tumpukan kursi di atas meja. Ada kecerdasan dasar dalam berasosiasi di sini di mana “tinggi” menjadi kata kunci untuk menghubungkan kursi ditumpuk di atas meja dengan gunung.

Asosiasi dalam hal ini dapat dimaknai sebagai pembentukan hubungan antara gagasan, ingatan, dan kegiatan panca indra. Apa yang dilakukan oleh istri Stanislavski ketika mengobserbasi kehidupan pelacur adalah mengumpulkan sebanyak mungkin bahan dasar (pengetahuan) yang pada nantinya dapat dihubungkan dengan gagasan, ingatan, dan ditubuhkan melalui panca indra (aksi). Pada tingkatnya yang lebih lanjut, asosiasi ini dapat digunakan untuk menghubungkan hal-hal yang abstrak dengan perasaan atau emosi. Satu hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan sebenarnya di mana hitam dapat disikapi sebagai kekelaman atau biru memaknakan perasaan sendu. Untuk menuju ke tingkat tersebut, asosiasi dasar seperti dalam permainan anak-anak mesti dilalui dengan rileks (tenang, jujur, dan senang).

Secara mendasar, apa yang disampaikan oleh Schreiber dan Barber mengenai konsentrasi dan imajinasi adalah dua hal yang saling berhubungan. Meskipun latihan panca indra memampukan kerja konsentrasi seorang aktor terkait sensasi indra tertentu, namun proses kerjanya melibatkan imajinasi. Meskipun imajinasi tidak menjadi pokok bahasan dalam latihan panca indra namun pengaitannya tidak bisa dihindarkan. Baru pada saat latihan imajinasi secara khusus dilakukan, keberfungsian imajinasi ini ditegaskan melaui asosiasi. Pada saat seorang aktor memainkan peran, konsentrasi dan imajinasi ini bekerja secara simultan dan mengalir. Artinya, aktor tidak perlu ancang-ancang untuk berkonsentrasi dan berimajinasi ketika berekspresi. Hukum yang belaku kemudian adalah ”beraksi saat ini” di mana perkataan, pikiran, perasaan, dan perbuatan berada pada saat yang sama dalam satu kesatuan ekspresi. (**) 

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: