Eduteater

Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 3

Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 3

 Oleh: Eko Santosa

3. Bagaimana Saya Melakukannya?

Pertanyaan mendasar bagi seorang pemeran pemula ketika menerima peran adalah, “bagaimana saya melakukannya?”. Tapi tidak menutup kemungkinan juga pemeran yang telah memiliki pengalaman. Jawaban pendek dan tegas adalah, “latihan”. Setiap pemeran mesti berlatih untuk melakonkan peran. Itu memang benar. Tapi latihan seperti apa agar kemudian bisa? Ini yang jawabannya belum tentu serempak sama. Pertanyaan “bagaimana?”, jika tidak dicermati dengan baik akan mengarahkan pemeran kepada modul latihan peran. Pun demikian halnya dengan pelatih. Ia akan langsung menuju pada modul atau standar latihan yang biasa diselenggarakan. Apalagi sebagian kelompok teater menyelenggarakan latihan hanya untuk keperluan pementasan. Otomatis bahan dasar dari latihan adalah teks lakon. Jadi akhirnya akan kembali pada situasi terjebak panduan dan naskah lakon seperti yang telah diuraikan pada poin sebelumnya.

baca juga : Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 2

Sesungguhnya untuk menjawab pertanyaan, “bagaimana?”, bukan langsung menuju kepada cara atau langkah pelaksanaan. Jawaban yang langsung mengarah kepada cara melakukan akan melahirkan prosedur yang kemudian menjadi panduan. Ketika hal ini dikerjakan, maka pemeran akan melakukan sesuatu secara hapalan. Baik itu laku aksi maupun ekspresi kata-kata. Pertanyaan “bagaimana?”, akan terjawab dengan sendirinya jika pemeran tersebut mengetahui, “apa”. Artinya sebelum mengetahui bagaimana ia berlaku ia harus tahu apa itu yang akan dilakukan. Formula ini dengan cerdas diungkapkan oleh Mary McTigue dan dengan gamblang dijelaskan oleh Stella Adler. Pertanyaan “apa?” akan memberikan penjelasan teridentifikasi atas subjek pertanyaan. Misalnya, untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana saya bisa berperan sebagai petani?”, pemeran harus menemukan penjelasan secara lengkap apa atau siapa itu petani. Tanpa penjelasan ini mustahil laku petani bisa diwujudkan secara normal.

Jadi secara sederhana, langkah pertama sebelum berperan adalah pemahaman. Komprehensi pengetahuan atas peran yang akan dimainkan. Semua hal terkait cerita lakon, karakter yang akan diperankan dan semua hal yang bersinggungan dengan karakter itu harus dipahami. Seperti telah disebutkan sebelumnya, perlu pula digali cerita sebelum dan sesudah lakon. Pemeran perlu menggali semua informasi mengenai hal ini. Tentu saja tidak hanya melalui teks lakon namun juga lewat observasi, studi pustaka atau hal-hal lain yang mendukung. Informasi ini harus detil. Dari informasi inilah gambaran atau imajinasi cerita dan karakter didapatkan. Selanjutnya, tugas pemeran untuk lebih mendetilkan pernik-pernik yang ada dalam cerita dan karakter tersebut. Misalnya cerita tentang petani seperti di atas, haruslah jelas usianya, tinggi dan berat badan, pakaian kesukaan, kebiasaan, cara minum, cara berjalan, gaya sisiran rambut, cara mengenakan topi, cara bicara, warna suara, cara memegang dan teknik mencangkul, dan semua hal yang menyangkut diri dan lingkungan hidup petani itu. Dalam hal ini, imajinasi pemeran sangat penting untuk menghadirkan detil karakter yang akan diperankan.

Keterengan mengenai karakter dan cerita tidaklah boleh secara garis besarnya saja. Karena hal ini belum bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan, “bagaimana?”, secara tepat. Semakin detil keterangan itu akan semakin baik. Memahami hal seputar karakter dan cerita bukanlah perkara mudah. Sebab jika semua tidak dibentuk dalam pikiran lalu bagaimana akan melakonkannya? Sebagian pemeran sering menyerahkan hal ini pada pelatih, sutradara atau kelompok dalam latihan. Termasuk di dalamnya detil dan instruksi laku karakter. Hal ini tidak bisa dibenarkan. Dalam seni peran yang mengedepankan realitas, laku aksi semestinya alami. Kealamian karakter tidak akan muncul jika gerak-gerik dan ucapannya diarahkan oleh orang lain. Jika pemeran menyerahkan hal ini pada orang lain maka ia tidak lebih dari sekedar boneka robot. Ia tidak menghidupkan karakter. Ia hanya menjalankan perintah saja. Karena hanya menjalankan perintah, maka ia belum tentu paham apa yang sedang ia lakukan. Jika pemeran tidak paham apa yang sedang dilakukan, maka laku aksinya pasti palsu. Dibuat-buat. Diarah-arahkan. Diindah-indahkan.

Hal tersebut jika terus dilakukan dan mengurat akar akan melahirkan ketidakpercayaan diri. Dari kebingungan menjawab pertanyaan, “bagaimana?”, hasil akhirnya justru ketidakpercayaan diri. Karena kembali lagi pemeran hanya akan mengikuti arahan orang lain. Pantas tidaknya ia berperan, alami atau tidaknya akting yang dilakukan ditentukan oleh orang lain. Tanpa orang lain itu berkata, “tepat” maka ia akan menganggap dirinya keliru. Pertanyaan “bagaimana?” tidak bisa dijawab dengan tergesa. Tidak pula bisa dilakukan dengan serta-merta. Sebelum segala hal yang dibutuhkan oleh pemeran itu dipahami sepenuhnya, maka aksi belum bisa dilakukan. Pemahaman ini semestinya selesai sebelum latihan dilakukan.

Jadi, pemahaman adalah kata kunci. Bahkan Stella Adler membutuhkan banyak pertemuan untuk membahas mengenai pemahaman peran dan pemeranan ini sebelum menuju ke teks.Tergesa melakukan latihan berbasis teks dengan tanpa pemahaman memadai akan memunculkan ekspresi bentukan. Pertama adalah bentukan diri sendiri atas interpretasi sesaat berdasar teks yang dibaca tanpa memperdulikan teks lawan main. Kedua adalah bentukan pelatih atau sutradara yang mencoba menjembatani emosi antara karakter satu dan yang lain. Ketiga, adalah bentukan pemeran setelah mengadopsi arahan pelatih atau sutradara. Meski pada akhirnya, ekspresi dan emosi dianggap tepat, namun tepat secara bentukan. Tidak alami. Sementara itu secara normal, seseorang berlaku atau berekspresi dalam keseharian, berbasis kesadaran yang lahir karena pemahaman. Atas dasar kenyataan inilah banyak tokoh teater dunia yang menyarankan, “janganlah berbuat atau beraksi jika kamu tidak tahu untuk apa itu dilakukan”, atau, “tunggulah sampai kamu benar-benar paham sebelum beraksi”.

=== === === bersambung

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.