Eduteater

Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 4

Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 4

 Oleh: Eko Santosa

4. Merasa Bisa

Panggung teater selalu melahirkan pesona. Sesuatu yang terkadang tidak bisa dijelaskan. Seseorang yang telah lama berlatih peran belum tentu bisa mendapatkan sanjungan selepas pementasan. Namun bisa saja seseorang yang baru saja berperan langsung menuai pujian. Seni pertunjukan atau tontonan memiliki pesona yang tak bisa gamblang dijabarkan. Terlebih ketika seni akting terkoneksi dengan idustri. Pemeran berkemampuan semenjana terkadang lebih memiliki banyak kesempatan dan penonton ketimbang pemain watak yang hebat. Akan tetapi sifat kesementaraan seni pertunjukan perlu diwaspadai. Peristiwa panggung yang hebat sering terlupakan karena kepelikan peristiwa nyata dalam kehidupan. Di film pun berlaku hal yang sama. Pemeran hebat akan mudah terlupakan ketika tidak banyak memiliki kesempatan tampil di layar. Muka lama akan segera terganti muka baru. Apalagi dewasa ini perputaran semacam ini seolah berjalan dengan sangat cepat.

baca juga : Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 3

Hakikat kesementaraan ini semestinya disadari oleh setiap pemeran. Karena kesementaraan itu, maka usaha dan belajar dalam bidang pemeranan tidak bisa dan boleh berhenti. Pemeran merupakan profesi yang rawan. Minat akan seni peran bertumbuh karena pesona yang dihasilkan namun skala produksi berkualitas kurang mampu mengimbangi. Artinya banyak tumbuh pemeran baru yang membutuhkan panggung atau layar untuk tampil. Akhirnya apapun bentuk dan bagaimanapun proses produksi itu berjalan, pemeran mencoba menjadi bagian darinya. Pendar pesona itu telah mengalahkan kesementaraan. Pendar pesona itu pulalah yang terkadang membatukan niatan pemeran muda untuk berkembang menjadi handal dalam bidangnya. Ketika hal ini terjadi, segala niatan itu kemudian berubah menjadi masa lalu. Sulit baginya untuk kembali membangkitkan kesadaran akan kesementaraan dan syarat untuk senantiasa bisa hidup di dalamnya.

Pesona yang justru membenamkan ini biasanya memang menghampiri pemeran muda dan pemeran berpengalaman yang telah sekian lama tidak mendapatkan kesempatan. Pada pemeran muda, persoalan muncul di mana pada saat pertama atau kali ke berapa ia tampil mendapatkan pujian. Ia dianggap tampil sangat sesuai oleh hampir semua orang. Pada saat itulah sikap “merasa bisa” langsung menjalar. Jika ini hanya semacam kepuasan sesaat, tentu tidak menjadi masalah. Namun seringkali perasaan “merasa bisa” seperti ini berlarut-larut hingga akhirnya benar-benar mengeram dalam diri pemeran itu. Karena penampilannya bagus, maka tak segan ia menganggap dirinya aktor mumpuni. Ia akan menyejajarkan dirinya dengan para profesional dan mulai memandang rendah yang lain. Sikap kekanakan semacam ini pada akhirnya akan melahirkan kemalasan untuk belajar kembali. Karena ia telah “merasa bisa” dan menganggap semua karakter bisa ia lakonkan sama hebatnya dengan cara atau pendekatan yang sama. Ia tak lagi menyadari bahwa konsekuensi waktu yang terus berjalan itu akan membawa banyak perubahan (perkembangan). Ia menyangka bahwa capaian keindahan yang telah ia gapai itu stagnan. Ia menjadi tak paham bahwa konsepsi tentang keindahan itu selalu berjalan ke depan seiring dengan kehidupan. Beruntung bagi pemeran yang segera sadar akan hakikat kesementaraan sehingga segera bisa keluar dari penjara “merasa bisa” ini.

Dari sisi pemeran senior yang pernah menggapai masa kejayaan lalu kemudian vakum beberapa lama, penyakit inipun mudah menjangkit. Sikap “merasa bisa” ini muncul karena dulunya memang ia memiliki kemampuan untuk itu dan diakui. Tetapi ketika situasi dan kondisi zaman telah berubah yang dengan sendirinya mempengaruhi kualifikasi artistik, kebisaan itu perlu lagi diragukan. Kebisaan itu perlu lagi dipertanyakan. Perlu diuji ulang. Jika memang ia pemeran yang baik, tentu saja akan terus belajar selama masa vakumnya. Sehingga ia mengikuti perubahan yang ada, meski tidak duduk di kursi pemain. Ketika kemudian diberi kesempatan untuk bermain pastilah akan tekun berlatih dan menjalani pelatihan dengan baik. Ia akan membuka pikiran terhadap saran dan berusaha menyesuaikan dirinya dengan kebaruan pemahaman, pendekatan, dan teknik yang ada. Karena hanya dengan itulah ia akan merasa lahir kembali.

Lain halnya jika ia pemeran yang telah memonumenkan dirinya (ini seringkali dijumpai). Ia akan mengukur dan melakoni segalanya seperti saat masa ia jaya. Sulit bagi pekerja astistik lain atau para kolaboratornya untuk bersama bekerja jika tidak menurut pola dan iramanya. Bahkan, jika ada yang mau mengarahkan, memberi saran, atau mengkritik bisa-bisa harimau yang ada dalam dadanya itu keluar. Mengaum dan memamerkan taringnya. Meskipun yang melakukan arahan itu adalah sutradara. Meskipun yang memberikan kritik adalah pengamat yang diundang pada saat latihan. Ia akan melihat siapa yang berbicara bukan kualitas yang dibicarakan. Ia akan tetap tegap berdiri karena merasa ialah yang paling bisa. Situasi dan kondisi yang jika diamati secara kejiwaan berada pada titik yang parah. Pemain itu sebenarnya nervous, gagu dan gagap atas segala perubahan yang ada. Jauh di lubuk hati terdalam ia sebenarnya mengakui bahwa dalam banyak hal telah merasa ketinggalan. Tapi demi kejayaan nama yang pernah disandangnya, ia tak mau tunduk mengakui. Bahkan kepada dirinya sendiri. Ia tak mau tunduk pada kesementaraan. Ia mau segalanya tetap. Tak berubah seperti pada masa jayanya.

Sikap selalu “merasa bisa” ini terlihat sepele, namun berakibat fatal. Pemeran yang semestinya senantiasa berlatih dan belajar menjadi mandeg karena sikap ini. Jika pemeran tidak menyadari hal ini, maka ia telah mengubur talentanya. Ia selalu akan menganggap remeh orang lain. Ketika satu saat ada pemeran lain yang dianggap hebat oleh banyak orang, ia akan mencibir. Karena ia telah “merasa bisa” sendiri. Padahal sejatinya ia iri akan kesuksesan orang lain. Sementara untuk mencapai kesuksesan yang semacam itu, ia mungkin tak sanggup lagi. Hal ini dikarenakan selama waktu ia selalu “merasa bisa” itu, ia tak lagi berlatih dan belajar. Teater yang sejatinya mengajarkan tentang keindahan kehidupan dikotori dengan sifat iri yang tentu saja menyemai benci. Semua terjadi karena pemeran itu selalu “merasa bisa”.

=== === === bersambung

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.