Eduteater

Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 5

Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 5

 Oleh: Eko Santosa

5. Menonton Tapi Menilai

Observasi merupakan salah satu tugas penting pemeran. Dalam keseharian, tindak observasi tidak boleh dilupakan. Selain membantu fokus, obsevasi dapat memperkaya vokabulari peran atas segala apa yang diamati. Kegiatan ini tidak perlu direncanakan atau dijadwal. Dalam setiap kesempatan pemeran harus menerapkan tindak pengamatan ini. Mengamati perilaku orang dan peristiwa alami yang terjadi dapat menimbulkan sensasi. Hal ini menjadi penting dalam kaitannya dengan pelibatan perasaan atau emosi atas apa yang diamati. Observasi juga dapat dilakukan dalam sesi latihan dengan melatih (menggunakan dan merasakan) segenap panca indera, membaca, melihat, dan mendengar. Intinya adalah menyerap apa yang ada di luar diri untuk dipahami dan dirasakan.

baca juga  : Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 4

Salah satu kegiatan observasi yang sebenarnya sering dialami namun salah ditindakkan adalah menyaksikan pertunjukan. Pertunjukan sebagai salah satu karya estetik di dalamnya mengandung wujud, bobot, dan presentasi. Wujud akan menginformasikan tentang elemen, bentuk, dan struktur. Bobot akan memberikan gambaran mengenai gagasan dan pesan. Sementara presentasi mempertontonkan bakat, keahlian, dan cara pengemasan. Semua informasi ini dapat diserap dengan baik baik selama ukuran salah atau benar dikesampingkan. Artinya pikiran dan perasaan diarahkan untuk menerima segala apa yang dilihat dan sensasi yang dihasilkan. Dengan demikian semua informasi  baik melalui pendegaran dan penglihatan akan masuk dengan bebas ke dalam pikiran dan menimbulkan sensasi tersendiri. Semakin banyak informasi semacam ini ditampung, semakin banyak pula pengalaman artistik yang didapatkan.

Namun yang seringkali terjadi tidaklah demikian. Anugerah pembelajaran gratis dan mudah itu ternyata tidak cukup menyadarkan pemeran. Setiap kali mereka menyaksikan pertunjukan, mereka tidak benar-benar menyaksikan. Mereka menilainya. Mereka menghakiminya. Setiap tampilan bahkan sampai hal-hal kecil sekalipun tak luput dari penilaian mereka. Kegiatan menonton ini kemudian segera berubah menjadi tindakan kasak-kusuk nan penuh sesak oleh hujatan lembut dalam bisikan yang berisik. Dasar yang digunakan sebagai ukuran penilaian selalu mereka, pengalaman mereka atau hal-hal yang terkait dengan mereka. Seolah tak rela jika yang berada di atas pentas adalah orang lain. Seolah-olah hanya merekalah yang pantas menjadi pemain dalam pementasan itu. Mereka sibuk mencari kukurangan pertunjukan itu dari setiap sisi mulai awal sampai pertunjukan selesai. Ironis.

Kondisi seperti ini tidak akan pernah melahirkan pembelajaran sedikitpun melainkan peninggian diri yang tak perlu. Peninggian diri ilusif. Menilai sebuah pertunjukan disaat pertunjukan berlangsung, bagi seorang pemeran, tidak akan pernah menghasilkan penerimaan positif atas apa yang terjadi di atas panggung. Kegiatan menonton sesungguhnya adalah proses menerima rangsang dari berbagai macam sumber. Dengan kekayaan rangsang ini pemeran bisa memahami segala sesuatu berkait pemeranan untuk kemudian ia olah dan terapkan dalam proses pelatihan. Nasehat bijak dari pelaku teater profesional dalam hal menonton pertunjukan adalah, “Tontonlah pertunjukan teater atau yang lainnya bahkan ketika mutu pertunjukan tersebut tidak baik, karena dari sanalah kamu bisa belajar menghindari hal-hal yang tidak baik itu dalam karyamu.” Nasehat ini mensyaratkan keterbukaan pikiran dan perasaan ketika menyaksikan sebuah pertunjukan. Semua hal yang tersaji di atas pentas berharga tinggi bagi sebuah proses pembelajaran, bahkan ketika pertunjukan itu tidak bermutu. Dengan keterbukaan (menyerap apa adanya), pemeran akan memiliki berbagai contoh dan non-contoh tampilan artistik sebuah pertunjukan. Semua itu adalah bahan penting pembelajaran.

Menilai tatkala menonton merupakan sikap aksi-kontra aksi yang berlawanan dengan prinsip akting aksi-reaksi. Aksi di atas pangung berbalas kontra aksi berupa komentar, cibiran, atau hal-hal lain yang terkesan meremehkan. Kontra aksi semacam ini yang berlangsung terus-menerus selama pertunjukan tidak akan melahirkan kebijaksanaan (endapan pikiran) karena memberikan tanggapan atas sesuatu yang terjadi secara emosional. Sebuah proses tanggapan tanpa didahului olah informasi sesaat dalam pikiran. Proses in menghilangkan jalinan komunikasi yang semestinya terjadi secara alamiah. Pertunjukan lawakan tradisional yang bermaterikan lawakan hafalan pun sering tetap mengundang gelak tawa penonton yang telah menyaksikan pertunjukan tersebut puluhan kali. Ini terjadi karena para penonton ikhlas menerima semua informasi yang disampaikan dan terlibat langsung dalam proses komunikasi alami antara penonton dan penampil. Ini terjadi karena para penonton benar-benar mendudukkan dirinya sebagai penonton. Mereka memberikan penghargaan tinggi pada para pemain. Mereka bukanlah penilai yang selalu mencari celah kesalahan dan kekurangan dalam pertunjukan tersebut. Sikap semacam inilah yang semestinya dirawat oleh para pemeran ketika menyaksikan sebuah pertunjuan. Sikap selalu merasa benar dan baik tidaklah menjadikan pemeran tersebut benar dan baik, karena ia hanya “merasa” dan bukan “senyatanya”.

=== ==== === bersambung

One thought on “Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 5”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.