Eduteater

Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 7

Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 7

 Oleh: Eko Santosa

  1. Antara Kenyataan dan Kesan

Dunia panggung atau film adalah dunia rekaan yang sering meninggalkan kesan mendalam baik bagi penikmat maupun pelaku. Konsep idola lahir dari kesan ini. Penonton, karena  begitu menikmati lakon yang disajikan, bisa hanyut dalam tautan peristiwa lakon. Ia merasakan apa yang dirasakan tokoh yang disaksikan. Ia mengagumi dan sekaligus membenci. Ia kagum pada tokoh pujaan yang sesuai kualitas yang diharapkan namun benci pada tokoh jahat atau licik dalam lakon tersebut. Perasaan ini begitu menggetarkan dan mencengkeram pikiran. Ia menganggap apa yang disaksikan itu berlaku juga dalam kehidupan para pemeran. Bagi pemeran yang mendapatkan peran jahat akan dianggap seperti itu pula wataknya dalam kehidupan sehari-hari. Demikian tentunya dengan pemeran yang berperan sebagai tokoh baik. Ia tidak tahu kehidupan sehari-hari para pemeran itu bisa saja bertolak belakang dari peran yang dilakoninya. Namun daya cengkeram perasaan akibat menonton pertunjukan itu terlalu kuat, susah dilawan. Dalam dunia anak-anak, bahkan perilaku tokoh baik ini mereka tirukan. Gaya berpakaian, cara berjalan, gaya bicara, dan beberapa aksi menawan lainnya. Semua bocah akan bersorak-sorai ketika salah satu dari mereka bisa menirukan dengan persis gaya sang tokoh idola tersebut. Bagi peniru, ini merupakan satu kebanggan tersendiri. Pesona panggung atau film melahirkan satu hal yang khas. Pemeran adalah tokoh yang diperankan, vice versa.

Pesona ini lahir karena penonton berhasil hanyut dalam cerita dan watak pelakon cerita. Artinya, semua nampak alami bagai kehidupan nyata di mata penonton. Sekat tak terlihat itu menjadi tembus. Peristiwa panggung atau layar masuk ke dalam otak penonton. Pelan namun pasti dan akhirnya mempribadi. Penonton menikmati proses itu. Ikhlas menyediakan perasaannya untuk diaduk-aduk. Ikhlas membuka pikirannya untuk menerima jalannya cerita tersebut. Kesan telah berubah menjadi kenyataan.

Sementara itu dari sisi pemeran, situasi ini membawa dampak luar biasa bagi dirinya. Keberhasilan dalam berperan membawa pesona yang seolah lekat berterusan. Hukum kesementaraan menjadi sirna. Dalam seni teater tradisional, seringkali kondisi ini sengaja dipertahankan. Artinya, pemeran yang berhasil memerankan satu jenis atau motif karakter dan disukai penonton akan terus mendapatkan peran yang semacam itu. Akhirnya, kesan dipaksakan untuk menjadi kenyataan. Kultur ini membawa pengaruh mendalam dalam kehidupan sehari-hari pemeran terutama di tengah lingkungan masyarakat penontonnya. Pemeran dagelan (lawak) dalam teater tradisional yang telah menahun seringkali dimaklumi tindak-tanduknya dalam kehidupan masyarakat sebagai seorang yang lucu atau di luar keumuman sesuai peran yang dimainkannya di atas panggung. Tidak jarang jenis dan motif peran yang lain menghadapi kondisi semacam ini. Pesona yang semula adalah kesan yang lahir karena jarak estetik harus diwujudkan dalam kenyataan hidup sehari-hari nan lekat. Kondisi yang mungkin menyenangkan bagi pemeran di satu waktu tetapi menjadi tekanan di banyak waktu lainnya. Ia tak lagi bisa dengan seenaknya menjadi dirinya sendiri apa adanya. Ia benar-benar dikendalikan oleh orang atau situasi yang berada di luar dirinya. Benar-benar tidak bebas.

baca juga  : Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 6

Hidangan “Simalakama” yang membutuhkan satu keputusan berat untuk dimakan atau tidak. Ada pemeran yang bisa mengambil keputusan lepas dari kondisi ini adapula yang mencoba menikmatinya. Pemeran yang mau dan  berhasil lepas dari kondisi ini harus menyadari bahwa tidak boleh terjebak pada pesona atas penampilannya. Ia harus segera kembali menjadi dirinya sendiri setelah tidak berada di atas panggung. Ia harus membedakan bahwa kehidupan nyata dan di atas panggung itu berbeda. Sementara itu tidak sedikit pula pemeran yang mencoba menikmati kondisi ini. Atas pertimbangan non-artistik seperti tuntutan ekonomi di mana ketika ia tidak bermain di atas panggung ia tidak akan bisa menghidupi dirinya, ia melekatkan pesona ini dalam kehidupan sehari-harinya. Namun, tentu saja ia tidak akan pernah bisa bermain peran dengan jenis dan motif yang lain. Artinya, secara sadar ia telah memutuskan dirinya untuk menjadi pengrajin dan bukan lagi seniman seni peran. Keputusan ini tentu saja dapat bertahan lama selama peran yang ia lakoni itu diminati, karena bagaimanapun juga, dunia panggung atau layar menghadapi kejenuhan selera yang niscaya.

Kedua pilihan tersebut membawa konsekuensi bagi diri pemeran. Pilihan pertama merupakan pilihan niscaya bagi seniman seni peran. Ia akan segera kembali kepada dirinya sendiri selepas pertunjukan. Sekilas hal ini nampak sangat mudah, namun bagi pemeran yang begitu menghayati perannya, hal ini menjadi sangat sulit. Oleh karena itulah meditasi diperlukan. Bahkan, beberapa pemeran profesional menyarankan untuk beristirahat dari kegiatan seni peran beberapa lama agar sang pemeran dapat kembali menjadi dirinya. Watak tokoh yang dimainkan sering masih melekat dan terbawa dalam kehidupan. Menjadi masalah ketika pemeran tidak bisa mengendalikannya. Ia justru akan diperbudak oleh watak tokoh itu. Dunia dirinya akan terenggut. Sedikit banyak pengalaman ini pernah dialami oleh para pemeran profesional hingga mereka harus memerlukan waktu dan terapi tersendiri untuk kembali ke jati diri mereka.

Persoalan kenyatan dan kesan ini sering juga memunculkan perilaku lain yang bisa saja membudaya. Pesona yang dihasilkan dari penampilan di atas panggung itu kemudian berubah menjadi hitung-hitungan matematis dalam pelatihan. Cara menggapai pesona itu kemudian dipolakan dalam latihan. Padahal semua orang tahu bahwa jika peran itu terkait dengan perasaan, maka kerja penghayatan (pemahaman) itu menjadi syarat utama. Dengan memolakan cara menggapai pesona, perasaan dalam berperan cenderung dilupakan. Pemeran akan dituntun untuk memperindah laku demi mendapatkan kesan “wah” ini. Pola ini dijalankan dalam kehidupan sehari-hari di mana gestur dan gestikulasi pemeran mengikuti hukum keindahan panggung yang telah dibuat matematis itu. Sekilas hal ini menggelikan dan seolah tidak perlu. Namun ini bisa terjadi. Pemeranan (akting) yang semestinya dilakukan di atas panggung kemudian dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Agar ketika nanti berperan (berakting) di atas panggung hal-hal tersebut telah membiasa sehingga nampak natural. Jadi dalam pemikiran ini, naturalitas itu bisa direncanakan. Sesuatu hal yang sesungguhnya tak masuk akal karena cerita pun belum ada tapi pemeran sudah merencanakan pola aksinya. Lagipula, pesona pertunjukan pun juga sangat mungkin mengalami pergeseran. Ada penonton yang tertarik dengan kelembutan, ada yang tertarik dengan kealamian, ada yang tertarik dengan atraksi, ada yang tertarik dengan kalimat-kalimat puitik, ada yang tertarik dengan kerapian, ada pula yang tertarik dengan monotonitas. Artinya, pesona itu tidaklah tetap. Ia sangat tergantung dengan mood di mana pertunjukan itu digelar dan sesiapa orang yang hadir menyaksikannya. Mengharap pesona dan me-nyata-kan kesan jauh sebelum pertunjukan itu cukup menggelikan. Jadi, hentikanlah memolakan diri untuk menggapai pesona dan mencapai kesan itu, karena pesona hanya didapatkan ketika pertunjukan berlangsung dan kesan didapatkan setelahnya. Bukan sebelumnya.

====== (bersambung)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.