Eduteater

Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 8

Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 5

 Oleh: Eko Santosa

  1. Eksklusifisme

Dunia pertunjukan sering diidentikkan dengan dunia hiburan. Anggapan ini tentu saja tidak benar. Seni pertunjukan dan hiburan berada dalam dua dunia berbeda meski terdapat irisan tebal yang membuat keduanya nampak tidak ada bedanya. Terutama bagi awam. Anggapan ini sebenarnya tidak merujuk pada konsep seni atau kerajinan melainkan pada kekhususan insan-insan di dalamnya. Seniman dan juga entertainer sering dianggap orang yang unik sehingga memerlukan permakluman dalam keseharian hidupnya. Tidak hanya terkait kegiatan dan pekerjaan melainkan juga sikap atau tingkah laku mereka. Seringkali awam menganggap bahwa apa yang mereka lihat di atas panggung adalah keadaan nyata para pelakonnya. Anehnya, anggapan ini sering menemukan maknanya ketika seorang pemeran amatir berlaku seolah-olah ia sedang berada di atas panggung ketika hidup di tengah masyakarat. Pemeran amatir ini justru me-nyata-kan kehidupan panggung dalam kesehariannya. Ditambah lagi jumlah pemeran amatiran ini banyak. Jadi tidaklah terlalu salah anggapan awam itu.

baca juga  : Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 7

Kekhususan ini pun membawa pengaruh dalam diri pemeran itu. Ia justru beranggapan bahwa dirinya semestinya dimaklumi. Ia menganggap orang lain sebagai orang yang tidak tahu dunia seni dan karenanya wajib untuk tahu. Umum sepakat bahwa tingkah seniman itu selalu aneh-aneh. Berada di luar keumuman dan umum harus memakluminya. Mulai dari pakaian, gaya bicara, dan juga cara berpikir. Sikap kritis atau kadang tak peduli yang muncul harus dianggap sebagai hal yang lumrah terjadi. Sesuatu yang sesungguhnya merugikan bagi pemeran itu sendiri. Ia menjadi tak ada bedanya dengan berpentas di atas panggung. Selalu ingin ditonton. Padahal semestinya ia senantiasa fokus melakukan observasi untuk menyerap daya hidup keseharian yang ia alami. Dengan menerima permakluman, maka ia menjadi semakin manja dan malas untuk belajar. Kondisi khusus yang dapat membahayakan memori, imajinasi, dan perasaan ini justru dinikmati. Semakin lama pemeran akan semakin jauh dari kehidupan nyata di mana sumber belajar tak terbatas itu berada.

Bagaikan pelajar yang meninggalkan perpustakaan, pemeran amatiran ini lebih senang nongkrong dengan kawan-kawan sepekerjaan. Di sini ia menganggap bisa menemukan dunianya. Segala bahasan artistik atau pikiran aneh-aneh akan menemukan lingkungannya. Di area ini, segala memori kebesaran, keunikan, keapesan, kesulitan, dan keindahan dunia panggung atau layar mereka tuang satu-satu. Di sini pula cerita-cerita panggung dan prosesnya membuncah. Demikian pula rencana-rencana produksi, latihan, dan segala aktivitas lain terkait seni panggung atau layar. Di semua keseruan itu para pemeran melupakan kehidupan nyata di mana cerita-cerita itu dibuat dan dilakonkan. Di tengah situasi penuh haru-biru ini para pemeran lupa bahwa mereka tidak lagi menginjak tanah. Kenangan akan panggung itu semakin melekatkan kedirian dan kumpulan orang-orang lekat panggung ini adalah dunia khusus. Dunia yang perlu dimaklumi.

Pada titiknya, ketika semua ini berjalan menahun, perpustakaan tempat belajar adalah perbincangan di antara mereka. Dengan saling cerita, curhat, dan nasehat menasehati mereka telah menganggap hal itu sebagai sebuah pembelajaran. Apalagi ketika dalam kumpulan itu terdapat beberapa orang senior. Para pemeran muda akan menganggapnya bagai pustaka maha segala. Semua pertanyaan terlontar dan pasti terjawab dengan gagah dan serba masa lalu. Artinya, akan dijawab dengan segala kehebatan yang pernah dilakukan oleh senior mengait kasus atau soalan yang ditanyakan. Sementara secara harfiah seni peran adalah seni lakon dan dimana pemainnya disebut sebagai pelakon. Maknanya, tidak ada pembelajaran yang sahih ketika itu tidak dilakonkan. Ucapan-ucapan hanya akan mengeram dalam pikiran baik berupa pemahaman – beruntung jika yang tesampaikan adalah kebenaran, tidak beruntung jika yang disampaikan adalah pembenaran – atau imajinasi. Namun semuanya belum bisa menjadi pelajaran berarti karena belum dilakonkan dalam konteks kekinian.

Kekhususan yang dipahami dan diberikan oleh awam ini adalah hadiah sekaligus jebakan bagi pemeran. Jia ia tak mampu mengendalikannya ia tidak akan mendapatkan perkembangan apapun mengenai problem dan psikologi manusia. Kekhususan, tanpa disadari bisa menjauhkan pemeran dari kehidupan nyata. Perilaku manusia yang senantiasa berubah sebagai upaya menyesuaikan zaman tidak akan terserap dengan jelas. Pemeran kemudian hanya mengandalkan pengalaman dan atas hasil bincang-bincang dalam memahami kehidupan. Jadi tidaklah aneh ketika muncul karakter-karakter di atas panggung yang bagaikan gambar cetakan kadaluwarsa. Sok gagah namun senyatanya buram. Gagah (hanya) karena disaksikan banyak orang, buram karena gambar yang ditampilkannya tak lagi menyajikan detil kealamian. Seni peran yang dipahami sebagai representasi kehidupan menjadi aus makna karena pemerannya menjauh dari kehidupan nyata.

===== (bersambung)

One thought on “Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 8”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.