Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 9

 Oleh: Eko Santosa

  1. Ketegangan Hari-hari

Pekerjaan yang terkait dengan penampilan di depan orang banyak membutuhkan kesiapan mental. Apalagi seorang pemeran tampil tidak sebagai diri sendiri. Wajar jika mengalami ketegangan sebelum pertunjukan dimulai. Secara umum dikatakan bahwa ketegangan lebih bersifat fisik sehingga diperlukan sedikit senam untuk melenturkannya sebelum pemeran melakonkan adegan. Namun, jauh dari sekedar fisik, pikiran juga ikut mengambil peran di sini. Bahkan ada seorang penyanyi senior yang berhenti dari profesi menyanyi karena pikirannya selalu mengarah pada kekhawatiran bahwa satu saat ia akan lupa syair lagu yang ia nyanyikan pada saat pementasan. Jika hal itu terjadi, maka reputasinya akan hancur berantakan. Hidupnya tidak lagi berarti. Pikiran seperti ini pun sering menghantui pemeran. Bagi pemeran pemula bisa dimaklumi karena kurangnya jam terbang. Sedangkan bagi pemeran profesional, kekhawatiran tidak hanya mengait soal hafalan teks namun juga kualitas penampilan yang berakibat pada eksistensi. Pikiran-pikiran semacam ini bisa disingkirkan dengan menjalani latihan dan persiapan serius selama proses produksi. Pikiran khawatir sedikit banyak menyangkut soal keyakinan dan keyakinan diri bisa dibentuk selama proses latihan berlangsung. Oleh karena itulah tidak ada proses berperan yang serta-merta atau instan.

Ketegangan ini pada nyatanya tidak hanya terjadi ketika pementasan. Dalam kehidupan sehari-hari ketegangan ini pun seringkali menggelayuti diri pemeran. Bukan ketegangan dalam makna emosional, namun pikiran yang terlalu suntuk mengaitkan semua perilaku harian dengan aktivitas panggung. Pikiran khawatir akan buruknya penampilan membawa pengaruh dalam rutinitas keseharian. Setiap gerak langkah kemudian dihubungkan dengan aksi panggung serta pengaruhnya. Memang, seorang pemeran setiap saat perlu melakukan observasi. Namun hal itu dilakukan dengan menyerap apa yang dilihat, didengar, dan dirasa dengan penerimaan indera terbuka. Bukan dengan memikirkan setiap apa yang dilihat, didengar, dan dirasa serta mengaitkannya pada seni peran di atas panggung. Hasil akhir dari kondisi ini adalah pemeran bermain peran dalam kehidupannya dengan sumber teknik pemeranan panggung.

baca juga  : Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan) 8

Pemeran memang diwajibkan untuk senantiasa belajar. Akan tetapi, proses belajar juga bisa dilakukan dengan rileks. Seringkali karena seni peran banyak mengandung pemikiran di dalamnya, maka pemeran tegang dalam mempelajari hal-hal berbau pikiran seperti estetika dan atau pemikiran tokoh teater dunia. Rasa akan penguasaan terhadap pemahaman mengenai konsep teater, pementasan, aliran, dan segala tetek-bengek yang berhubungan dengan seni peran dipelajari secara tegang. Sementara umum mengetahui bahwa pengetahuan akan mudah didapatkan dengan cara belajar yang rileks. Ketegangan dalam belajar menandakan adanya paksaan. Untuk mencapai ketenangan dalam belajar, pemeran perlu menjadikan belajar sebagai budaya. Artinya, belajar adalah kebutuhan keseharian seperti halnya makan, minum, duduk, berdiri, atau berjalan sehingga semuanya dapat dilalui secara wajar-wajar saja.

Ketegangan dalam berperilaku dan belajar ini – biasanya – justru akan menghasilkan kebenaran tunggal. Kebenaran dari sisi diri pemeran. Hanya karena adanya keindahan teknik “torso” dalam beraksi di atas panggung bukan kemudian setiap pose sehari-hari harus memperlihatkan “torso” ke depan. Siapa tahu satu saat peran sebagai orang bongkok yang didapatkan. Hanya karena duduk dengan kaki membuka nampak artistik di atas pentas, bukan kemudian setiap kali duduk baik di rumah, warung, atau ketika bertamu harus membuka kaki. Siapa tahu satu saat diminta berperan sebagai seorang inferior atau sakit-sakitan. Hanya karena “suara bulat” dan “melodius” terdengar begitu syahdu dan menggelayutkan perasaan terus kemudian pemeran melakukan hal itu setiap kali berbicara. Siapa tahu satu saat mendapatkan peran sebagai tentara yang tegas dan galak dengan gaya bicara patah-patah. Ketegangan semacam itu yang kemudian mewujud dalam laku keseharian sejatinya malah lucu dan terkesan tak terbuka pada alternatif-alternatif tak terhitung yang ada di dalam kehidupan.

Pemeran dalam menjalani kehidupan sehari-hari semestinya lumrah saja. Kerja pemeranan memang keras dan menuntut kedisiplinan. Tapi tidak kemudian membuat suasana menjadi tegang setiap saat. Menikmati hidup juga bagian dari tugas pemeran. Bahkan diam tidak mengerjakan apapun sudah merupakan pekerjaan bagi seorang pemeran. Dengan diam seseorang kadang dapat menyerap segala sesuatu di sekitar dengan baik. Momen pencerahan seringkali didapat justru pada saat seseorang melakukan tindak harian lumrah. Cerita Archimedes yang menemukan pencerahan tentang berat jenis benda ketika mandi atau Newton yang menyadari adanya gravitasi karena apel jatuh merupakan analog yang tepat untuk menggambarkan hal tersebut. Pada dasarnya dunia panggung adalah dunia panggung dan dunia nyata adalah dunia nyata. Semua memiliki aturan hidupnya sendiri-sendiri. Jadi, pemeran perlu menjalani hidup sebagaimana mestinya. Pembelajaran bisa didapatkan darimana saja di dalam peristiwa kehidupan. Kegagalan di atas panggung bukanlah akhir dari dunia. Ambil hikmah dalam setiap langkah. Ketegangan sulit melahirkan kebijaksanaan.

Sembilan duri yang menancap dalam diri pemeran di atas mungkin saja terjadi. Sebagian atau semuanya. Catatan permenungan ini ditulis sebagai bahan bagi pengalaman. Selalu saja ada hal-hal menarik dan baru dalam perkembangan seni pertunjukan yang dapat digunakan sebagai pembelajaran. Demikian pula dengan berbagai hambatan atau kesulitan yang muncul selama menggelutinya. Semuanya bisa disikapi sebagai sebuah proses pemahaman.  Penting untuk dicatat, agar yang baik dapat dipertahankan dan dikembangkan sementara yang jelek diantisipasi dan yang kurang ditingkatkan. (**)

Domas, Januari-Februari 2018

Leave a Reply