Eduteater

Duri Diri Pemeran

Duri Diri Pemeran (Sebuah Catatan Permenungan)

 Oleh: Eko Santosa

Sumber daya utama seorang pemeran adalah dirinya sendiri. Jasmani, pikiran dan jiwa. Ketiganya merupakan satu kesatuan. Semua harus berada dalam kondisi prima. Seorang aktor tidak akan sempurna berkarya jika hanya salah satu dari ketiganya saja yang hebat. Oleh sebab itulah dalam khasanah latihan keaktoran sisi luar dan dalam diri manusia dipelajari dengan baik. Tubuh yang mana juga menyangkut perihal produksi suara dijabarkan secara mendetail bagian-bagiannya dalam pelatihan. Sementara jiwa dirangsang dan dibangunkan melalui kerja pikiran berupa kesadaran. Ketakmenyatuan antara jasmani, pikiran, dan jiwa berakibat hadirnya halangan-halangan bagi pemeran untuk berkarya. Bagai duri yang senantiasa menancap dalam diri, halangan itu membuat pemeran tak nyaman. Berikut adalah catatan beberapa hal yang menjadi duri diri pemeran berdasarkan pengalaman dan permenungan.

  1. Kepercayaan Diri

Seorang pemeran semestinya yakin pada dirinya sendiri. Dalam segala aspek, ia harus menyadari semua kemampuan yang dimiliki. Ia tidak lah perlu melihat kebaikan atau nilai keindahan melalui orang lain karena yang akan memainkan peran adalah dirinya sendiri. Keraguan muncul sebagai akibat dari ketidakpercayaan pada diri sendiri. Sebab utamanya adalah pemeran tersebut terlalu melihat hal-hal di luar dirinya. Memang dalam konteks membangun semangat dan antusiasme, cerita tentang kehebatan seorang aktor masa lalu atau masa kini sering dikumandangkan. Hal ini dimaksudkan agar muncul gairah untuk senantiasa berlatih. Tapi efek samping dari cerita yang biasanya mengharu biru ini adalah jelmaan maya aktor tersebut dalam pikiran. Jelmaan ini tak pelak sering menghantui dan segera berubah menjadi gambaran idola. Gambaran ini jelas dengan sendirinya akan menafikan segala bentuk penilaian negatif atas orang itu. Mengidolakan orang lain dengan sendirinya adalah melemahkan diri sendiri. Maka oleh sebab itu seniman tradisional Jawa selalu menyampaikan kalimat rendah hati nan tegas, “seniman kui ora oleh gumunan” (seniman itu tidak boleh mudah heran/takjub).

Nasehat sederhana yang jika salah dipahami menjadi seolah bernada sombong ini sesungguhnya ingin mengajak seorang seniman untuk melihat potensi dalam dirinya sendiri. Pun demikian tentunya dengan aktor atau pemeran. Potensi diri kita tidak akan pernah kita temukan dalam diri orang lain, meski aspirasi atau gagasannya bisa berasal dari sana. Oleh sebab itulah, pemeran perlu menyadari potensi yang dimiliki ketika melihat kebisaan orang lain dalam berkarya. Makna dasar dari kata bijak in adalah, “jika ingin bisa ya harus belajar”. Lebih jauh, menjadikan seseorang idola sering mengarahkan kita untuk mengawangkan apa yang bisa dikerjakan oleh idola kita bisa pula kita kerjakan begitu saja. Tanpa belajar. Tanpa kesadaran. Tanpa perlu tersedianya waktu tempuh.  Seolah semua bisa terjadi begitu saja.

Seorang pemeran semestinya tidaklah demikian. Pemeran bukanlah orang yang bekerja hanya dengan mengawang pikiran. Ia bekerja dengan pemahaman yang kemudian dipraktikkan. Kerja ini dilakukan berulang dan terus-menerus hingga pemeran menemukan makna segala tindakan karakter yang diperankan. Namun meski demikian, rasa tak percaya diri seringkali muncul begitu saja. Seolah tanpa diberi aba-aba ia hadir dan mempengaruhi diri pemeran. Pola dan jenis latihan, lamanya waktu latihan, partner dan lingkungan latihan, serta target capaian sering menghasilkan tingkat nervous yang tinggi. Belum lagi jika selama proses latihan, pemeran sering dibandingkan dengan pemeran lain yang dianggap lebih baik. Rasa tertekan itu akan senantiasa muncul. Akting yang semestinya merupakan aksi hidup secara natural menjadi aksi penuh pikiran, penuh pertimbangan. Galibnya, pikiran dan pertimbangan ini bukan atas dasar karakter yang deperankan melainkan atas pandangan dan nilai orang lain (sutradara, pelatih, pemeran lain, dan mungkin juga penonton). Pementasan kemudian menjelma menjadi gunungan beban yang harus dipikul. Akibat terbesarnya kemudian adalah parade laku aksi dan kalimat hapalan yang meluncur setiap datang gilirannya demi cepat selesainya pertunjukan. Beban segera terlepas.

Seringkali terjadi memang, pelatih atau pengamat membandingkan capaian kita dengan orang lain yang dianggap lebih baik dalam berperan selama proses latihan. Namun hal itu tidaklah kemudian menjadi satu-satunya ukuran yang mesti dicapai. Setiap orang memiliki ukurannya sendiri. Setiap pemeran memiliki proses pemahaman dan lakuan tersendiri atas karakter yang diperankan. Ia tak semestinya mencontoh pemeran lain yang pernah memerankan karakter yang sama. Lagi pula apa yang terjadi di dalam latihan bukanlah sebuah pementasan. Apa yang dikatakan pelatih dan pengamat adalah cara pandang dari sisi berbeda dan lain. Hal itu dapat dijadikan pertimbangan sebagai bekal pemahaman dan bukan sebuah ukuran atau target capaian. Pertimbangan ini akan menjadi baik ketika diapresiasi dan diadaptasi oleh pemeran ke dalam satu interpretasi baru atas peran yang dimainkan. Jika dikelola dengan semestinya, pertimbangan semacam ini justru akan menghindarkan pemeran dari tindak akting hapalan. Pemeran dituntut untuk menghidupkan peran di mana dalam skala waktu yang terus berjalan tidaklah mungkin karakter yang diperankan bertindak sama persis setiap hari.

Orang sering dikacaukan dengan istilah konsistensi karakter yang menganggap bahwa laku aksi karakter haruslah tetap. Jika tidak, maka akan dianggap tidak konsisten. Orang lupa bahwa yang tetap itu adalah sifat atau watak karakter yang diperankan bukan detail laku aksi dan ekspresi perkataannya. Panggung bukanlah mesin cetak. Pemeran bukanlah robot terprogram. Panggung adalah kehidupan yang menjadi hidup karena karakter-karakter yang ada di dalamnya juga hidup. Nah biasanya atas dasar penilaian konsistensi yang tersalahpahami ini muncullah ukuran atau standar yang kemudian dijadikan acuan. Dengan standar yang demikian, seni akting berubah menjadi benda. Tidak bergerak. Tidak hidup. Seperti jamak diketahui – salah satu misal – bahwa karakter orang tua selalu digambarkan sebagai orang yang jalan terbungkuk, memegang tongkat, pakai kacamata, dan batuk-batuk. Pun demikian dengan karakter dalam lakon lain. Telah tertentukan jauh sebelum proses latihan. Model penyetandaran karakter seperti ini telah membenda dan galibnya diamini oleh sebagian pelaku teater. Ketika standar semacam ini diacu maka sebongkah ketaknyamanan menimpa kepala pemeran. Apa yang ia lakukan kemudian hanyalah sekedar meniru untuk mencapai standar yang dimaksudkan. Ketika kesadarannya berontak dan ia mencoba hal lain, kecaman datang bertubi. Ketika ia kembali mencoba meniru namun kesadaran menolaknya, maka karakter tidak bisa ditampilkan sebagaimana alaminya. Ia kembali dikecam untuk ini. Pemeran akhirnya berada dalam pusaran tak tentu dan sekedar menjalankan perintah sutradara atau pelatih.

Kondisi seperti itulah yang melahirkan ketidakpercayaan diri pemeran. Analog di atas juga dapat diterapkan dalam penentuan kualitas peran baik dan buruk dari orang lain. Seorang pemeran yang terlalu percaya atas penilaian orang lain terhadap seni aktingnya akan terbebani baik itu penilaian baik ataupun buruk. Ia kemudian akan bergantung pada penilaian orang lain. Setiap selesai pementasan ia akan bertanya tentang bagaimana kualitas peran yang ia tampilkan di atas panggung. Jika orang-orang bilang baik ia akan puas namun kemudian terbeban untuk menjaga kepuasan itu pada produksi berikutnya. Jika orang-orang bilang buruk ia tertekan dengan sendirinya. Menanyakan kualitas peran yang telah dilakukan selepas pentas bukanlah tugas pemeran. Karena ia akan memiliki waktu khusus untuk evaluasi bersama tim artistik yang biasanya menghadirkan pengamat atau kritikus. Menanyakan kualitas peran kepada orang lain yang menonton menandakan bahwa pemeran ini tidak yakin atau ingin pamer. Kedua sifat tersebut sangat jauh dari seni akting. Tugas pemeran adalah berperan sesuai dengan karakter yang diperankan. Setelah itu, ia kembali menjadi dirinya sendiri.

Seorang pemeran mengembangkan pengetahuan dan potensi dirinya tidak hanya pada saat latihan. Karena tentu saja hal itu tidaklah mencukupi. Pemeran yang kurang percaya diri biasanya terlalu mengandalkan pencapaian hanya pada proses latihan. Mengerjakan catatan-catatan latihan pada sesi latihan berikut. Mengandalkan semuanya pada naskah yang ada dan himbauan sutradara. Menggantungkan penilaian pada orang lain. Pemeran yang percaya diri tidaklah demikian. Ia akan berlatih setiap saat. Ia senantiasa fokus kapanpun dan di manapun. Fokus pada peran dan hal-hal seputar peran yang tidak mungkin ditemukan pada saat latihan. Ia akan senantiasa menjadi observer dan melakoninya dengan rileks karena telah menjadi keseharian. Ia akan mengasah nalarnya dalam perilaku sehari-hari. Dalam keseharian tidak akan pernah ditemui satu perilaku yang sama persis dalam waktu berbeda-beda. Karena seperti itulah alaminya hidup manusia, dan dari kehidupan manusialah pemeran belajar. Seni akting adalah seni merepresentasi kehidupan dengan cara menjalani kehidupan itu sendiri. Belajar peran setiap hari dalam kehidupan akan menumbuhkan kepercayaan. Bukan percaya untuk mempersembahkan sesuatu yang bagus dan menarik di atas pentas. Namun percaya bahwa panggung adalah kehidupan yang telah ia lakoni sehari-hari dan pementasan bukanlah akhir dari kehidupan.

==== === === === === == == == bersambung

One thought on “Duri Diri Pemeran”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.