Format Area Pertunjukan Teater #2

Format Pertunjukan Online

Pertunjukan online menjadi jawaban sahih atas pendemi yang terjadi. Makna “jarak jauh” dan “tak langsung” segera saja menghapus makna “dunia maya” yang selama ini tersematlkan pada multi media berbasis  internet. Tentu saja hal ini terjadi karena pertunjukan teater yang dihasilkan bukanlah sesuatu yang maya tetapi memang benar-benar ada. Seniman atau pelaku teater pasti akan berat hati atau bahkan marah ketika pertunjukan yang ia ciptakan dikatakan sebaga seolah-olah ada. Sementara itu makna jarak jauh bisa diterima karena memang penonton tidak hadir di lokasi di mana pertunjukan digelar. Bahkan, para pemain pun juga tidak harus berada di lokasi yang sama ketika pertunjukan disiarkan. Makna tak langsung bagi pertunjukan online juga lebih mudah dipahami karena memang pertunjukan tidak bisa ditatap langsung oleh mata penonton, melainkan melalui media bantu tertentu (hp, laptop, komputer, tablet, dan gadget lain yang mendukung).

Para seniman atau pelaku teater yang pada mulanya kebingungan atas kondisi yang terjadi kemudian mulai merancang berbagai macam aktivits online dengan menggunakan berbagai macam platform. Acara bincang-bincang, diskusi, bahkan seminar mulai merebak. Satu keadaan yang cukup menggembirakan namun terlalu cepat mengarah ke kebosanan. Memang pada akhirnya acara-acara semacam itu melahirkan kejenuhan dan sudah menjadi sifat alami pelaku teater untuk membuat produksi pementasan.

baca juga : Format Area Pertunjukan Teater #1

Atas kenyataan ini, produksi pertunjukan teater yang disiarkan melalui media berbasis internet mulai bermunculan. Hampir setiap orang atau kelompok teater kemudian memiliki channel sendiri di Youtube – yang paling umum digunakan untuk menyiarkan – dan memproduksi berbagai macam tampilan teater termasuk di dalamnya kolaborasi. Banyak sekali produksi yang dibuat dan masing-masing seolah-olah saling berlomba mencari subscriber. Berbagai macam cara mempromosikan acara pun dilakukan dan semua juga melalui media berbasis internet.

Format pertunjukan yang terbentuk tiba-tiba ini tanpa banyak cing-cong langsung mengharu-biru kehidupan pekerja seni teater. Keengganan semangat untuk menggunakan format lain dalam sebuah pertunjukan seokah-olah terkubur begitu saja. Semua tersadarkan untuk sesegera mungkin beralih format. Produksi dilakoni dengan gembira yang mungkin agak dipaksa di tengah jebakan kebosanan karena tidak dimungkinkannya pementasan tatap muka langsung. Beragam jenis karya seni teater kemudian lahir dan disiarkan beramai-ramai melalui internet. Semua dengan gagasan dan gaya masing-masing. Namun, dari melimpahnya seni teater online ini masih tertinggal satu tanya besar yang belum terjawab yaitu mengenai budaya online berbasis gawai itu sendiri.

Gawai yang hampir dimiliki oleh semua orang untuk mengakses konten media online adalah smartphone. Budaya online menggunakan smartphone merupakan budaya personal dan manasuka dalam mengakses media. Setiap orang bebas dan berhak penuh atas gawainya untuk ia gunakan mengakses apapun yang mungkin selama jaringan dan kuota tersedia. Kebebasan memilih dan menentukan apa yang mau dibaca, didengar atau dilihat ini tidak serta merta disadari oleh produsen konten seni teater.  Pada tahap ini, para produsen seni teater masih menyikapi produk sebagai sebuah pertunjukan offline. Namun seiring berjalannya waktu, kultur manasuka sudah mulai diadopsi ke dalam sajian pertunjukan yang mana daya penarik untuk membuat orang mau menyaksikan mulai digarap. Pemanfaatan media untuk informasi atau promosi sudah mulai gencar dilaksanakan.

Semua bergerak menuju ke format pertunjukan online dan dengan serta-merta tanpa banyak alasan itu dilakukan. Keengganan beralih format seperti yang terjadi dalam kenyataan segera saja sirna. Pemahaman untuk tetap berkarya dalam format area tertentu tiba-tiba langsung berubah demi aktivitas yang mesti dijaga keberlangsungannya. Hanya saja keberbedaan ini belum sepenuhnya mengarah kepada format area pertunjukan melainkan format penyelenggaraannya. Meski begitu semangat untuk mau segera beradaptasi ini patut dibanggakan. Artinya, dalam kondisi apapun produksi teater tidak boleh berhenti.

(bersambung)

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: