Format Area Pertunjukan Teater #3

Teater apa Bukan
Format pertunjukan online yang mau tidak mau harus diterima karena keadaan, menyisakan tanya bagi sebagian pelaku teater tentang produk yang dihasilkan. Apakah pertunjukan teater online masih sah disebut sebagai teater? Bentuk pertunjukan teater seperti apakah yang semestinya dibuat? Dua pertanyaan besar yang tentu saja tidak mudah untuk dijawab namun tetap harus mendapatkan jawaban. Bukan persoalan benar tidaknya jawaban tersebut melainkan lahirnya kesepakatan dan kesepahaman atas dua pertanyaan tersebut.

baca juga : Format Area Pertunjukan Teater #2

Muncul di dalam banyak pembicaraan adalah soal teater online dan bentuk atau format pertunjukan teater yang tepat untuk ditampilkan secara online termasuk media siarnya. Terdapat perbedaan mendasar pertunjukan teater online dan offline terkait penonton. Di dalam teater offline, seperti yang biasanya diselenggarakan, penonton tidak datang dan menonton seorang diri. Mereka duduk di deretan kursi penonton bersama penonton lainnya. Selain itu, jadwal pertunjukan telah baku sehingga penonton tidak boleh melewatkannya. Sementara itu di dalam pertunjukan online, penonton dapat menyaksikan pertunjukan tersebut seorang diri melalui gawai yang dimiliki. Meskipun jadwal siarnya telah ditentutan, untuk beberapa pertunjukan profesional tertentu, namun penonton masih bisa menyaksikan siaran tundanya melalui tautan yang dibagikan. Dari kultur menonton, perbedaan antara pertunjukan offline dan online pun sangat nyata. Para penonton teater di gedung pertunjukan atau bahkan di panggung outdoor terikat dengan tata aturan/norma tertentu. Artinya, mereka tidak bisa seenaknya dalam menyaksikan pertunjukan teater yang sedang dilangsungkan. Kondisi ini tidak bisa diterapkan bagi penonton teater online karena mereka menyaksikannya secara personal, melalui gawainya masing-masing, dan di tempat serta posisi menonton yang mereka sukai serta terpisah jarak dengan penonton lainnya. Artinya, penonton teater online boleh menyaksikan pertunjukan sambil duduk santai, tiduran, makan dan minum, atau bahkan sambil ke toilet.

Persoalan penonton dan cara menonton ini bukan persoalan sederhana di dalam teater karena posisi penonton sangat penting. Tanpa penonton, maka tidak ada pertunjukan teater, demikian ringkasnya. Keberadaan penonton ini pulalah yang melahirkan pertanyaan besar, “Apakah pertunjukan teater online masih sah disebut sebagai teater?” Hal ini menyangkut definisi dasar teater yang bermakna tempat untuk menyaksikan pertunjukan. Jadi, pertunjukan teater diselenggarakan di satu tempat yang mana penonton datang ke tempat tersebut dan menyaksikannya. Sementara di dalam pementasan teater online, tidak begitu adanya bagi penonton. Ketika penonton datang ke tempat dan menyaksikan pertunjukan, maka mereka menyaksikannya dengan indra penglihat secara langsung. Sementara itu, dalam pementasan online, penonton menyaksikannya melalui bantuan, paling tidak, 2 buah alat. Pertama adalah kamera yang digunakan untuk merekam dan mentransfer pertunjukan tersebut melalui jaringan (internet) menuju ke platform media yang digunakan. Kedua adalah gawai yang dimiliki penonton untuk menyaksikan hasil transfer gambar bidikan kamera tersebut. Dengan demikian, apa yang dilihat oleh penonton bukanlah apa yang dilihat secara langsung oleh indra penglihatnya melainkan melalui mata kamera yang dibidikkan pada pertunjukan. Artinya, apa yang dilihat oleh penonton adalah gambar hasil seleksi bidikan kamera, jadi sangat tergantung cara juru kamera membidik pementasan tersebut.

Secara psikologis, 2 cara menonton ini jelas menghasilkan impresi yang berbeda. Pementasan teater menjadi menarik dan sesuai dengan makna dasarnya ketika disaksikan melalui indra penglihat secara langsung. Penonton bebas mengarahkan pandangannya ke pertunjukan yang sedang berlangsung. Mereka boleh terpesona dan fokus hanya pada seorang pemain, dekorasi yang ada, blocking permainan, pergantian cahaya ataupun menyapukan pandangan secara menyeluruh ke pertunjukan. Berbeda kiranya ketika mereka menyaksikan teater melalui gawai, mata kamera telah memilihkan bagi mereka apa-apa yang mesti dilihat. Jika ditinjau dari sisi penonton dan cara menonton, maka teater online dapat dikatakan bukan teater. Tetapi jika ditinjau dari ciri-ciri produk pertunjukan, teater online masih bisa dikatakan sebagai teater. Karena ciri pertunjukan antara tari, musik, dan teater jelas berbeda sama sekali. Dengan demikian, teater online dapat dikatakan sebagai teater manakala ciri-ciri produk pertunjukan teater tetap dipertahankan.

Mempertahankan ciri produk pertunjukan teater untuk disajikan secara online tidaklah mudah. Bahkan, dalam banyak kasus dirasakan terlalu membosankan, karena gambar yang disajikan menjadi datar. Hal ini terjadi karena pelaku teater mencoba membidik panggung di mana pertunjukan dilangsungkan secara penuh dengan pengandaian penonton seperti sedang menyaksikan pertunjukan teater yang sesungguhnya. Alhasil, meski semua yang ada di panggung ditangkap oleh mata kamera dan karenanya juga dapat ditangkap mata penonton, namun melihat panggung secara langsung dengan melalui gawai yang layarnya tak seberapa besar sangat berbeda. Penampang panggung yang luas, lihatan mata yang natural sebagaimana indra penglihatan bekerja tidak bisa dibandingkan dengan objek atau gambar di layar gawai. Melalui gawai, gambar para pemain terlihat kecil serta detail dekorasi panggung kurang bisa teramati dengan jelas. Jika pun kamera mencoba melakukan zoom untuk mendekatkan objek/gambar, hal itu belum tentu sesuai dengan keinginan penonton terkait bagian mana dan pada saat seperti apa zoom mesti dilakukan.

Ketika menyajikan pertunjukan teater online dengan tetap mempertahankan ciri produk teater kurang bisa menempatkan penonton sebagaimana halnya pementasan offline, maka munculah pertanyaan kedua yaitu, “Bentuk pertunjukan seperti apakah yang semestinya dibuat?” Hal yang tidak mudah untuk dijawab oleh para pelaku teater. Namun demikian, tidak ada alasan untuk tidak mencoba menjawabnya. Menciptakan pertunjukan teater online yang tetap mempertahankan ciri-ciri produk teater namun tidak terjebak untuk menjadi film atau seni media lain yang telah eksis dan memiliki kategori sendiri adalah pekerjaan rumah besar bagi pelaku teater. Pekerjaan rumah yang menuntut untuk segera dikerjakan. Karena, ketika bentuk pertunjukan teater online diketemukan, di mana penonton merasa seperti menonton pertunjukan live dan semua orang sepakat bahwa pertunjukan tersebut tidak lepas dari ciri-ciri pertunjukan teater serta tetap dapat disebut sebagai teater, maka genre baru terlahirkan. Tugas berikutnya adalah mempertahankan dan sekaligus mengembangkan genre tersebut. Jadi, masih ada pekerjaan besar harus dilakukan.
====bersambung====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: