Format Area Pertunjukan Teater #4

Prosenium yang Menahan

Kesemestian untuk memproduksi teater online dapat diterima dengan tangan terbuka oleh para pelaku teater. Belum adanya cara ampuh menghadirkan tontonan langsung karena alasan pandemi menjadikan tontonan online sebagai satu-satunya pengganti. Meski begitu, ternyata tidak semua dengan mudah mampu memindahkan watak pertunjukan live ke dalam pertunjukan online. Masih banyak dijumpai pelaku teater yang kakinya menancap di panggung prosenium. Seolah-olah panggung itu menahan langkahnya dalam menyesuaikan format. Akhirnya, meskipun pertunjukan disiarkan secara online namun format area yang digunakan adalah prosenium lengkap dengan psikologinya. Artinya, tidak ada perubahan sama sekali selain bahwa pertunjukan itu dibidik kamera dan ditransfer serta disiarkan melalui media berbasis internet.

baca juga : Format Area Pertunjukan Teater #3

Kondisi ini terjadi, kemungkinan besar, bukan karena keengganan, melainkan karena belum dipahaminya perihal teknis pemindahan format yang sekaligus mempengaruhi psikologi tontonan. Perubahan format memang membutuhkan pemahaman serta perangkat teknis berbeda. Misalnya saja dalam perihal naskah. Untuk berpindah format ke dalam media siar berbasis internet yang mengandalkan mata kamera sebagai mata penonton, maka naskah lakon perlu diformat ulang ke dalam bentuk skenario yang di dalamnya memuat keterangan teknis pengambilan gambar. Dengan demikian tidak sekedar naskah lakon dipentaskan di atas panggung dan pentas tersebut disyuting. Perubahan format dari sisi naskah semacam ini juga memerlukan keahlian tersendiri. Artinya, tim produksi perlu menyertakan seseorang yang ahli dalam bidang translasi lakon ke dalam skenario.

Tidak hanya sampai di situ, produksi juga perlu mempertimbangkan teknis pengambilan gambar agar pertunjukan teater yang dihasilkan tetap dapat dikatakan sebagai pertunjukan teater, meski disiarkan secara online. Pertimbangan ini diperlukan menyangkut psikologi pertunjukan di mana penonton dapat merasa tetap seperti menonton pertunjukan teater dan bukan film. Tidak mudah tentunya, karena selain penyutradaraan panggung juga diperlukan penyutradaraan kamera. Dalam hal ini, translasi lakon ke dalam skenario merupakan hasil atau asimilasi antara sutradara panggung dan juru kamera. Dengan demikian, hasil yang diharapkan adalah pertunjukan yang enak disaksikan sekaligus tidak kehilangan aspek teaternya.

Tahapan mencapai hasil yang demikian tidaklah mudah. Perlu seseorang yang memahami arti atau makna gambar (video). Misalnya saja, secara teknis, zoom in dan track in merupakan teknik yang berbeda dan hasilnya pun membawa dampak psikologis yang berbeda. Zoom in akan memiliki dampak gambar/objek yang diperbesar sementara track in memiliki dampak mata mendekat ke gambar/objek. Masih banyak hal-hal teknis pengambilan gambar yang perlu diperhitungkan dan terus saja tidak sembarang orang bisa melakukannya. Terlebih ketika siaran dilakukan secara langsung saat itu juga atau streaming, maka pengaturan kamera harus benar-benar dilakukan secara cermat. Selain soal teknis pengambilan gambar, teknis editing video juga mesti mendapat perhatian karena hasil akhirnya akan disaksikan oleh penonton. Apakah video yang disaksikan menyajikan satu frame dengan pengambilan gambar dari berbagai sudut ataukah pertunjukan menggunakan picture in picture tentu harus menjadi pertimbangan. Hal terakhir yang tidak boleh luput dari perhatian, terutama ketika streaming adalah platfrom atau aplikasi yang dipakai, kuat lemahnya sinyal, serta luas atau lebarnya frekuensi yang dimiliki dan digunakan. Salah perhitungan maka gambar yang disiarkan bisa sampai ke pemirsa secara tunda (delay) atau buffering.

Mengubah format pertunjukan dari offline ke online, untuk mencapai kualitas yang baik, tidaklah semudah yang dibayangkan. Perangkat, teknik, dan konten harus saling mendukung. Apalagi ketika tuntutannya adalah tetap menyajikan pertunjukan teater seperti live namun disaksikan oleh penonton melalui gawai. Untuk mencapai usaha ini diperlukan kerja keras dan yang pasti menantang. Namun yang seringkali terjadi adalah adanya dukungan perangkat dan teknik yang memadai namun pemahaman akan konten dan psikologi penonton online belum tercukupi. Akibatnya, pementasan tetap mengambil format prosenium. Sungguh sayang sebenarnya, karena untuk yang model seperti ini sudah ada platform khususnya yaitu video dokumentasi pertunjukan. Jadi sekali lagi, diperlukan keterbukaan pikiran dan kemauan usaha agar prosenium tidak menahan langkah dalam menemukan format baru pertunjukan teater online  yang tidak kehilangan keteaterannya sekaligus enak untuk disaksikan.

=====(bersambung)====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: