Format Area Pertunjukan Teater

Pertunjukan teater sudah sejak lama dilakukan di panggung. Format area ini sudah berjalan ribuan tahun sehingga keberadaan panggung menjadi penting. Banyak orang memahami bahwa panggung adalah area permainan yang dibangun di atas tanah dengan ketinggian tertentu. Namun, belakangan makna panggung sudah dapat dipahami sebagai area permainan yang berbeda dengan area penonton. Pembedaan area pemain dan penonton menjadi penting demi terciptanya sebuah pertunjukan. Soal kemudian penonton melebur dalam pertunjukan baik secara terlibat maupun dilibatkan adalah persolan lain yang muncul selepas area pemain dan penonton dibatasi sebelumnya.

Format area pertunjukan teater yang dilangsungkan di panggung juga mengalami perubahan dari zaman ke zaman. Seniman, pemerhati seni termasuk pemerintah, dan bahkan teknolog ikut memperkaya perwujudan panggung yang ada. Karena itu bentuk panggung dan gedung di mana panggung itu berada juga bermacam-macam. Masing-masing bentuk membawa konsekuensi tersendiri bagi penonton dan seniman seni teater. Karena bentuk panggung dan tempat duduk penonton yang berbeda-beda inilah banyak kreativitas seni teater dilahirkan. Namun tidak jarang pula seniman teater yang merasa nyaman atau telah cukup dengan format area pertunjukan tertentu.

Keadaan ini dalam satu masa tertentu cukup merepotkan ketika format area tersedia tidak atau kurang akrab bagi si seniman atau ketika keadaan memaksa bahwa format area pertunjukan yang biasa ia gunakan tidak memungkinkan lagi untuk digunakan. Misalnya seniman akademis yang biasa berkarya di panggung-panggung kampus dengan segala keberlimpahan elemen artistik pendukungnya pasti akan terhenyak kaget ketika mesti pulang dan berkarya di kampung halaman di mana tidak ada satupun gedung pertunjukan dibangun selain hanya lapangan dengan panggung tenda. Atau, dalam masa pandemi seperi sekarang ini, di mana panggung pertunjukan jelas sepi dari semua aktivitas seni. Satu kondisi yang memerlukan penyikapan bagi si seniman teater agar aktivitas seninya tidak berhenti.

Upaya menemukan atau mencari sesuatu yang baru terkait area pertunjukan teater bukanlah perkara mudah. Pengalaman-pengalaman yang telah dilalui seorang pekarya teater terkadang melahirkan pemahaman yang mengeras dan berubah  menjadi satu-satunya hal yang dipahami atau dibisai. Artinya, ia tidak bisa berkreasi dalam format area yang lain. Penyikapannya atas beragam keadaan tidak bisa dilepaskan dari pemahaman yang telah ia bekukan melalui pengalaman. Ketika ia mesti beradaptasi dengan keadaan karena situasi yang sangat memaksa, maka langkah kakinya seolah mengayun tak seirama. Bahkan ketika banyak tawaran diberikan oleh beberapa kolega yang telah mampu beradaptasi dengan keadaan, tidak serta-merta hal itu menyiratkan (akan) berubahnya pemahaman.

Mengubah kebiasaan memang bukanlah perkara mudah namun tetap harus dilakukan karena seniman teater berkarya tentu saja bukan karena kebiasaan. Meski demikian, kebiasaan juga bukan satu hal yang didapat dengan mudah. Ia telah melalui banyak perjalanan dan pengalaman untuk menjadi biasa. Kebiasaan berkarya dengan format area tertentu bagi pelaku teater dapat melahirkan satu keahlian yang mengagumkan. Misalnya saja di dalam sajian Ketoprak Tobong di mana berbagai macam upaya artistik telah dilakukan dengan apik untuk menghadirkan sulap mata atas dunia khayali yang tercipta dan mampu menghipnotis penonton untuk menganggap bahwa apa yang tersaji di atas pentas adalah kenyataan. Keahlian semacam ini merasuk ke semua elemen artistik mulai dari aktor, dagelan, pemusik, penata set dan peranti tangan, rias, busana, dan cahaya. Keahlian semacam ini, mampu mengangkat karya seni ke tingkat yang lebih tinggi. Keahlian semacam ini, yang tercipta karena keterbiasaan menggunakan format area pertunjukan tertentu jelas sulit diubah untuk serta-merta berganti ke format area pertunjukan lain. Jika pun mesti harus beradaptasi, harus dilakukan dengan perlahan.

Beradaptasi dengan format area pertunjukan baru dalam berkarya teater seperti yang mesti dilakukan di masa pandemi ini, membuat semua orang kembali belajar. Susana belajar mungkin tidak menyenangkan bagi yang suka berdiam di kenyamanan, namun hal itu mesti dilalui. Ketidaknyamanan mesti disikapi secara kreatif sehingga ruangnya mesti dibuka lebar dan dimasuki untuk megetahui apa saja yang bisa dijadikan dan terjadi.   

1 Pandemi Covid-19 yang menyerang Indonesia sejak bulan Maret 2020 mensyaratkan agar setiap orang bekerja dari rumah, saling menjaga jarak, menghindari kerumuman, dan tidak diperkenankan bertatap muka langsung dalam kegiatan yang melibatkan banyak orang.

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: