Eduteater

Formula Dramaturgi Dalam Penyutradaraan Part 2

Formula Dramaturgi Dalam Penyutradaraan Part 2

Baca juga : Formula Dramaturgi Dalam Penyutradaraan Part 1

2. Menuliskan (M2)

Proses “menuliskan” dalam penyutradaraan adalah merupakan proses memindahkan bayangan dari pikiran ke dalam catatan atau konsep. Pada tahap ini, penyesuaian perlu dilakukan karena apa yang terjadi dalam bayangan belum tentu sama dengan kenyataan. Misalnya, dalam bayangan tokoh peran bisa berlari dengan sangat cepat, tentu saja tidaklah demikian dalam kenyataan. Untuk itu diperlukan penyesuaian-penyesuaian menurut ukuran kreatif dan idealisme sutradara. Tahap penulisan atau pembuatan konsep penyutradaraan ini memang secara pokok adalah menuliskan garis laku lakon terkait dengan karakter namun juga perlu konsep dasar tata artistiknya.

Dalam hubungannya dengan lakon, sutradara perlu menjabarkannya dalam adegan-adegan untuk mencapai tujuan umum lakon. Jabaran adegan ini menggambarkan tegangan atau perjalanan konflik dengan tujuan akhir penyampaian pesan moral lakon. Rancangan adegan yang dibuat akan sangat membantu sutradara dalam mengarahkan pemeran terutama terkait perpindahan dan pergerakan pemeran. Dari sisi ini, sutradara mulai menyesuaikan bayangan dalam pikirannya dengan panggung yang akan digunakan. Artinya, kejadian peristiwa yang terjadi dalam pikiran harus disesuaikan dengan keadaan panggung. Namun demikian, rasa atau semangat kejadian yang ada dalam teater pikiran tersebut sebisa mungkin terwujudkan di atas panggung.

Selanjutnya, sutradara perlu menuangkan gagasan dasar tata artistik untuk mendukung rancangan adegan tersebut. Tata artistik yang dibuat tidaklah mendetil namun harus mampu mewakili gagasan dan keinginan seperti apa yang telah dibayangkan dalam teater pikiran. Gambaran umum tata panggung, pencahayaan, ilustrasi suara, rias dan busana coba dijelaskan baik dengan gambar maupun secara deskriptif. Gagasan tata artistik ini haruslah padu dalam artian satu konsep. Jika gagasan artistik tidak padu maka akan menghasilkan kejanggalan-kejanggalan. Misalnya saja, konsep pementasan teaternya adalah realis namun tata rias busananya fantasi, hal ini pasti akan melahirkan kebingungan bagi penonton.

Berikutnya, yang paling penting dari konsep sutradara ini adalah perihal pemeranan. Pemeranlah yang pada akhirnya akan mewujudkan gagasan sutradara ini di atas pentas. Untuk itu, sutradara secara khusus melatih dan mengarahkan para pemeran dalam menampilkan watak tokoh yang diperankan. Konsep dasar hasil telisik sutradara atas tokoh yang ada dalam lakon dijabarkan sedemikian rupa untuk diwujudkan oleh pemeran. Semakin detil uraian mengenai tokoh ini akan lebih memudahkan pemeran dalam berakting. Konsep dasar ini sangat penting untuk menjaga kontinyuitas karakter. Dalam teater, karakter itu tumbuh dan berkembang. Artinya, ekspresi tokoh bisa berubah-ubah menurut emosinya namun watak dasarnya tetap. Sutradara berkewajiban untuk menjaga hal ini. Aneh kiranya seorang pemeran yang bermain penuh energi pada babak pertama namun kemudian loyo pada babak berikutnya sementara watak peran yang ia mainkan tidak menghendaki demikian. Atau, seorang pemeran yang memerankan anak muda bersuara lantang di babak pertama, namun suaranya menjadi parau pada babak berikutnya. Kondisi ini akan membingungkan penonton karena peran yang dibawakan seolah tidak konsisten. Sementara itu, karena sifat akting adalah aksi-reaksi, maka inkonsistensi satu peran akan mempengaruhi peran yang lain. Nah, di sinilah pentingnya konsep dasar peran yang dituliskan oleh sutradara tersebut. Konsep ini kemudian menjadi panduan sutradara dalam melatih dan mengarahkan para pemain untuk mencapai apa yang diinginkan.

to be continued….

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.