Eduteater

Formula Dramaturgi Dalam Penyutradaraan Part 3

Formula Dramaturgi Dalam Penyutradaraan Part 3

Baca juga : Formula Dramaturgi Dalam Penyutradaraan Part 2

c. Memainkan (M3)

Yang dimaksud tahap “memainkan” dalam penyutradaraan adalah proses pelatihan peran dilanjut penyesuaian dengan tata artistik hingga sampai pementasan. Dalam tahap ini sutradara mulai menerapkan konsep yang telah ia susun sebelumnya. Tahap pelatihan pertama adalah membaca naskah lakon dengan pemahaman dimana semua calon pemeran harus memahami lakon dari awal sampai akhir. Inti dari pelatihan ini adalah, para pemeran memahami pesan yang dikehendaki sutradara yang telah berasimilasi dengan penulis.

Berikutnya, sutradara perlu memberi pemahaman mengenai karakter yang harus diperankan dalam lakon. Keberhasilan dan kegagalan sebuah pementasan teater sangat tergantung dari penampilan pemeran dalam berperan. Jika semua pemeran mampu menampilkan peran seolah-olah peran itu benar-benar nyata, maka lakon tersebut bisa dikatakan berhasil. Keberhasilan ini dimulai pada awalnya dari pemahaman karakter dan cara pemeran menampilkan karakter tersebut. Untuk tujuan inilah sutradara melatih para pemeran termasuk di dalamnya penyesuaian pemeran dengan tata artistik. Intinya, tahap “memainkan” dalam penyutradaraan adalah proses mewujudkan pementasan berdasar konsep yang telah dibuat. Bahasan mengenai proses penyutradaraan secara lengkap dijabarkan pada bab berikutnya dalam modul ini.

d. Menyaksikan (M4)

Dalam sebuah industri teater, pada malam pementasan perdana sutradara ikut duduk menyaksikan pementasan yang ia sutradarai. Pada saat ini sutradara benar-benar menikmati hasil karyanya sebagaimana halnya penonton menyaksikan pertunjukan. Dari sisi penontonlah sutradara akan mengetahui kelemahan dan kelebihan karya yang ditampilkan. Ia bisa saja mengapresiasi kerja seluruh elemen artistik sekaligus memberi catatan sebagai bahan evaluasi.

Pada tahap “menyaksikan” ini proses kreatif penyutradaraan menemukan hasilnya. Semua yang telah dikerjakan mulai dari menciptakan teater pikiran, menuliskan konsep, dan melaksanakan proses penyutradaraan akan dibuktikan pada malam pementasan. Karya teater yang disajikan akan menjadi pengalaman artistik bagi sutradara. Bahkan setelah tahap “menyaksikan”, sutradara bisa saja memiliki gagasan atau ide untuk diterapkan pada karya berikunya. Jika ini terjadi, maka formula dramaturgi bekerja dengan baik, dimana tahap akhir menjadi titik awal keberangkatan proses penciptaan teater atau kembali menjadi tahap awal lagi. Dengan demikian teater menjadi benar-benar tumbuh dan berkembang. Proses kreatif yang satu akan melahirkan proses kreatif yang lain, demikian seterusnya. (*)

Dicuplik dari:

Eko Santosa. 2016. “Penyutradaraan”, Modul untuk Guru Seni Teater. Jakarta: Ditjen GTK.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.