Eduteater

Formula Dramaturgi Dalam Penyutradaraan

Formula Dramaturgi Dalam Penyutradaraan

Proses penciptaan teater dapat dipelajari atau ditelisik dari formula dramaturgi seperti apa yang dituliskan oleh Harymawan dalam buku Dramaturgi (1993). Formula ini disebut dengan formula 4 M yang terdiri dari, (M1) menghayalkan, (M2) menuliskan, (M3) memainkan, dan (M4) menyaksikan. Masing-masing tahap dalam 4M dapat dijabarkan sesuai bidang artistik masing-masing, termasuk penyutradaraan. Secara umum formula dramaturgi merupakan penggambaran proses teater mulai dari penulisan lakon hingga sampai pertunjukan digelar dan disaksikan penonton. Dalam proses penyutradaraan formula dramaturgi dapat dipahami sebagai tahapan proses kreatif sutradara sejak menerima atau menentukan lakon sampai pementasan diselenggarakan. Berikut akan dijabarkan formula dramaturgi yang diterapkan dalam proses kreatif penyutradaraan.

  1. Menghayalkan (M1)

Sutradara ketika pertama kali membaca sebuah naskah lakon, ia menghayalkan peristiwa dalam lakon tersebut di pikirannya. Persis seperti ketika seseorang mendengarkan sandiwara radio, ia akan membayangkan rangkaian kejadian yang didengar tersebut dalam pikirannya. Hal ini bisa dikatakan sebagai theatre of the mind (lihat Neil Verma: 2012). Cerita yang didengar atau dibaca akan hadir dalam pikiran sebagai sebuah kejadian yang sesungguhnya. Semuanya nampak nyata. Bahkan gambaran lengkap tokoh, latar tempat, waktu, dan kejadian seolah hadir secara nyata dalam pikiran. Bayangan yang ada dalam pikiran sering terlalu kuat sehingga mempengaruhi perasaan dan mempengaruhi kebenaran. Ketika akhirnya sandiwara radio atau naskah lakon tadi dipentaskan atau difilmkan, terkadang apa yang terlihat di atas panggung atau di layar film tidak seperti yang dibayangkan. Akibatnya si pembaca atau pendengar tadi kecewa. Demikianlah gambaran betapa hebatnya theatre of the mind itu.

Proses menghayalkan bagi sutradara tidak ubahnya seperti proses penciptaan teater pikiran tersebut. Semua yang ada dalam naskah lakon ia transformasikan ke dalam pikirannya seolah semua nyata. Jika pembacaan dilakukan dengan penuh pemahaman, maka detil bayangan dalam pikiran pun akan tercipta. Sosok-sosok peran yang ada dalam lakon, suasana tempat berlangsungnya lakon, perjalananan dan ketegangan konflik yang terjadi semuanya hadir di pikiran.  Bahkan, ketika membayangkan peristiwa lakon dalam pikiranpun gambaran sosok ideal seperti apa yang diharapkan telah diciptakan. Gambaran ideal ini tentu saja menurut apa yang ada dalam pikiran sang sutradara. Ketika bacaan telah diselesaikan, pikiran tentang cerita dalam lakon jika diunggah kembali pasti akan mengalami penyesuaian seturut idealisme sutradara tersebut. Artinya, sejak dalam bayangan sutradara sudah mencoba menciptakan sendiri tokoh, latar, dan kejadian lakon. Mungkin dan bisa jadi ciptaan tersebut berbeda dengan ciptaan penulis yang dituangkan melalui lakon, namun justru di sinilah inti dari proses kreatif penyutradaraan pada tahap menghayalkan, menciptakan kreasi meski dalam pikiran.

to be continued….

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.