Teatrika

Jurnal Seni Peran Whani Darmawan

Perihal Olah Tubuh (II) : Ragam Olah Tubuh

Jika kita mau menghitung maka jumlah ragam olah raga (olah tubuh) ini sangat beragam. Saya dapati dalam catatan para intelektual seni peran atau para praktisi seni peran di teater hampir selalu menyebut kosa kata tersebut, bahwa aktor sebaiknya menempuh beragam olah tubuh. Semenjak tahun 1985 sepanjang saya menyenangi seni peran ada banyak ragam olah tubuh yang disebut.  Tetapi sepanjang pengalaman kemudian mengulik perihal olah tubuh melalui jalan menari tari tradisi Jawa (Mataraman Ngayogya), silat, gerak-gerak pembebasan di bawah iringan musik, gerak tunggal, gerak berpasangan, gerak berombongan, tak pernah mendapatkan seratus persen juntrung fokus dari satu ragam ke ragam yang lain. Apalagi ketika tema dalam teater masih menjadi raja, maka diskusi pementasan teater sudah bisa dipastikan merubung pada tema. Konon itu aktual dan kontekstual, meski bisa saja itu sebenarnya hanya versi. Kajian metode olah tubuh dilakukan secara praktik praktis dalam latihan dalam metode mimesis dan landasan teori yang ‘katanya.’

baca juga : PERIHAL OLAH TUBUH (1) ; CATATAN AWAL

Pada tahun 2017 saya memulai mengangankan mengulik persoalan olah tubuh. Bahkan dalam suatu sesi latihan saya membuka kelas magnetisme. Latihan tersebut sejak awalnya memang saya maui untuk menjadi semacam laboratorium tubuh dengan konsep dan uji materi. Kelas itu untuk sementara waktu saya berhentikan karena ada hal yang saya angankan untuk bisa mendukung kerja laboratorium belum bisa hadir ; yakni fisika.

Jika sekarang saya memulai menorehkan catatan perihal olah tubuh semata-mata hanya ingin mencatat pengalaman. Mungkin belum tentu berguna buat orang lain, setidaknya berguna untuk saya yang secara praktik telah saya bawa dalam pementasan-pementasan hingga kini.

Pengalaman dan angan-angan berbaur untuk meraba-raba suatu teori yang kemudian tercatat pada point-point berikut ini ; bahwa ragam olah tubuh yang dibutuhkan oleh seorang pemeran sebaiknya mengacu pada :

  1. Pengetahuan anatomi dan biologi
  2. Olah tubuh ketahanan
  3. Olah tubuh kelenturan
  4. Olah tubuh ketrampilan
  5. Olah tubuh kepekaan.

Lalu sub kegiatan olah tubuh macam apakah yang ada dalam pointers tersebut? Tentu saja yang saya sampaikan ini bisa dianggap versi. Di luar itu sub kegiatan olahtubuh bisa tembus terhubung dengan satu tema ke tema lain. Dalam seluruh catatan di jurnal saya nanti akan kedapatan hal itu. Hal ini sama memaklumkan (atau memfokuskan) kebutuhan pisau. Pisau dapur bisa saja untuk membunuh tetapi mengapa ia tak terpilih untuk dibawa maju perang? Pisau bayonet bisa saja untuk mengupas kentang, tetapi mengapa tak terpilih untuk mengisi kelengkapan dapur? Kira-kira demikian. (Bersambung)

One thought on “Jurnal Seni Peran Whani Darmawan”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.