News

Jurus Hidup Memenangi Pertarungan

Product Description

Sinopsis

jurus-hidup-memenangi-pertarungan-382x600Dalam hidup, setiap manusia pasti pernah mengalami pertarungan. Tak hanya pertarungan fisik, melainkan juga pertarungan batin. Tak sekadar bertarung dengan orang lain tetapi juga bertarung kepada dirinya sendiri. Hidup adalah serentetan latihan panjang dan pertarungan yang tak kunjung usai.

Melalui serangkaian latihan rutin silat yang dilakoninya selama bertahun-tahun, Whani Darmawan kemudian menemukan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam latihan silat, rupanya paralel dengan kehidupan sehari-hari. Dalam silat, kita diminta untuk mendengarkan tubuh, membedakan tubuh yang mampu berpikir dan jasad yang hanya berfungsi sebagai wadah semata. Dan melalui buku ini, Whani mengajak kita menyelami makna silat dengan menumbuhkembangkan berbagai energi positif dalam tubuh yang selama ini kita abaikan.

Kata Mereka

“Jelas sekali tingkat mawas diri seorang Whani Darmawan patut diberi acungan jempol. Baik terhadap diri sendiri, lingkungan di rumah, teman berlatih, para pendekar, maupun guru yang dia temui dalam perjalanan di dunia persilatan. Menarik!”

Tino Saroengallo, pekerja film nasional

“Seluruh kehidupan diri adalah belajar ke luar dan ke dalam. Maka buku ini elok dibaca sebagai pengilham.”

Landung Simatupang, aktor, sastrawan, budayawan

“Di buku ini, Whani sudah menyadarkan saya bahwa musuh terbesar dalam hidup adalah diri sendiri. Silat bukan soal olah fisik, lebih jauh dari itu. Silat adalah olah batin menuju penghayatan hidup.”

Hanung Bramantyo, sutradara film nasional

“Eksplorasi catatan personal yang mendalam, tetapi sederhana dari hubungan ilmu silat dan kehidupan. Refleksi yang sangat berhasil dari sebuah pengalaman hidup yang autentik.”

Ifa Isfansyah, sutradara film Pendekar Tongkat Emas

“Kehidupan manusia lima tahun mendatang sangat dipengaruhi oleh siapa gurunya saat ini dan buku apa yangsering dibacanya saat ini. Buku karya Mas Whani Darmawan ini adalah buku pas untuk Anda baca dan miliki, SEKARANG!”

Noeryanto A. Dhipuro, M.M., pengasuh dan penasehat Perguruan Pentjak Silat dan Pemberdayaan Diri Bayu Suci Malang, founder of Nusantara Shamanic Psychotherapy, Master Trainer Spiritual NLP.

“Filosofinya ciamik!!!”

Dewi Irawan, bintang film

“Jadi pengen belajar silat.”

Ine Febriyanti, aktris, sutradara

“Mengenal tubuh adalah perjalanan paling intim untuk memperoleh pengalaman rohani, merupakan olah jati diri yang tidak hanya menghidupkan gerak raga jiwa, tetapi juga mengolah kata hati dan akal budi manusia untuk menempuh darma. Whani Darmawan mengantarkan kita pada pemahaman yang lebih mumpuni tentang pelajaran tubuh melalui silat sebagai penghayatan hidup.”

Candra Malik, sufi

“Whani Darmawan memberi pencerahan kepada Anda dari pengalamannya berolah diri, pikir, tubuh, dan jiwanya bagi Anda, bukan teori, ini pengalaman, rasanya kemriuk gurih dan Anda tinggal menyantapnya. Selalu sehat dan lancar sukses.”

Istoto Suharyoto, Master Praktisi NLP, motivational trainer, communication specialist, meta-coach, tinggal di Yogyakarta

“Sekalipun bicara tentang tema yang sulit, tulisan ini sangat mudah dipahami, terasa ringan, dan menarik. Sehingga kita seperti dibawa menyaksikan pergelaran silat yang menakjubkan sekaligus secara bersamaan didongengi tentang makna yang terkandung dan berada di balik jurus-jurus yang saling melengkapi: menyerang dan bertahan, kekuatan dan kelenturan, membahayakan dan menyelamatkan.”

Puthut EA, penulis yang pernah sebentar belajar silat

“Membaca tulisan-tulisan Whani Darmawan dalam buku ini, membuat saya—yang tidak tahu menahu tentang silat—setidaknya paham, bahwa silat bukan cuma adu otot dan hal-hal kekerasan lainnya. Bagi pesilat sejati, silat bukanlah olah raga dan kekuatan fisik semata, silat adalah filsafat, jalan hidup. Itu yang saya pahami dari buku ini. Beruntung sekali orang yang bisa mengolah raganya dan mendewasakan jiwanya. Saya senang bisa belajar banyak. Angkat topi untuk Anda, Pendekar.”

Irwan Bajang, pegiat budaya baca tulis, tinggal di Yogyakarta

“Buku Whani dapat mengantar pembaca untuk menyadari sudut pandang yang sama sekali baru terhadap persoalan mereka dalam kehidupannya!”

Yoko Nomura, komponis musik kontemporer.

“Sepuluh persen hidup manusia dewasa itu perihal mengerjakan yang mereka disukai. Sembilan puluh persen tentang hal-hal yang tidak disukai tapi harus dilakukan. Bisa dibayangkan betapa susahnya menjalani hidup yang tidak kita sukai. Buku Whani Darmawan mendidik kearifan menaklukkan EGO. EGO itu maknanya Edging GodOut, menyingkirkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Silat yang sekilas tampak tidak ada urusan kerohaniaan sesungguhnya mengandung spiritualitas yang dalam. Tuhan bisa dihadirkan bila kita mampu menaklukkan EGO.”

J. Sumardianta, Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Penulis buku laris Guru Gokil Murid Unyu (2013), Habis Galau Terbitlah Move On (2014), dan Mendidik Pemenang Bukan Pecundang (2016).

“Sebuah proses lebih penting daripada capaian hasil yang dicanangkan. Menyadari proses selangkah demi selangkah maka yang didapatkan akan ‘dimiliki’ bukan sekadar ditangkap lalu lepas sebelum disadari. Ketekunan, kedisiplinan, dan kecerdasan sangat nampak dalam ulasan setiap teknik yang dipelajari, dan ini memudahkan kami, pembaca, berimajinasi terlibat dalam proses. Di setiap kesempatan berdiskusi tentang gerak dan ketubuhan tari dengan mahasiswa saya, buku berbobot ini selalu saya sodorkan untuk dibaca.:

Ni Nyoman Sudewi, dosen tari Institut Seni Indonrsia, Yogyakarta.

http://bentangpustaka.com/katalog/product/jurus-hidup-memenangi-pertarungan/

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.