Kaidah Pokok Seni Peran #2

(Diterjemahkan secara bebas dan diperluas oleh Eko Santosa dari The Golden Rules of Acting that Nobody Ever Tells You karya Andy Nyman © 2012)

  1. Sekolah Drama

Goerge Buns – seorang aktor, komedian, penyanyi, dan penulis berkebangsaan Amerika – mengungkapkan bahwa dirinya lebih suka gagal mengerjakan sesuatu yang ia sukai daripadai berhasil mengerjakan sesuatu yang ia benci. Seorang aktor oleh karena itu harus membina rasa suka (cinta) perihal seni peran yang digelutinya. Seni peran selalu fokus pada apa yang sedang dikerjakan (diperankan) sehingga aktor harus menganggap bahwa apa yang ia katakan, dengar, dan lakukan merupakan hal yang baru pertama kali terjadi sehingga selalu muncul ketertarikan dan kesegaran dalam bekerja. Kata kunci menjadi aktor dengan demikian adalah rasa suka dan kesungguhan, bukan di mana ia bersekolah.

baca juga : Kaidah Pokok Seni Peran #1

Jika seseorang tidak pernah bersekolah di sekolah drama atau institusi sejenis itu bukan berarti bahwa orang tersebut tidak bisa menjadi aktor profesional. Kondisi ini hanya menandakan bahwa memang orang tersebut tidak bersekolah di sekolah drama, itu saja. Namun jika seseorang ingin masuk ke sekolah drama, maka ia pun mesti berusaha sebaik mungkin untuk diterima. Perlu menjadi catatan tebal adalah; jangan pernah masuk sekolah drama hanya dengan keinginan menjadi terkenal. Menempatkan keinginan untuk bermain peran lebih dari apapun seharusnya menjadi satu-satunya alasan seseorang masuk sekolah drama. Pengalaman paling menarik dari sekolah drama adalah setiap siswa belajar dan terlibat dalam hal-hal terkait drama setiap hari. Jika Anda memiliki pengalaman semacam itu, maka perlu disyukuri dan disambut dengan kegembiraan karena belum tentu akan terjadi lagi.

Tidak semua siswa sekolah drama menggantungkan hidupnya dari bisnis seni peran pada akhirnya. Andy Nyman memiliki 25 siswa dan hanya 8 yang menggeluti bisnis seni peran dalam hidupnya. Selain itu, banyak aktor profesional yang tidak pernah menjadi murid sekolah drama sebelumnya. Sebagai contoh, di Inggris ada sekitar 22 sekolah drama (pada saat Andy Nyman menulis buku) yang menurut perkiraan akan melahirkan sekitar 550 sampai dengan 650 aktor baru. Apakah mereka semuanya akan hidup dari bisnis seni peran? Tentu saja tidak.

Di sekolah drama ada guru yang menyebalkan, ada yang menarik, dan ada yang istimewa. Jika Anda adalah siswa, maka jadikanlah pengalaman belajar dengan guru-guru tersebut sebagai bagian dari latihan penting yang mesti diikuti. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa seseorang yang berhasil diterima di sekolah drama bukan berarti bahwa ia memang patut dan bisa berkarier di dunia seni peran. Demikian pula sebaliknya, orang yang tidak bisa atau tidak berhasil masuk di sekolah drama belum tentu tidak bisa sukses bekerja di dunia seni peran. Di dalam sekolah drama sendiri, seseorang yang berhasil mendapakan casting (peran) bukan berarti ia akan menjadi aktor sukses, demikian pula dengan seseorang yang gagal mendapatkan casting bukan berarti pula ia tidak bisa menjadi aktor sukses.

Nyman, mengenai sekolah drama menuliskan demikian, “Anggaplah sekolah drama sebagai lelucon yang menyenangkan dan nikmatilah dengan penuh kegembiraan ketika menempuh pelajaran di dalamnya”. Sekolah drama bagi Nyman adalah salah satu wahana, kesempatan, dan ruang belajar tetapi bukan satu-satunya. Masih banyak waktu dan kesempatan di luar sekolah yang dapat digunakan oleh seseorang untuk belajar dan mengembangkan diri terkait seni peran.  

Michale Caine adalah seorang aktor profesional dan tersohor di dunia perfilman. Namun ia mengungkapkan bahwa sebagai seorang aktor berkemampuan, ia tidak lagi memperdulikan apakah ia memiliki bakat atau tidak karena itu merupakan satu hal lain yang perlu dikesampingkan. Apa yang dikatakan oleh Caine ini jelas menggambarkan kondisi seseorang yang memasuki dunia sekolah drama. Kecakapan yang didapat dari sekolah drama tidak serta merta menjadi ukuran kesuksesan seseorang dalam menempuh hidup di dunia seni peran. Nillai yang ingin disampaikan oleh Caine adalah kesungguhan usaha untuk mencapai kemampuan itu lebih penting dibanding bakat dan riwayat persekolahan. Tanpa usaha keras, semua bakat yang dimiliki tidak ada gunanya. Jadi, jangan terburu-buru untuk bangga hanya karena pernah bersekolah di sekolah drama.

==== bersambung =====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: