Kaidah Pokok Seni Peran #4

(Diterjemahkan secara bebas dan diperluas oleh Eko Santosa dari The Golden Rules of Acting that Nobody Ever Tells You karya Andy Nyman © 2012)

3. Melakoni Hidup

Satu anjuran pokok dalam melakoni hidup adalah keniscayaan membayangkan kesuksesan besar bersamaan dengan menyiapkan rencana jika seandainya gagal total. Kedua hal ini mesti ada, tidak boleh tidak. Bagaimana seorang aktor akan melakoni hidupnya? Bagaimana mencukupi kebutuhan hidup, membayar kontrakan, dan semua jenis pengeluaran? Rencana, oleh karena itu mesti dipersiapkan. Seorang aktor harus siap dengan rencana terburuk. Ia harus memikirkan bagaimana seandainya semua teman mendapatkan pekerjaan melalui agensi sementara ia tidak memiliki satu agen pun. Dengan menyusun rencana berdasar pemikiran semacam ini, aktor akan siap secara total menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

baca juga : Kaidah Pokok Seni Peran #3

Aktor harus mampu memproyeksikan sebuah perencanaan. Apa dan bagaimana ia akan hidup 10 tahun kemudian, 20 tahun kemudian? Apa yang akan dilakukan dan pekerjaan apa yang akan digeluti dan apakah itu bisa diwujudkan? Bagaimana usaha-usaha yang mesti dilakukan untuk mengarah ke rencana-rencana itu?. Kehidupan aktor tidak pernah mudah. Tantangan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari saja sudah terasa berat. Namun, tetap harus dikesampingkan hal tersebut demi menghadapi tantangan psikologis untuk tetap fokus, tidak ragu, dan takut dalam menghadapi hidup. Tidak boleh hal-hal semacam itu meruntuhkan semangat seorang aktor.

Banyak aktor melarikan diri dari tantangan psikologis semacam ini. Berdasarkan pengalaman, aktor yang melarutkan persoalan dalam alkohol dan obat-obatan akan kehilangan banyak daya untuk mengingat baris-baris kalimat dialog dan mempersembahkan akting ciamik ketika menginjak usia 50 tahun ke atas. Kondisi ini merupakan perusakan diri yang terkadang tidak disadari para aktor di usia muda dan masa sulitnya. Sebagian besar aktor muda membayangkan kesuksesan besar atau kegagalan sepenuhnya. Namun sebenarnya ada jalan lain bagi aktor untuk terus bertahan dengan melakukan pekerjaan lain demi melangsungkan hidup.

Seorang aktor harus tabah untuk terus melangkah dalam hidup dan menghidupkan seni peran. Tidak ada sesuatu yang datang secara cepat. Bahkan langkah tersebut terasa bagaikan maraton, lambat dan lama. Robert De Niro mendapatkan peran yang melambungkan namanya pada usia 30 tahun dalam film Main Streets. Samuel L Jackson berusia 40 tahun ketika berperan dalam Pulp Fiction. Katy Bates berada pada usia 42 tahun ketika bermain di Misery, sementara Morgan Freeman berusia 52 tahun ketika membintangi Driving Miss Daisy. Jika Anda seorang aktor, maka tak satu orang pun yang tahu hasil capaian karier Anda di kemudian hari. Anda harus mencintai dan menikmati perjalanan hidup Anda, itu saja. Ketahuilah siapa diri Anda – jangan pernah membandingkan dengan orang lain. Janganlah pernah membandingkan diri dan berkompetisi – Anda adalah diri Anda sendiri yang akan menjadi seperti diri Anda sendiri.

Statsitik cukup menakutkan tentang pendapatan para pekerja seni peran ditunjukkan di Inggris pada tahun 2010. Menurut data tersebut, rata-rata penghasilan 69 persen pekerja seni peran adalah di bawah atau berkisar 3000 Poundsterling per tahun, yang tentu saja tidak bisa dikatakan menggembirakan (menurut ukuran kehidupan di Inggris). Jadi, kemungkinan besar seorang aktor pendatang baru dapat digolongkan ke dalam pekerja seni peran yang 31 persen dengan pendapatan jauh di bawah 3000 Poundsterling per tahun. Sementara itu, sebagian besar aktor kurang bisa mengelola keuangan dalam hidupnya. Biasanya mereka meminta agen mengurusi persoalan pajak pendapatan sehingga yang mereka terima adalah gaji bersih yang pasti jauh lebih sedikit jumlahnya. Persoalan pendapatan yang tidak cukup menggembirakan ini mesti masuk ke dalam rencana kehidupan para aktor.

Terkait dengan persoalan kehidupan secara umum, seorang aktor juga harus bisa menjadwal ulang aktivitas kehidupannya. Terus menerus berusaha mencari pekerjaan seni peran (ikut audisi) juga merupakan satu hal yang mengganggu dan membuat hidup tidak nyaman. Satu kali waktu memang diperlukan untuk melepaskan diri sepenuhnya dari aktivitas mencari pekerjaan seni peran. Perlu diingat bahwa mengambil waktu untuk istirahat juga merupakan hal mewah bagi aktor. Sebab jika seorang aktor terus menerus bekerja sepanjang hari, maka tidak ada bedanya ia dengan pegawai kantoran.

Menjadi aktor yang terus-menerus mendapatkan pekerjaan dan upah tidaklah mudah. Satu hal yang patut dibanggakan jika bisa berada dalam kondisi seperti itu. Namun demikian, seorang aktor tidak bisa meremehkan tenaga yang diperlukan dalam berperan. Terus menjaga stamina adalah kunci agar tetap bisa bertahan di dunia seni peran. Jika seandainya Anda adalah aktor dan ingin menikah, punya anak, bepergian atau memanjat gunung, maka segera lakukanlah. Kesempatan menikmati hidup seperti itu tidak akan datang lagi jika Anda berada dalam kesuksesan karir. Jika pun muncul keinginan itu, Anda tidak punya waktu karena kesibukan yang Anda lakukan. Jadi nikmatilah hidup selagi bisa. Banyak cerita tentang aktor sukses yang menjadi bintang terpaksa mengambil waktu rehat dari pekerjaan terlalu lama karena merasa frustrasi dengan karirnya.

Di sisi lain, para aktor gaya lama akan berusaha mempertahankan karirnya mati-matian karena reputasi adalah segalanya. Seorang aktor harus menjaganya karena itu sesuatu yang sangat berharga. Sekali reputasi hilang, maka tak pernah akan kembali. Sementara di dalam perjalanan hidupnya, setiap aktor pasti memiliki waktu yang berat dan waktu yang baik dan keduanya amat diperlukan. Namun perlu diingat pula apa yang diungkapkan oleh peribahasa lama bahwa, seorang pelaut piawai tidak akan lahir dari laut yang tenang.

===== bersambung ====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: