Kaidah Pokok Seni Peran #5

(Diterjemahkan secara bebas dan diperluas oleh Eko Santosa dari The Golden Rules of Acting that Nobody Ever Tells You karya Andy Nyman © 2012)

4. Bisnis

Mark Twain, seorang penulis kenamaan Amerika, berkata bahwa semakin keras ia berusaha, maka semakin besar keuntungan mendekat padanya. Seorang aktor di dalam usahanya untuk mendapatkan keuntungan memerlukan visi. Ia harus menentukan hendak berkarir di mana, panggung, televisi, atau film layar lebar? Tanpa visi yang jelas akan banyak waktu terbuang percuma dalam perjalanan hidupnya. Seorang aktor harus memahami apa yang paling membuatnya bahagia di dalam hidup dan karir. Seorang aktor harus merasa bangga dengan karyanya dengan selalu melakukan yang terbaik. Jika seandainya menjadi aktor adalah karir, pekerjaan, dan kehidupan yang dipilih, maka tidak bisa tidak harus menyikapinya sebagaimana sebuah bisnis. Keputusan hidup merupakan hal yang penting, jadi harus benar-benar dipikirkan sebelum memutuskan diri untuk menjadi aktor.

Ketika mengikuti audisi, latihan dan tampil, seorang aktor harus berani mengambil risiko, paling-paling hanya akan mendapatkan rasa malu jika hasilnya jelek. Namun hal itu tidaklah mematikan. Mengambil risiko adalah memainkan peran seperti apa yang diyakini dan ditampilkan secara total. Kegembiraan untuk mencoba harus senantiasa dipelihara. Jika cobaan gagal dan tampilan dianggap jelek, maka jangan mengeluh. Tidak ada seorang pun yang senang dengan aktor yang suka mengeluh. Seorang aktor tangguh akan kembali bangkit, senyum, dan terus berusaha.

Di dalam kehidupan nyata, banyak aktor yang mendapatkan pertanyaan dari orang-orang tentang bagaimana cara dia menghafal teks dialog tokoh yang diperankan. Jawabannya hanya satu yaitu kerja keras, dan tidak ada jalan pintas untuk itu. Ketika naskah datang dan perlu untuk dipelajari, janganlah menghitung berapa baris kalimat dialog yang mesti dikuasai. Segeralah mulai mempelajari dan mengingat baris demi baris kalimat dialog tokoh yang akan diperankan. Kerjakan terus dari hari ke hari hingga semuanya dikuasai. Kerja semacam ini memang membosankan namun harus dilakukan. Ketika menjadi aktor adalah pilihan, maka semua hal yang terkait dengan keaktoran mesti dilakukan. Jika merasa tidak cocok atau senang segera saja tinggalkan dunia keaktoran karena sejatinya tidak ada orang yang memaksa seseorang untuk menjadi aktor.

Berdasar pengalaman Nyman, terdapat 12.500 lulusan sekolah drama semenjak ia sendiri lulus 25 tahun sebelumnya. Dari jumlah lulusan tersebut ada 8.100 orang yang meninggalkan atau sama sekali tidak berkecimpung dalam bisnis seni peran. Itu artinya, pilihan hidup menjadi aktor belum tentu cocok untuk semua orang. Jadi tidak ada salahnya  dan tidak pula memalukan jika lulusan sekolah drama bekerja di tempat atau bidang lain. Bahkan ketika menjadi seorang aktor pun, menanyakan apa kesibukan dan pekerjaan yang sedang dilakoni oleh aktor lain sangat tidak disarankan. Sebab hal ini seolah menandaskan bahwa aktor yang tidak memiliki kesibukan atau pekerjaan dalam satu proses produksi sebagai penganggur sehingga aktor hanya dihargai ketika sedang bekerja dalam satu proses produksi. Padahal, beristirahat dan tidak mengerjakan apapun juga merupakan hak hidup seorang aktor dan itu pun juga patut untuk dihargai.

Aktor adalah sebuah produk, sehingga menjadi produk terbaik adalah keniscayaan. Jika seorang aktor merasa tidak senang atau cocok dengan mitra kerjanya dalam satu produksi, maka kemungkinan orang lain pun akan berlaku sama terhadap aktor tersebut. Kaidah yang sangat sederhana, jika Anda membenci orang lain, maka orang lain pun akan membenci Anda. Keinginan besar (passion) adalah kunci. Jika seorang aktor tidak memilikinya, maka cita-cita tak akan teraih. Aktor harus mencintai pekerjaan dan semua yang melingkupi pekerjaannya. Ketika seorang aktor mendapatkan pekerjaan, maka tidak ada kata lain selain bekerja keras sehingga tim produksi merasa bahwa pilihan mereka tepat. Perlu diingat bahwa, “cukup baik” tidak akan pernah dianggap sebagai “cukup baik”, oleh karenanya diperlukan kesungguhan untuk menyajikan yang terbaik. Untuk memahami pekerjaan dan semua yang melingkupinya, aktor sebisa mungkin tidak hanya bergaul dengan para aktor dalam hidupnya. Bagaimana mungkin aktor akan memahami kehidupan nyata jika hanya bergaul dengan orang-orang yang terlibat dan melibatkan dirinya dalam dunia fiksi?

Di dalam melakoni bisnis seni peran, aktor tidak boleh melupakan catatan. Setiap audisi atau pertemuan mesti ditulis dalam catatan. Hal ini penting karena setelah 5 tahun berlalu banyak orang lupa, termasuk aktor tentunya, tentang peristiwa dan siapa saja yang pernah dan belum pernah dijumpai. Oleh karena itu dalam setiap pertemuan, seorang aktor mesti mencatat; siapa saja yang ditemui, lokasi dan tanggal pertemuan, pekerjaan dalam produksi apa yang ditawarkan, bagaimana pertemuan itu berlangsung, dan apa yang sesungguhya diinginkan oleh tim produksi. Kelihatannya ribet, namun hal ini sangat perlu dan aktor mesti melakukannya dengan penuh kegembiraan karena ini menyangkut karirnya.

Ada sebuah kasus menarik untuk memberikan gambaran bagaimana aktor mesti berlaku dalam bisnisnya. Misalnya, satu kali waktu Anda mengalami kebocoran pipa saluran air untuk mesin cuci di rumah. Seorang teman menyarankan untuk menghubungi Jack seorang tukang ledeng. Ia dapat membenahi kerusakan dengan baik namun datang sedikit terlambat, banyak cakap di telepon, sering mengambil waktu untuk rehat, dan meninggalkan tempat dalam kondisi sedikit kotor. Seorang teman lain menyarakankan untuk menghubungi Phil, juga seorang tukang ledeng. Ia datang tepat waktu, mampu membenahi kerusakan secara efeltif, dan meninggalkan pekerjaan dalam kondisi ruang bersih seperti semula. Kedua tukang ledeng tersebut bersedia dan memiliki standar upah yang sama. Nah, siapakah tukang ledeng yang Anda pilih untuk membenahi kerusakan, Jack atau Phill?

Kondisi kasus tersebut sepadan dengan dunia bisnis seni peran. Jika tingkat profesionalitas kedua tukang ledeng tersebut nyata adanya dan dalam ukuran yang sama, maka demikian pula keadaannya dengan tim produksi atau seseorang yang hendak menyewa jasa seorang aktor. Apakah aktor tersebut berlaku seperti Jack atau Phill itu menjadi pilihan Anda. Perilaku kerja seorang aktor sesungguhnya sangat mempengauhi seseorang dalam menggunakan jasanya. Perilaku ini mesti menjadi budaya. Walter Matthau, seorang aktor dan komedian kenamaan Amerika, memberikan pernyataaan bahwa seorang aktor dapat dikatakan sukses dalam bisnis pertunjukan jika ia mampu tampil dalam paling tidak dalam 50 pertunjukan yang melambungkan namanya. Jadi, menyajikan karya yang terbaik mesti menjadi budaya hidup seorang aktor.

==== bersambung ====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: