Kaidah Pokok Seni Peran #8

(Diterjemahkan secara bebas dan diperluas oleh Eko Santosa dari The Golden Rules of Acting that Nobody Ever Tells You karya Andy Nyman © 2012)

7. Teater

Aktor mesti bisa mencuri waktu pada saat jadwal latihan teater mulai dijalankan atau bisa menyempatkan diri untuk melatihkan wicara atau dialog panjang dan penting secara khusus. Cara ini dapat menambah kepercayaan aktor karena sebelum berhadapan dengan penonton sesungguhnya ia telah benar-benar paham apa yang mesti diucapkan. Dengan mengenali baris-baris kalimat dialog secara mandiri, aktor akan mendapatkan dorongan dari dalam sehingga mengurangi keraguan. Ia akan lebih mudah kemudian untuk beradaptasi ketika latihan bersama. Pekerjaan aktor di saat latihan adalah melupakan hal-hal yang kurang mengenakkan dan mencobakan semua gagasan, tidak perduli bagaimana anehnya gagasan tersebut, aktor harus terus mencobanya sampai menemukan sesuatu yang tepat, enak, dan menyenangkan untuk dilakukan.

baca juga : Kaidah Pokok Seni Peran #7

Proses latihan teater tidak akan pernah berjalan mudah. Tahap demi tahap latihan dilakukan dalam rentang waktu tertentu dan semuanya memiliki tantangan tersendiri. Latihan teknik merupakan salah satu tahap yang membutuhkan kesabaran dan daya tahan seorang aktor. Hal ini dikarenakan latihan teknik secara umum berjalan lamban karena penuh hal-hal teknis yang mesti disesuaikan. Aktor harus memiliki dan menggunakan selera humornya dalam sesi ini. Sebab jika tidak, bisa-bisa semangatnya akan mengendur atau malah mengalami tekanan mental. Cara yang mudah adalah dengan berusaha selalu menjaga hubungan dan kerjasama baik dengan seluruh kru panggung. Perlu diketahui bahwa para pekerja panggung itu bekerja terlalu keras dan jarang mendapatkan ucapan terima kasih. Dengan membina hubungan baik  semacam ini, aktor juga akan mendapatkan suasana gembira, berbagi humor, ketika bekerja dengan mereka. Namun ketika guyonan (humor) yang dilakukan berhasil meledakkan tawa, janganlah diterus-teruskan, tetap harus ingat akan waktunya latihan. Memaksakan humor terus-menerus akan menghabiskan waktu dan tenaga yang hasil akhirnya adalah munculnya kemalasan.

Panggung teater sangatlah menarik dan sebenarnya memikat hati. Mulai dari pintu depan auditorium, ruang ganti pemain, aroma belakang panggung yang khas hingga area panggung, semuanya memikat. Aktor harus benar-benar mencintai panggung ini atau kalau tidak ya, tinggalkan saja segera. Apa yang dikatakan Nyman ini mengindikasikan bahwa panggung merupakan kehidupan aktor di dalam teater. Jika aktor ingin hidup tentu saja harus mencintai kehidupannya, lain tidak.

Ketika aktor berada di atas pangung dalam pementasan sesungguhnya, dianjurkan untuk tidak berpikir tentang penonton melainkan memikirkan apa yang bisa dikembangkan dalam permainan (improve). Hal ini akan memberikan aktor dorongan untuk mewujudkannya di atas pentas. Pada saat pertunjukan selesai dan ada seorang teman yang kebetulan menonton, janganlah pernah mengatakan, “Malam ini kurang cukup baik kelihatannya”, atau, “Penontonnya kurang memahami pertunjukan”. Tidak ada seorangpun yang ingin mendengar hal ini karena justru akan memperlihatkan kelemahan aktor itu sendiri. Anjuran di dalam teater jelas mengatakan bahwa jumlah penonton tidak perlu dikhawatirkan, seberapapun yang hadir, aktor harus tampil 100 persen. Naiklah ke atas pentas dan sampaikan ceritamu, itu saja.

Pekerjaan seorang aktor di dalam pementasan adalah melakukan apa yang telah ia temukan dan lakukan selama latihan. Cobalah untuk melakukan sama persis dengan apa yang dilatihkan selama pementasan daripada selalu berusaha mencoba sesuatu yang baru, menyegarkan, dan menarik. Karena hal tersebut sangat berat untuk dilakukan, menantang, dan membutuhkan fisik dan mental kuat. Bukan berarti tidak bisa dan tidak boleh dilakukan melainkan memainkan peran persis seperti apa yang dilakukan sudah sangat cukup bagi pertunjukan.

Berikut ini merupakan kisah nyata yang disampaikan oleh banyak orang mengenai kecurangan yang mesti dilakukan aktor di atas pentas berdasar arahan sutradara.

Satu hari pada sesi arahan sutradara selepas dress rehearsal pada produksi “Henry V” di Royal Shakespeare Company. Sutradara memberi kalimat pengarahan kepada pemain untuk adegan pertempuran melelahkan yang baru saja dilakukan: “Demi Tuhan, pahamilah bahwa para prajurit tersebut baru saja melewati sebuah pertempuran dan mereka hendak kembali ke medan laga. Pada awalnya jumlah mereka adalah 300 orang dan menyusut drastis menjadi 50 orang. Mereka telah melewati kejadian berat, melihat teman-temannya dibantai dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri peristiwa mengerikan yang tak mungkin dilupakan dalam kehidupan. Oleh karena itu saya ingin melihat kondisi tersebut pada saat kalian berdiri, menatap, bernafas, dan beraksi. Saya memerlukan hal ini agar kebrutalan yang telah dlilaliui itu terlihat dan terasakan senyata-nyatanya. Juga jangan lupa lakukan sedikit kecurangan (dalam hal blocking) untuk memastikan bahwa kalian semua berada di lingkaran cahaya lampu”.

Satu arahan yang tedengar lucu karena sutradara menghendaki pemainnya bermain serealis mungkin namun di sisi lain meminta mereka untuk memperhatikan pencahayaan sehingga permainan perannya dapat dilihat penonton.

Jika Anda seorang aktor dan mendapatkan sutradara mengarahkan untuk mencoba hal baru, Anda harus melakukannya paling tidak 3 kali. Pertama, mungkin akan terasa sulit. Kedua, akan terasa sedikit mudah. Ketiga, akan memberikan ruang dalam pikiran untuk memberikan penilaian yang pantas atas uji coba tersebut. Perlu waktu untuk mengetahui apakah yang diarahkan sutradara itu tepat untuk dilakukan atau tidak. Jadi, tidak perlu terburu-buru menolak. Selepas latihan, ketika sutradara memberikan catatan (pengarahan) kepada semua pemain, aktor tidak boleh melupakan buku catatannya. Tidak perlu mendebat arahan sutradara tentang apa yang telah dilakukan dalam latihan terkait karakter dan semua aksi, langsung saja catat apa yang disampaikan. Jika tidak dicatat, maka kemungkinan besar Anda akan lupa.

Aktor mesti menjaga dirinya sendiri selama terlibat dalam produksi pertunjukan. Selalu menjaga kebugaran tubuh dan suara serta menyediakan vitamin yang cukup. Menciptakan persahabatan dengan semua yang terlibat bisa sangat membantu. Pada masa produksi ini para aktor akan memulai dan membina persahabatan seolah-olah tidak terpisahkan selamanya. Padahal menurut pengalaman, sebagian besar persahabatan itu berakhir ketika produksi juga berakhir. Hal yang sangat menyedihkan sekaligus menyenangkan dalam kehidupan dan pekerjaan aktor. Persis seperti apa yang disampaikan oleh Maggie Smith, seorang aktris Inggris kenamaan, bahwa ia menyukai segala sesuatu yang mengandung kesementaraan di dalam teater. Setiap pertunjukan itu bagaikan hantu – hadir, ada, dan kemudian menghilang begitu saja.

==== bersambung =====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: