Eduteater

Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (1)

Oleh: Eko Santosa

Tata panggung merupakan aspek tata artistik pokok dalam pementasan teater. Fungsi dasarnya adalah menghadirkan lokasi dari peristiwa yang ada di dalam lakon. Tata panggung adalah seni tersendiri yang dalam proses garapnya memerlukan keahlian berbagai bidang. Karena proses umumnya adalah menciptakan atau membuat, maka diperlukan keahlian merancang ruang luar dan dalam, teknik perkayuan, teknik melukis atau gambar, menata perabot, dan kerajinan tangan untuk menghadirkan hiasan-hiasan dua dan tiga dimensi. Dengan tata panggung, seni teater tampil seolah-olah berada di ruang atau lokasi senyatanya. Pandangan penonton akan diarahkan atau teralihkan dari fisik panggung tempat pementasan dilangsungkan. Tata panggung yang hebat menjadi daya tarik tersendiri bahkan ketika hadir tanpa pemain. Pada saat layar pertama dibuka, lampu menyinari ruang yang telah ditata sedemikian rupa akan menghadirkan karya seni memukau.

Di dalam perjalanannya, tata panggung teater mengalami banyak perkembangan terkait estetika dan teknologi. Kedua aspek tersebut mempengaruhi kebutuhan dan keinginan artistik sebuah pementasan. Teknologi memungkinkan terwujudnya tuntutan estetik (yang biasanya terkait dengan gaya pementasan) pekarya. Konsep baru yang berkaitan langsung dengan tata panggung pun dapat dimunculkan. Hal ini tentu saja akan membawa pengaruh pada pertunjukan itu sendiri. Misalnya, dalam pementasan konstruktivisme yang digagas oleh Meyerhold, tata panggung menghadirkan rangka-rangka yang disusun dan tata sedemikian rupa sehingga para aktor harus menyesuaikan laku aksinya. Karena adanya kemungkinan saling mempengaruhi inilah keberadaan tata panggung merupakan keniscayaan di dalam pementasan teater.

  1. Ruang, Waktu, dan Peristiwa

Ruang, waktu, dan peristiwa merupakan 3 aspek utama yang saling berkaitan dan mesti bertemu. Dalam logika realisme, ketiga aspek ini tidak bisa saling bertentangan dalam membentuk adegan. Artinya, apa yang ditampilkan di dalam pementasan teater mesti logis (dapat diterima sebagai realitas) antara peristiwa, waktu, dan ruang. Tata panggung dengan demikian benar-benar diuji untuk mewujudkan ketiga aspek tersebut dalam karyanya. Karena itu pulalah, penata panggung tidak bisa sembarangan menghadirkan tata ruang. Ia harus mencermati waktu dan peristiwa yang terjadi dan membawa akibat langsung atau tidak langsung terhadap ruang tersebut. Penelisikan secara detail perlu dilakukan, agar penonton percaya bahwa apa yang tersaji di atas panggung adalah kenyataan.

Berdasarkan tuntutan estetika semacam itu, penata panggung mulai berkreasi menghadirkan ruang nyata di atas pentas. Rumah harus tampil seolah-olah benar-benar rumah. Demikian juga dengan halaman, jembatan, lampu pinggir jalan, gedung-gedung menjulang tinggi, hutan sebagai latar belakang, dan lain sebagainya. Kewajiban menghadirkan kenyataan ini tak bisa dipungkiri membutuhkan kecerdasan spasial dan keahlian cipta-rupa. Jika ada perabot, peranti, atau bentuk bangunan yang tak sesuai dengan peristiwa dan waktu kejadian, maka tata panggung dianggap ikut andil dalam kegagalan menyajikan realita. Ilusi kenyataan itu, pokok utamanya bertumpu pada ruang yang ada, karena dimensi ruang selalu lebih besar dari dimensi pemeran di atas panggung. Apalagi drama realisme atau teater klasik menuntut lokasi kejadian yang hampir tidak bisa diumunculkan secara simbolik. Semua harus terlihat nyata.

Hal ini masih diperumit dengan tuntutan etika seni tata panggung di mana banyak perabot yang tidak diperkenankan dibuat dari bahan asli. Misalnya saja, gelas sebisa mungkin dihindari dari bahan kaca asli karena jika terjadi kesalahan pemain dalam menggunakan dan gelas tersebut jatuh, maka kaca yang berserakan akan sangat membahayakan. Kursi raja berkilau emas dan bertahtakan berlian jelas tidak bisa diwujdkan dari emas dan berlian asli karena selain harganya mahal secara esetetika hiasan apa saja yang asli, di atas panggung akan tampak bagaikan imitasi. Di sinilah letak keahlian dalam berkarya seni tata panggung. Apa yang dipresentasikan bukan merupakan benda asli namun harus terlihat seperti asli.

Kesatuan ruang, waktu, dan peristiwa memang seolah-olah bertumpu pada tata panggung. Karena itu, perhitungan artistik harus benar-benar matang. Sutradara tidak bisa sembarangan mengubah interpretasi atas peristiwa lakon ketika produksi sudah mulai berjalan karena hal ini akan berdampak pada penampilan tata panggung. Karena proses pembuatan tata panggung yang tidak sebentar serta biayanya yang tidak murah, maka perubahan konsep pemanggungan memiliki risiko besar.

Pengalaman teater amatir dalam menghadirkan tata panggung dalam koridor kemenyatuan ruang, waktu, dan peristiwa seringkali kurang mengindahkan estetika realis. Umum yang dilakukan adalah penataan perabot yang sudah ada sebelumnya sehingga proses membuat terlewatkan. Hal ini dilakukan biasanya karena alasan ketersediaan anggaran. Kelemahan mendasar dari proses atau teknik ini adalah perabot yang tersedia belum tentu sesuai dengan perabot atau benda hias lain dalam kerangkan ruang, waktu, dan peristiwa. Dikarenakan perabot hanya sekedar ditata dari yang sudah ada, maka kesesuaiannya dengan waktu dan peristiwa seringkali luput dari perhatian. Tata panggung menjadi hanya sekedar menyediakan keperluan dasar yang dituntut lakon. Tata panggung bukan lagi hadir sebagai seni melainkan sekedar penyedia jasa agar lakon dapat berjalan dengan lancar.

Proses umum lainnya adalah membuat tata panggung dari bahan seadanya dengan kemampuan seadanya pula. Seringkali di atas panggung sajian teater realis menjadi kurang mengena karena tata panggung yang dibuat seadanya. Rumah berdinding tembok dibuat dari bahan kardus namun karena cara mengecatnya kurang piawai atau teknik pembuatannya kurang memperhatikan dimensi akhirnya penonton tahu bahwa memang rumah itu terbuat dari kardus. Seni tata panggung yang semestinya memberikan ilusi realitas menjadi gugur dengan sendirinya.

Atas kondisi umum yang terjadi kemudian muncul pertanyaan besar mengenai mungkin tidaknya tata panggung realis dibuat/diproduksi dengan biaya yang tidak mahal? Tentu saja bisa karena estetika realisme yang menghadirkan kesatuan ruang, waktu, dan peristiwa dapat disikapi dengan tata panggung berkonsep realisme selektif atau realisme sugestif. Di dalam realisme selektif penata panggung menentukan ruang tertentu dari tata panggung yang dikerjakan secara lengkap sempurna dengan detail yang menampakkan kenyataan, sementara ruang selebihnya bisa sedikit diabaikan. Konsepsi ini tentu saja membutuhkan kejelian penata panggung dalam menganalisis lakon sehingga pemilihan ruang dapat menggambarkan keseluruhan ruang yang diperlukan dalam lakon. Sedangkan dalam realisme sugestif, penata panggung membuat keseluruhan ruang yang diperlukan namun hanya bagian tertentu dari ruang itu yang dibuat lengkap dan detail sementara bagian lainnya sugestif. Misalnya, lakon memerlukan ruang berupa rumah dan kamar-kamarnya, maka penata panggung membuat kesemua ruang yang diperlukan namun hanya dinding belakang rumah dan perabot yang benar-benar dibuat secara lengkap sementara dinding-dinding lain hanya dibuat dalam bentuk kerangka saja.

Kecerdasan penata panggung memang diperlukan dalam hal ini. Tuntutan untuk mewujudkan lakon di atas pentas harus dikonsep dengan baik. Tidak bisa seorang penata panggung hanya sekedar menyediakan barang yang dibutuhkan sesuai keperluan fungsional tanpa memperhatikan bentuk, warna, volume, gaya, dan keperluan artistiknya. Kesatuan ruang, waktu, dan peristiwa, apapun alasannya mesti dihadirkan ketika estetika pemanggungannya menuntut demikian. Penata panggung tidak bisa mengelak atau menyepelekannya dengan membuat konsep tersendiri yang berbeda dengan konsep penyutradaraan atau tata artistik lainnya. Penata panggung adalah seorang seniman yang memiliki tanggung jawab besar dalam sebuah pementasan teater. Karena kesenimanannya ini sebuah pementasan dapat tersaji padu di hadapan penonton.

==== bersambung ====

One thought on “Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (1)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.