Eduteater

Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (3)

Oleh: Eko Santosa

3. Tata Panggung dan Aktor

Tata panggung di dalam sebuah pementasan teater tidak hanya menampilkan keindahan secara mandiri namun juga memberikan ruang bermain bagi aktor. Ruang yang disediakan oleh tata panggung semestinya mengakomodasi gerak, laku dan perpindahan aktor dari satu titik ke titik lain. Dengan demikian, luasan serta susunan ruang tidak bisa menggunakan skala panggung kosong. Kehadiran aktor jika diberi ruang memadahi akan menghidupkan tata panggung, demikian juga sebaliknya.

Tata gerak aktor harus menemukan tempat yang tepat. Semua benda panggung yang ada mesti mendukung penampilan aktor. Namun demikian, dalam konteks tertentu, aktor harus menyesuaikan tata panggung karena kebutuhan artistik lakon. Misalnya, seorang aktor perlu berlatih melompati pagar yang terletak di pinggir jalan sesuai tuntutan lakon. Penata panggung akan membuat pagar sebagaimana mestinya dan aktor harus berlatih untuk dapat melompati pagar itu, bukan kemudian penata panggung akan menyesuaikan kemampuan aktor dalam melompat ketika hendak membuat pagar. Karena jika berlaku demikian, bisa jadi ukuran tinggi pagar tampak tidak layak di mata penonton.

Hubungan kerja antara penata panggung dan aktor sangat dekat karena saling membutuhkan. Penata panggung melayani aktor dalam hal ruang atau tempat dan aktor menyesuaikan dirinya untuk bergerak di ruang yang disediakan. Koneksi yang baik dalam pekerjaan mesti dijaga karena tidak menutup kemungkinan terjadinya penyesuaian-penyesuaian selama proses produksi. Kondisi penyesuaian ini mesti disikapi dengan bijaksana antara aktor dan penata panggung. Misalnya, dalam sebuah pementasan aktor diharuskan menata beberapa perabot sambil menari untuk mengubah gambaran lokasi. Penata panggung mesti tanggap dengan situasi ini sehingga memilih material yang ringan dalam membuat perabot. Namun jika perabot memang harus dibuat dengan material yang berat karena kondisi tertentu, penata panggung perlu memikirkan cara terbaik agar aktor dapat memindahkannya dengan gampang. Untuk jalan terbaik misalnya diputuskan memberi roda pada setiap perabot sehingga mudah untuk digeser. Ketika penyesuaian ini disepakati, aktor pun harus mengubah komposisi tarinya dari bergerak dengan mengangkat perabot menjadi menggeser perabot.

baca juga : Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (2)

Hubungan kerja tersebut harus dipandang secara egaliter, artinya tidak ada yang satu lebih tinggi atau terhormat dibanding yang lain. Konsepsi saling memahami dan saling menguntungkan satu sama lain harus dibangun. Meski demikian, tidak jarang terjadi, bahkan di dunia profesional, seorang aktor tidak disukai produser karena sering membentak pekerja panggung (staf penata panggung). Apalagi ketika aktor tersebut kemudian menyalahkan dan menilai pekerjaan penata panggung. Bisa jadi bukan penata panggung dan stafnya yang mendapat penilaian buruk dari produser melainkan justru si aktor. Kesalahan-kesalahan teknis semestinya saling dipahami dalam kerja kolaboratif seni teater. Penata panggung bisa saja salah dalam memindah perabot sehingga menyulitkan aktor atau aktor teledor sehingga membuat perabot atau peranti rusak karena tidak difungsikan sebagaimana mestinya.

Proses penyesuaian antara aktor dan tata panggung secara teknis terjadi pada saat latihan teknik. Dalam latihan ini, aktor mengenali, memahami, dan memfungsikan tata panggung dalam permainannya. Apa yang telah ia latihkan sebelumnya dihadapkan pada kenyataan panggung. Jika sebelumnya kursi yang digunakan dalam latihan sebelumnya misalnya adalah kursi kayu, maka dalam latihan teknik kursi yang digunakan adalah kursi nyata yang akan digunakan selama pementasan berlangsung. Semua benda panggung yang disusun dan tata adalah benda yang akan digunakan dalam pementasan.

Aktor harus benar-benar memahami hal ini dan tugas penata panggung adalah menjelaskan hal-hal teknis terkait tata panggung. Misalnya, penata panggung dapat mengingatkan aktor untuk tidak menggunakan tenaga sepenuhnya ketika meninju dinding pada saat peran mengharuskan untuk itu karena material yang dibuat bukan dari kayu melainkan kardus. Hal yang seolah remeh ini sangat penting untuk dilakukan karena jika aktor mengira bahwa dinding itu terbuat dari kayu dan dia meninju sekuat tenaga setara dengan kekuatan emosi yang ia keluarkan dalam berekspresi, bisa jadi dinding itu jebol atau menghasilkan lobang. Jika ini terjadi pada saat pementasan bisa dibayangkan betapa adegan dramatik itu akan berubah menjadi komedi. Dan hikayat komedi itu akan berlangsung terus selama aktor yang melakukan kekeliruan itu muncul. Betapa rusaknya kualitas pertunjukan itu kemudian hanya karena faktor pemahaman aktor atas material tata panggung yang digunakan. Ilusi realitas atau tipun mata yang mana merupakan kekuatan seni tata panggung menjadi hilang begitu saja. Proses poduksi yang memakan waktu, tenaga, dan biaya menjadi tidak ada artinya sama sekali.

Selain material, posisi atau tata letak benda serta perubahan set juga harus dipahami bersama. Bisa jadi apa yang telah direncanakan dengan baik oleh penata panggung masih memerlukan penyesuaian karena rancangan blocking yang berubah. Dalam latihan teknik, perubahan-perubahan kecil masih sangat dimungkinkan. Dalam fase latihan inilah kerja bersama antara aktor dan penata panggung sangat dibutuhkan. Tidak ada dan tidak boleh salah satu merasa lebih penting dari pada yang lain. Perubahan dan atau penyesuaian dilakukan untuk kebaikan bersama dalam konteks menjaga kualitas pertunjukan.

==== bersambung===

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.